
"Ardila!."
"Aku fikir kamu udah lupa sama aku, Yazdan."
"Ngapain kamu disini?."
"Yazdan aku bener-bener minta maaf sama kamu.Itu semua salah paham."
"Salah paham kamu bilang... Jelas-jelas di depan mata aku kamu pegang tangan selingkuhan kamu itu."
"Dan bisa gak sih kamu dengerin penjelasan aku dulu."
"Gak ada yang perlu di jelasin.Aku gak mau denger apa pun lagi dari mulut kamu."
"Tapi Dan...."
"Ayo Zahra kita pergi dari sini."Yazdan menarik tangan Zahra dan mengajak nya untuk pergi.
Tiba-tiba langkah nya terhenti karena merasa mendengar suara yang dia kenal sedang memanggil nya.
"Yazdan tunggu!."
"Kenapa kamu bisa ada disini fi."
"Aku tau kamu marah sama Ardila,tapi kamu juga gak bisa memutuskan semuanya secara sepihak."
"Maksud kamu apa fi,kamu juga tahukan kalau waktu itu...Udah la aku malas membahas hal ini lagi."
"Yazdan kamu mungkin salah paham,coba kamu kasih satu kesempatan buat Ardila jelasin semuanya!."
"Apa diantara kami berdua masih ada yang perlu dijelaskan!.Udah la fi,gak usah belain dia."
"Aku gak bisa gak belain dia Dan.Kamu kan tau kalau kamu itu temen aku.Begitu juga Ardila,kalian sama Yazdan."
"Apa kamu masih mau temenan sama tukang selingkuh ini?."
"Yazdan kalau kamu mau menghina orang lain kamu mikir dong.Kamu gak tahu apa-apa tapi langsung nge-judge aku sesuka kamu.Kamu kan yang gak pernah mau dengerin penjelasan aku.Kamu hanya percaya sama yang kamu lihat.Okey kalau menurut kamu aku orang yang seperti itu,terserah.Mulai hari ini aku juga gak bakal pernah jelasin apapun lagi."Berpura-pura menangis.
"Yazdan kamu kenapa sih gak mau dengerin penjelasan Ardila.Setelah kamu tahu,kamu bebas dengan keputusan kamu."
"Yang di omongin sama Dafi ada benernya Dan,kamu coba dengerin penjelasan dia dulu."pujuk Zahra.
"Cuma satu menit waktu kamu buat jelasin!."
"Thanks Dan udah kasih aku kesempatan."
"Aku gak butuh ucapan terimakasih kamu,aku cuma butuh penjelasan."
"Sebenarnya waktu itu kamu udah salah paham sama aku."
"Salah paham yang seperti apa yang kamu maksud?."
"Dan ini semua gak seperti yang kamu fikirin."
__ADS_1
"Apa kamu tahu apa yang aku fikirkan."
"Yazdan,biarin Dila ngomong dulu."sela Dafi.
"Waktu itu Bastian yang pegang tangan aku.Dia bermaksud mau nembak aku.Tapi aku langsung menolak karena aku udah punya kamu.Tapi dia masih pegang tangan aku dan berharap kalau aku bisa terima dia.Setelah itu kamu tahu kan apa yang terjadi.Kamu tiba-tiba datang dan menuduh kalau aku khianatin kamu."
"Penjelasan nya udah selesai kan."
Ardila hanya mengangguk.
"Sekarang mau kamu apa dengan semua penjelasan ini."
"Yazdan apa kamu gak bisa maafin aku.Ini semua hanya kesalahpahaman aja.Aku mohon sama kamu."
"Aku udah maafin kamu.Udah selesai kan?."
"Yazdan apa kita gak bisa kembali seperti dulu lagi?."
"Ayo Zahra."Yazdan tidak menjawab dan malah mengajak Zahra pergi dari sana.Melihat Yazdan yang menjauh Ardila menjadi sangat kesal.
"Ah gagal,gimana dong fi.Gue udah capek-capek akting malah gak berhasil."
"Kamu tentang aja, tujuan kita bukan buat kamu langsung balikan sama Yazdan.Tapi membuat sedikit keraguan di diri Yazdan biar dia gak bisa terima Zahra saat ini."
"Terus apa rencana kamu selanjutnya?."
"Kamu tenang aja,aku udah janji bakal buat kamu sama Yazdan balikan.Jadi aku sudah mempersiapkan rencana ke depannya."ucap Dafi sambil tersenyum licik.
"Karena aku punya dendam sama Yazdan,sebelum dendamku terbalas kan aku gak akan pernah berhenti."Dafi menatap kosong ke depan dengan tatapan penuh kebencian di matanya.
.
.
.
.
.
Di dalam mobil
"Yazdan."
"Kenapa Za?."
"Sejak keluar dari cafe tadi wajah kamu kok di tekuk terus."akhirnya Zahra berani bertanya setelah beberapa saat memperhatikan perubahan raut wajah Yazdan
"Gak papa kok Za."ucap Yazdan sambil menyunggingkan senyuman tipis.
"Kamu yakin,kalau mau cerita aku bisa dengerin kok."
"Makasi ya Za.Tapi aku gak bisa cerita."
__ADS_1
"Gak papa kok,lain kali kalau kamu mau cerita aku siap.By the way tadi kamu mau ngomong apa?."
"Gak kok,bukan apa-apa cuma masalah sepele."
"Oh gitu...Terus kita mau kemana?."
"Maaf ya Za,aku antar kamu pulang aja.Aku lagi gak ada mood buat ajak kamu jalan-jalan,ntar kamu malah jadi bosan sendiri."
"Gak papa kok Dan aku ngerti perasaan kamu."
"Zahra,makasi ya udah terus mengerti semua tentang aku."
"Sebagai teman itu hal yang wajar."
"Iya.."ucap Yazdan sambil tersenyum pahit.
Hening.Zahra membiarkan Yazdan tenggelam dalam fikiran nya sendiri.
Setibanya di rumah Zahra dia langsung turun dari mobil dan tak membicarakan apapun lagi mengenai masalah tadi.
"Makasih ya Dan udah ajak aku jalan."Yazdan membalas dengan tersenyum tipis.
"Masih belum bisa di anggap jalan,soalnya gak sesuai rencana."
"Gak papa kok,begini aja aku udah seneng."
"Aku pulang ya."
Zahra mengangguk.Yazdan meninggalkan perkarangan rumah Zahra diiringi dengan lambaian tangan Zahra.
Di perjalanan pulang dia terus memikirkan apa yang dikatakan Ardila.Saat itu dia hanya emosi sesaat dan tidak mau mendengar kan penjelasan dari Ardila.Walaupun sudah beberapa kali Ardila menemui nya untuk menjelaskan semuanya,tetapi Yazdan selalu menolak dan bahkan meminta Ardila menjauh dan tidak pernah muncul di hadapannya lagi.
"Seharusnya waktu itu aku lebih bersikap dewasa, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
"Yang dijelaskan Ardila juga ada benarnya."
"Selama ini aku fikir dia sudah menjauh dan bersama laki-laki itu.Ternyata aku salah,sampai sekarang dia masih ingin menjelaskan semua yang terjadi."
"Rasanya tadi aku ingin sekali memeluk nya."
"Tapi entah kenapa,tangan ku kaku seperti tidak rela."
"Apa yang harus aku lakukan,di satu sisi aku sudah menaruh hati pada Zaha dan disisi lain aku masih mengharapkan Ardila."
"Aku tidak mau perasaan ku terhadap Zahra hanya akan membuat banyak orang yang terluka."
"Kenapa aku begitu bodoh melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu."
Yazdan terus berbicara di dalam hati.Dia merutuki kebodohan nya selama ini karena ditutupi rasa cemburu yang berlebihan.
"Zahra maaf,untuk saat ini aku masih belum bisa memberitahu kamu perasaan ku yang sebenarnya.Karena aku sendiri masih belum yakin dengan diriku."
Yazdan menginjak gas mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.Saat ini dia sangat kesal bukan kepada Ardila,melainkan kesal terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1