Zahra'S Ark Of Love

Zahra'S Ark Of Love
Keinginan Ardila.


__ADS_3

Keesokan harinya di cafe tempat mereka janjian.


"Disini Yazdan."ucap Ardila sambil melambaikan tangan.


Yazdan berjalan ke arah Ardila dan duduk di kursi yang berhadapan dengan nya.


"Kamu sudah menunggu lama?."


"Iya.."


"Kenapa kamu datang lebih awal dari waktu kita janjian?."


"Karena aku terlalu bersemangat buat ketemu kamu!."


Yazdan tersenyum kecut mendengar jawaban dari mulut Ardila.


"Ardila sebenarnya..."


"Kamu pesan makanan dulu."ucap Ardila menghentikan kata-kata Yazdan.


Yazdan hanya mengangguk dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Beefsteak medium rare with green apple juice."


"Sebentar ya mas."


Yazdan tersenyum tipis dan pelayan itu segera pergi melaporkan pesanan.


"Mmm Ardila..."


"Yazdan kamu tau nggak,aku seneng banget saat kamu menghubungi aku tadi malam.Apalagi kamu ajak aku ketemuan."


"Ardila sebenarnya..."


"Kamu tau nggak selama beberapa tahun ini,aku selalu membayangkan kita makan berdua lagi seperti saat ini.Kamu tau kan betapa bahagianya aku sekarang."memotong pembicaraan Yazdan.


"Gue harus gimana,kalau begini terus aku makin gak tega untuk membicarakan masalah ini dengan Ardila..


Apa untuk saat ini aku biarin dulu,sampai waktunya tepat baru aku jelasin semuanya."batin Yazdan


"Yazdan kamu kok diam aja?."


"Ah gak papa kok."


"Dan,apa selama aku pergi kamu pernah pacaran lagi?."Yazdan menggeleng.


"Ternyata Dafi bener, walaupun waktu itu Yazdan marah banget sama gue.Tapi dihatinya sekarang cuma ada gue satu-satunya."Bisiknya dalam hati.


"Kenapa?."


"Karena belum ketemu yang cocok."


"Terus apa sekarang sudah ada?."


"Ada."ucap Yazdan sambil tersenyum dan membayangkan wajah Zahra.

__ADS_1


Tuh kan apa gue bilang, begitu gue balik Yazdan langsung buka hati.Artinya waktu itu dia gak bener-bener benci sama gue dong..


Kayaknya gue bakal berhasil dapetin Yazdan kembali.


"Siapa?."


"Seseorang yang akhir-akhir ini ngisi hari gue."


Tuh kan dia pasti terus mikirin gue di setiap ucapannya dia.


"Kamu sendiri?."


"Semenjak kamu mutusin aku waktu itu dan gak mau mendengar penjelasan aku lagi,aku mutusin buat pergi dari Jakarta."


"Berarti kamu baru balik ke Jakarta?."


"Iya, beberapa tahun ini aku tinggal di Bali."


"Maafin aku ya,karena aku kamu jadi harus menjauh."


"Nggak sepenuhnya karena kamu.Lagian aku emang mau kuliah di Bali waktu itu."


"Terus kenapa kamu balik ke Jakarta? apa kamu sudah selesai wisuda?."


"Udah."


"Sarjana?."


"Bisnis manajemen ."


"Kamu tau nggak,waktu itu aku berharap banget kamu bisa datang saat acara wisuda nya aku.Tapi kemudian aku sadar,kalau semua itu cuma angan-angan aku doang."


"Maaf ya Ardila,aku yang terlalu mudah emosi dan mengambil keputusan dengan terburu-buru."


"Gak papa kok Dan,kita juga bisa mulai dari awal."


Senyum terpaksa terlihat jelas di wajah Yazdan.Kata-kata Ardila seperti pukulan berat bagi nya.Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.Tidak mungkin baginya menolak Ardila yang faktanya pernah menjadikan hari-harinya indah dan membuat perempuan itu terluka untuk kedua kalinya.Tapi tak bisa Yazdan pungkiri, hatinya sudah tidak ada Ardila lagi.


"Yazdan kok kamu diam,aku tau kok waktu itu salah aku tidak langsung menjelaskan semuanya yang membuat kamu jadi salah paham sama aku.Kalau kamu masih marah sama aku dan gak mau kita bersama untuk saat ini,aku bisa menunggu sampai kamu bisa terima aku lagi."


Yazdan tak tahu harus menjawab apa.Dia hanya bisa tersenyum kecut kepada Ardila.


Ardila menyadari ekspresi tak bersahabat Yazdan dia mulai menebak-nebak apa yang difikirkan Yazdan saat ini.


Sepertinya Yazdan tidak berniat buat balikan sama gue.


Tapi apapun yang terjadi aku harus bisa dapetin Yazdan kembali..


Ini juga hanya baru permulaan,kalau langsung selesai sepertinya gak ada tantangan sedikitpun.


"Ini mas pesanan nya."ucap seorang waiters sambil menyodorkan piring berisi yang dia bawa diatas nampan.


"Terima kasih ya mas."


"Yazdan."Panggil Ardila saat Yazdan masih setia dengan fikirannya sendiri.

__ADS_1


"Eh maaf ya Ardila aku kurang fokus."


"Kamu makan dulu."Yazdan mengangguk.


"Sebenarnya kamu mikirin apa sih?.Aku kan disini tapi sepertinya fikiran kamu gak disini!."


"Maaf ya Ardila aku gak bisa fokus ke kamu."


"Yazdan,berapa kali aku ngomong kami jangan panggil aku Ardila.Aku merasa asing banget kalau kamu panggil nama lengkap aku."


"Okey Dila,udah bener kan?."Ardila tersenyum muram.


"By the way apa kegiatan kamu sekarang?."


"Aku bantuin mama buat ngurus perusahaan."


"Kenapa bukan kamu aja yang ambil alih keseluruhan?."


"Aku masih belum terbiasa,lagian mama masih muda jadi masih sanggup ngurus perusahaan.Itung-itung sampai aku bisa membiasakan diri.Kamu sendiri gak ada kegiatan?."


"Aku tetap sama seperti dulu,jadi beban keluarga."


"Saat ini kamu beban,tapi pasti nanti kamu yang akan jadi kebanggaan di keluarga kamu."


"Thanks support nya."


"Oh iya kenapa kamu gak coba lamar di perusahaan mama,kalau aku gak salah ingat saat ini sepertinya perusahaan lagi butuh karyawan."


"Kamu serius?."


"Iya,nanti aku bakal kasi tau sama mama kalau kamu mau melamar."


"Gak usah Dan,aku sendiri aja.Nanti mama kamu berfikir kalau aku masuk perusahaan mengandalkan kamu.Lebih baik aku sendiri yang datang ke perusahaan kamu.Jadi aku bisa menunjukkan kemampuan aku sendiri."


"Terserah kamu aja.Jujur aku suka dengan kepercayaan diri kamu seperti ini."


"Apa yang kamu liat selama ini,itulah aku yang sebenarnya."


"Aku tau kok."


Mereka bercerita tentang diri mereka masing-masing dan masa lalu saat mereka bersama hingga senja tiba.


"Liat Dan,dari sini kita bisa nyaksiin sunset.Sama kayak dulu cuma beda tempat aja..."


"Waktu itu kamu masih menggenggam tangan aku dan sama-sama menikmati keindahan matahari terbenam."


"Tapi saat ini,kita hanya sebatas teman."


"Walaupun hanya status ini yang bisa kita pakai sekarang,tapi aku seneng kok.Yang penting kamu gak marah dan benci lagi sama aku."


Yazdan menatap Ardila yang sedang mengarah kan pandangan nya pada matahari yang sedang terbenam itu.


"Mungkin hanya ini yang bisa menjadi status kita untuk saat ini...atau pun ke depannya."


Kata-kata Yazdan seketika merubah ekspresi senyum di wajah Ardila menjadi muram.Dia tahu Yazdan tak ingin lagi bersama dengan nya untuk sekarang ataupun ke depannya.Dia kembali menatap Yazdan dengan tatapan tajam dan wajah yang bingung di buat-buat seakan-akan tidak mengerti apapun.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?."tanya Ardila dengan tegas mencari jawaban yang sesungguhnya dari mulut Yazdan sendiri.


__ADS_2