
"Apa ya kado buat raja?."
"Duhh aku kalau mau ngasi kado pasti gak tau hadiah apa yang mau di siapin!."
"Gimana ya?.mau tanya siapa juga gak ada!."
Aku berfikir keras kado apa yang harus aku berikan kepada Raja.
"Ngasi baju kan gak mungkin,terus istrinya gimana?."
"Sepatu juga gak mungkin!."
"Kalau tas ya paling buat istrinya!."
"Apaan ya?."
"Ihhh kan gak mungkin gak ngasi kado!!."
"Cari apa ya mbak?."tiba tiba penjaga toko menghampiriku
"Eh itu mbak temen saya mau nikah,tapi bingung mau ngasi kado apa!."
"Kasih sesuatu yang bisa bermanfaat buat dia dong mbak dan sekaligus bisa jadi barang kenangan gitu!."
"Menurut mbak apa?."
"Misalnya album atau peralatan rumah tangga juga bisa sih mbak!."
"Peralatan rumah tangga?,kayak dia gak punya aja."
"Saya cuma kasi saran mbak!."
"Ngasi saran juga yang bener dong mbak!."
Aku meninggalkan toko itu dan mulai berkeliling di sekitaran jalan dekat toko tadi.Mataku terpacu pada sebuah toko yang menjual aksesoris.Aku masuk dan mulai mencari apa yang bisa aku jadikan kado pernikahan Raja.Mataku tertuju pada sepasang jam yang tampak elegan dan cantik.
"Bagus banget,apa aku kasi ini aja ya buat Raja kan dua jadi bisa buat Raja dan satu nya buat istri nya dia."
"Bener bener aku emang pinter!."ku bawa jam pasangan itu ke kasir sambil tersenyum.
"Mbak senyum senyum sendiri..pasti ini jam buat couple sama pacar nya ya?." mendengar perkataan kasir seketika senyuman ku pudar.Andai Farhan masih disini mungkin jam couple ini bakal jadi milik kita berdua.
"Ahh nggak mbak,ini buat hadiah pernikahan teman lagian saya gak punya pacar!."
"Maaf ya mbak kirain tadi buat pacarnya soalnya mbak bawa jamnya sambil senyum senyum sendiri!."
"Gak papa kok mbak,oh iya mbak bisa sekalian di bungkusin pakek kotak hadiah gak mbak?."
"Bisa mbak..sebentar ya."Aku menyerahkan ATM sebagai pembayaran.
"Ini mbak,terima kasih sudah berbelanja di toko kami!."
"iya sama sama mbak."
Aku keluar dari toko dan menunggu taxi di pinggir jalan.Aku gak bawa mobil soalnya tadi ke kampus di antar sama ayah dan toko nya juga gak jauh dari kampus jadi sekalian jalan.
"Besok resepsi pernikahan Raja, Farhan ada gak ya!."pikirku
"Ah sudah lah,lagian dia udah nikah!."
aku menghela nafas kasar.
Sebenarnya aku masih sangat ingin bertemu Farhan dan mendengarkan penjelasan nya,tetapi mungkin Farhan tidak akan mengatakan apapun.
Kalau dia emang niat ngomong dari awal dia pasti udah jelasin sama kamu Zahra jadi gak usah berharap lagi deh,buang semua fikiran kamu tentang dia.
Aku berbicara dengan diri ku sendiri dan merutuki kebodohan ku.
"Taxi,perumahan anggrek ya pak!."
"Iya mbak!."
__ADS_1
"Pak pak pinggir pinggir!."
"Kenapa mbak?."
"Itu kenapa ya rame rame."
"Gak tau mbak.."
"Saya turun disini aja pak!."
"Iya mbak."
Aku menyodorkan uang untuk membayar tagihan taxi lalu berlari menuju kerumunan.
"Kenapa ya buk rame rame?."
"Gak tahu Mbak katanya ada maling."
"Maling?berani bener siang-siang maling,emang maling apa buk?."
"Kurang tau mbak."
Karena tidak menemukan jawaban apapun aku menerobos kerumunan karena ingin tahu apa yang terjadi.Ku lihat seorang nenek-nenek duduk di atas tanah sambil menangis.
"Eh minggir minggir..."
"Kenapa neneknya duduk di tanah?."
"Ini nenek nenek maling mbak!!."
"Ha maling?."
Aku memperhatikan nenek itu dengan tatapan penasaran dan kudapati dia sedang memeluk sebuah roti.Aku bertanya lagi kepada warga yang sedang menghakimi nenek itu.
"Nenek ini maling apa?."
"Roti mbak!!." jawab seorang warga.
"Mbak gak tau ini nenek udah setiap hari maling roti di warung saya!."
"Cuma roti?,kalian hakimin dia kayak gini hanya karena sebuah roti!!."
"Kamu tau apa dia udah setiap hari maling kalau dibiarkan pasti bakalan keterusan!."
"Hahahah.."aku tertawa sinis kepada mereka semua.
"Kalian pernah nanya gak ini roti buat apa?."
Semua warga yang ada hanya diam.
Aku bertanya kepada nenek itu.
"Nek ini roti buat apa?."
"Buat makan nak..laper!."ucap nya sambil menangis.
"Alah emang nya kalau laper mesti nyuri,kamu kan bisa kerja!."Ucap pemilik warung dengan kasar.Aku mendengar kan nenek itu kembali berkata.
"Saya sudah cari kerja,tapi karena saya sudah tua dan tidak sanggup bekerja tidak ada yang mau menerima saya!."Hatiku terenyuh mendengar jawaban si nenek.
"Alah itu cuma alasan."
Mendengar ucapan pemilik warung aku kesal bukan main.
"Kamu bilang cuma alasan?."
"Iya dia cuma seorang pemalas!!."
"Kamu bilang nenek ini pemalas, apa kamu kenal dia?."
"Ya kita semua kenal rumah nya ada di ujung jalan!."
__ADS_1
"Terus bagaimana kondisi kehidupannya?."
"Apa hidup berkecukupan, kaya atau ada keluarga yang menghidupinya?."
Semua orang terdiam mendengar perkataan Zahra.
"Kenapa diam,jawab!!!."
"Kalau dia hidup berkecukupan dan punya keluarga yang menafkahi nenek ini gak bakal maling!."
"Aku tanya dia punya keluarga gak?."
"Gak ada mbak."kata salah satu warga.
"Kalian tahu dia hanya sendiri tidak punya siapa yang bisa diandalkan.Apa kalian pernah bersimpati sedikitpun kepadanya atau hanya sekedar menanyakan apa dia udah makan apa belum!."
"Apa kalian yang sebanyak ini tidak bisa bergantian memberinya makan.Tetangga macam apa kalian.Bahkan hanya karena sebuah roti yang ingin dia makan kalian sampai menghakiminya nya!."
"Dimana hati nurani kalian?."
"Kalau kalian tidak bisa memberinya sepiring nasi,apakah kalian juga tidak bisa melaporkan keadaan nya kepada RT agar dia bisa lebih memperhatikan warga nya agar mendapatkan subsidi dari pemerintah!!."
"Apa pernah kalian melakukan itu.Sedikit pun kalian tidak punya rasa kemanusiaan.Kalian lebih rendah dari binatang!."
"Berapa roti yang nenek ini ambil,saya bayar semuanya!!!."
Aku mengambil beberapa uang dan memberikan nya kepada pemilik warung.
"Saya rasa ini cukup untuk membayar roti yang diambil nenek ini atau bahkan lebih!."
Aku membantu nenek itu berdiri dan membawa nya menjauhi kerumunan.
"Makasi ya nak sudah bantu nenek.Tapi kamu tidak seharusnya seperti itu, ini memang salah nenek karena mencuri.."
"Sudah la nek..nenek mencuri bukan untuk kaya tetapi untuk bertahan hidup itu gak salah."
"Makasi ya nak..masih ada orang baik seperti kamu.."
"Gimana kalau nenek tinggal di rumah Zahra?."
"Gak usah nak nanti nenek nyusahin!."
"Gak kok nek Zahra malahan seneng banget nenek mau tinggal sama Zahra!."
"Terima kasih nak Zahra tapi nenek gak mau nyusahin kamu.Nenek gak apa apa tinggal di rumah nenek sendiri!."
"Kalau nenek gak mau Zahra gak akan maksa.Tapi Zahra anterin nenek pulang ke rumah ya."
"Iya nak.."
"Rumah nenek dimana?."
"Rumah nenek di ujung jalan sana."
"Ayo nek Zahra bantu."
Aku menggandeng nenek itu berjalan menuju rumah nya.Aku memandangi rumah nenek ini, walaupun sederhana tapi masih layak dihuni.
"Hanya ini satu satu nya harta yang nenek miliki,yuk masuk nak!."
Aku masuk ke dalam rumah nenek ini bahkan tak ada apa apa di dalam selain sebuah lemari tua dan tikar yang aku yakin itu pasti alas tidur si nenek.Sedang asik berbincang tiba tiba ponsel ku berbunyi.
"Sebentar ya nek!."
"Iya buk iya ini mau pulang!."
Ibuku menelpon meminta ku bergegas pulang karena hari sudah mulai gelap.Dan aku tidak memberi kabar kalau aku pulang terlambat.Ibu jadi khawatir.
"Nek Zahra pamit pulang ya soalnya udah di cariin sama ibu."
"Iya nak kamu hati hati..terima kasih udah bantuin nenek!."
__ADS_1
Aku berpamitan dengan nenek itu dan bergegas pulang ke rumah dengan ojek yang ada di simpang jalan.Tetapi aku masih khawatir dengan keadaan nenek itu.