
"Aku balik duluan."
"Hati-hati sini koper nya aku yang bawa!."
"By the way pacar kamu mana,mau pamit nih."
"Pacar pacar enak aja kalau ngomong."
"Terus apa dong."
"Kan aku udah ngomong, kita cuma temen.Lagian kenapa kamu tanyain dia, cemburu.Takut aku disini berduaan sama dia terus."
"Siapa juga yang cemburu sama kamu,ogahhh."
"Itu di mulut aja,dihati beda lagi."
"Sok tau!."
"Hati kamu masa aku gak tau."
"Udah deh ngomong nya, buruan masukin kopernya ke bagasi."
"Udah ni."
"Makasi ya."
"Nyetir nya pelan, hati-hati!."
"Iya iya makasi Aryan udah temenin jalan-jalan."
Aryan melambaikan tangan.
Zahra melajukan mobil nya keluar dari hotel.
"Huh akhirnya semua kelar,tinggal santai aja."
Sepintas bayangan Yazdan berputar di fikiran Zahra.
"Kok aku mikir Yazdan."
"Apa aku rindu ya sama dia?."
"Kalau di fikir fikir, Yazdan udah sering bantuin aku.Tapi aku nya gak nunjukin ketulusan aku buat bilang terima kasih."
"Tapi aku gak mau balas dia ngelakuin sesuatu sebagai ucapan terima kasih dia nya malah nolak."
"Awalnya aku sama dia juga bukan siapa-siapa,ntah kapan kita jadi dekat."
Zahra mengingat kembali awal dia bertemu dengan Yazdan,dulu nya mereka lebih sering bertengkar dari pada akrab satu sama lain.
Salah satu pusat perbelanjaan oleh-oleh Bandung.
Saat jalan-jalan kemana pun pasti kita tak bisa lepas dari oleh-oleh,begitu pula zahra.Saat ini dia sedang sibuk memilih oleh-oleh di sebuah pusat perbelanjaan Bandung yang khusus menjual oleh-oleh khas Bandung.
"Beli apa ya?."
"Pisang bollen aja ya,kan khas Bandung banget."
"Buat di rumah,buat Karina, Salsa,Dafi, Safira dan Yazdan juga."
Zahra selesai membeli oleh-oleh dan akan segera keluar dari pusat perbelanjaan.Ketika hendak berjalan ke arah pintu dia melihat gantungan kunci khas Bandung.
"Imut banget,beli dua deh."
Zahra segera ke kasir membayar semua pesanannya.Dengan senyum yang mengembang di wajahnya,dia melajukan mobilnya kembali ke Jakarta.Dia tak langsung kembali ke rumah.Masing-masing oleh-oleh yang dia siapkan langsung di antar ke rumah teman-temannya.
Satu persatu oleh-oleh sudah diantar, hanya tersisa punya Yazdan.Dia kembali melihat gantungan kunci yang di belinya tadi.Dia bertekad akan memberikan satunya untuk Yazdan sebagai tanda terima kasih.Walaupun tak seberapa tapi ini bisa dia jadikan sebagai perantara terima kasih nya kepada Yazdan.
Di rumah Yazdan.
"Nih buat kamu!."
"Kue?."
"Iya."
"Kok tiba-tiba ngasi kue sih,ada udang di balik batu ya."
__ADS_1
"Nggak,"
"Terus dalam rangka apa?."
"Aku kan habis nyelesaiin tugas di Bandung,jadi sekalian aja beli oleh-oleh."
"Tapi kalau oleh-oleh aku rasa lebih bagusan benda yang bisa di simpan dan di ingat."
"Ini buat kamu!."
"Eh aku cuma bercanda aja kok."
"Gak kok,aku emang uda niat mau ngasi ini buat kamu bukan karena perkataan kamu yang tadi."
"Beneran buat aku?."
"Iya."
"Makasi banget ya Zahra."
"sama-sama."
"Diminum air nya Za."
"Iya makasi ya Aryan."
Zahra meneguk segelas minuman yang sudah di suguhkan Aryan.
"Kamu kefikiran apa beliin aku ini?."
"Gak ada kok, cuma pengen beli aja."
Lebih baik di tutupin dari padaa dia tahu kalau aku ngasi ini sebagai tanda permintaan maaf,malah nanti dia gak jadi terima.
"Thanks ya Za udah ingat sama aku."
"Ya ingat dong kamu kan temen aku dan juga bisa di bilang penyelamat."
"Penyelamat apanya?."
Zahra hanya tertawa
"Aku boleh pinjem toilet nya sebentar."
"Boleh,yang gak boleh itu di bawa balik."
"Siapa juga yang mau bawa-bawa toilet."
"Siapa tahu!."
Zahra melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?."
"Toilet."
"Emang tau?."
"Mmm tau."jawab Zahra kaku karena malu.
Bagaimana mungkin dia tahu dimana kamar mandi Yazdan sementara dia baru dua kali datang ke rumah itu dan hanya duduk di ruang tamu.
"Itu mau kemana?."
"Kan aku udah ngomong mau ke toilet!."
"Iya terus kamu ngapain kesana!."
"Maksudnya?."
"Toilet kan di sebelah sana."
"Oh iya aku lupa."
"Lupa?."
"Udah ah aku kebelet nih."
__ADS_1
Zahra pergi meninggalkan Yazdan yang sekarang sudah menertawakan sikapnya yang berpura-pura menahan malu.
"Zahra Zahra apa susah nya sih ngomong gak tahu."Gumam Yazdan.
Zahra berjalan cepat menuju kamar mandi.Dia tak ingin Yazdan melihat wajahnya yang merah seperti tomat.Dia merasa kan pipinya panas,saat dia bercermin di kaca kamar mandi wajah merah nya terlihat jelas.
"Yazdan gak liat kan? malu banget mau keluar."
"Lagian kenapa sih aku pakek sok tau segala lagi,kan jadi aku yang malu sendiri."
Zahra mencuci mukanya agar wajah nya yang memerah menjadi normal kembali.Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu.Dia berjalan dengan ekspresi yang sudah di ubah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Udah selesai?."
"Udah kok, thanks ya kamar mandi nya."
"Tapi kamu gak papa kan?."
"Gak papa kok."
"Bagus deh."
"Tapi kenapa kamu bertanya begitu."
"Gak kenapa-napa sih, hanya saja kalau kamu kebelet kenapa muka yang dicuci."
"Kan aku dari kamar mandi sekalian dong."
"Oh gitu ya udah duduk, ngapain kamu berdiri?."
"Ah oh iya.."jawab Zahra celingukan.
Zahra duduk di sofa tapi dia merasa masih sangat canggung.
"Kenapa kamu ke Bandung gak ngasi tau aku?."
"Emang kenapa?."
"Kan aku bisa temenin kamu."
"Gak ah kamu pastinya punya banyak kerjaan,kalau kamu nemenin aku yang ada waktu kamu terbuang sia-sia."
"Gak ada yang sia-sia kalau itu berhubungan dengan kamu."
Wajah Zahra yang tadi sudah normal sekarang kembali memerah karena perkataan Yazdan.
"Kok wajah kamu merah?."tanya Yazdan yang pura-pura tidak tahu.Dia hanya ingin menjahili Zahra.
"Kamu demam?."
"Nggak kok,ini cuma karena cuacanya agak sedikit panas aja."
"Panas? rumah aku pakek AC loh."
"Ah itu aku cari angin di luar dulu."Zahra keluar dari rumah Yazdan berpura-pura mencari angin, padahal dia hanya ingin menghindari Yazdan saja.
"Aku apaan sih Yazdan ngomong gitu aja langsung baper,muka jadi merah bikin malu tau nggak."
"Kalau begini terus gimana cara nya aku ketemu Yazdan lagi."
"Zahra,udah dingin gak panas lagi?."
Duh dia kok dateng sih..
Santai Zahra santai jangan lebay..
Zahra menghembuskan nafas sebelum menjawab pertanyaan Yazdan.
"Udah kok udah lebih baik."
"Kalau gitu ayo masuk."
"Gak deh Dan,aku langsung balik aja.Ntar orang tua aku khawatir,karena dari Bandung aku belum balik ke rumah."
"Ya udah terserah kamu aja."
"Aku pamit ya."
__ADS_1
"Hati-hati!."
Zahra melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Yazdan.Sementara Yazdan masih senyum-senyum sendiri melihat tingkah Zahra.