Zahra'S Ark Of Love

Zahra'S Ark Of Love
91


__ADS_3

Irene berlari beserta dokter dan perawat menuju ke ruang rawat Aryan.


"Silahkan tunggu di luar."


"Saya mau disini aja sus."pinta Risma.


"Maaf itu akan mengganggu pekerjaan kami, silahkan anda tunggu di luar saja."


"Tapi sus.."


"Ma kita tunggu di luar aja,jangan sampai mengganggu mereka untuk memeriksa kak Aryan."


Risma mengangguk dan segera keluar setelah mendengar bujukan Dinda,dia di papah oleh Irene dan Dinda karena sekarang tubuh nya sangat lemas. Dia sangat khawatir dengan keadaan Aryan saat ini.


Saat ini lampu ruangan ICU sudah menyala,menandakan situasi darurat di dalam nya.Risma terus bergumam dengan tangan yang terus menutup wajahnya frustasi.


Sementara Dinda masih mondar mandir di depan pintu sambil sesekali melihat dari kaca.Tetapi yang terlihat hanya tirai hijau.Dia terus memastikan kapan dokter itu akan keluar dari ruangan itu.Irene hanya bisa terus mencoba menenangkan mereka.


"Udah dong Tante saat ini yang paling terpenting berdoa untuk kesembuhan Aryan."


"Tapi tante sangat khawatir."


"Percaya sama Irene Aryan gak bakal kenapa napa."


"Semoga aja."


Ya Allah kuatkan lah Aryan menghadapi penyakit nya. Sembuh kan lah dia ya Allah.


Irene sebenarnya sama khawatir nya seperti mereka.Tetapi dia lebih memilih menyembunyikan emosinya dan terus berdoa dalam hati.


Sementara di dalam Aryan terus berusaha untuk melawan penyakit nya. Dia masih ingin melewati hari-hari bersama Zahra.Dia masih ingin mencoba membuat Zahra menyukai nya bukan sebagai kakak tetapi sebagai orang yang istimewa baginya.


Di monitor terlihat detak jantung Aryan yang mulai melemah. Dokter tak berani mengambil resiko melakukan kemoterapi pada situasi saat ini, karena itu akan sangat membahayakan nyawanya. Dokter hanya menyuntikkan nya beberapa obat dan kembali memasang kan infus yang mungkin masih bisa mempertahankan nyawa Aryan.


Tak berapa lama dokter keluar Dinda langsung bertanya.


"Dok gimana dok keadaan kakak saya."


"Kami minta maaf sebelumnya. Kami tidak berani mengambil resiko,pasien tidak bisa melakukan kemoterapi pada saat kondisinya kritis seperti ini. Kita hanya bisa pasrah dan berdoa agar kondisinya stabil sehingga kita bisa melanjutkan kemoterapi nya."


"Bagaimana keadaan anak saya saat ini dok."


"Dia masih dalam keadaan koma, tidak tahu kapan dia akan sadar kembali."


"Dok saya mohon dok, lakukan sesuatu agar anak saya bisa sembuh dok."


"Maaf Bu kami sudah berusaha semaksimal mungkin, mengenai bagaimana selanjutnya hanya bisa kita serahkan kepada yang maha kuasa."


"Apa tidak ada jalan lain dok?."


Dokter itu menggeleng perlahan dan kemudian meninggalkan Risma dan yang lainnya.


Saat ini Risma hanya bisa menatap Aryan dari luar.Dia melihat tubuh lemah yang terpasang dengan berbagai selang. Hatinya sangat hancur melihat anaknya yang begitu menderita di dalam sana.


"Aryan kamu di dalam berjuang antara hidup dan mati. Tapi mama gak bisa ngelakuin apa pun buat kamu. Mama memang tidak berguna."Risma menangis sambil merutuk dirinya.

__ADS_1


"Ma, mama gak boleh berbicara seperti itu. Biar bagaimanapun kita sudah berusaha semampu kita. Aku yakin kok kak Aryan tahu apa yang sudah mama lakukan."punuk Dinda.


"Iya tante bener yang diomongin sama Dinda, aku tahu kok tante orang yang seperti apa.Tante bakal ngelakuin apa aja untuk keluarga tante. Jadi Tante jangan merasa bersalah ini semua sudah ditakdirkan sama Allah."


"Tante hanya terlalu khawatir, sehingga Tante tidak tahu harus melakukan apa."


"Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa untuk kesembuhan Aryan."


"Iya ma kita hanya perlu banyak berdoa agar kak Aryan cepat sembuh seperti semula."


Risma mengangguk, sekarang hatinya tak terlalu khawatir lagi. Dia sudah bisa duduk dengan tenang menghadapi kondisi Aryan.


"Mama udah makan? wajah mama pucat banget."


"Mana gak papa kok."


"Dinda beliin mama nasi ya?."


"Gak usah sayang mama masih sanggup kok."


"Ma,kalau mama gak makan ntar mama sakit loh."


"Mama sedang tidak nafsu makan."


"Ma, mama gak bisa seperti ini terus.Yang ada kalau kak Aryan bangun dan dia melihat kondisi mama yang seperti ini,apa dia gak akan ngerasa sedih."


"Mama makan ya,mama tunggu sebentar biar Dinda beliin di depan."


"Dinda biar aku aja yang beli,kamu temenin Tante Risma aja."


"Gak papa kok,kamu jagain mama kamu aja."


"Makasih ya kak."


Irene berjalan meninggalkan koridor rumah sakit.


"Kak Irene itu baik banget ya ma,aku hanya sedikit kecewa karena kak Aryan tak pernah mau melihat dia.Di fikiran nya hanya ada perempuan sial itu."


"Dinda ke depannya kamu tidak boleh mengatakan hal seperti ini didepan kakak mu."


"Emang dia siapa sih ma,kok kak Aryan peduli banget sama dia."


"Dulu itu Aryan tidak punya tempat karena sifatnya yang cuek. Hal ini yang membuat anak seusianya tak ingin berteman dengannya.Hanya Zahra satu-satunya yang mau berteman dengan nya."


"Kalau mereka baik-baik saja,Lalu kenapa mama selalu berusaha membuat kak Aryan menjauhi gadis itu."


"Ini semua karena perjanjian dengan orang tua Zahra."


"Perjanjian apa ma."


"Bukan apa-apa kok,."


"Ya udah kalau mama gak mau kasih tahu."


"Ini Din."

__ADS_1


"Ma ini Irene udah beliin mama makan ya."


"Tapi mama sedang tidak ada selera makan."


"Ma ayo dong sedikit aja."


"Iya makan dong tante dikit aja,ntar tante sakit loh."


"Sini mama makan sendiri aja."


Risma tetap berusaha menelan makanan nya walau pun selalu di tolak kerongkongan nya. Perasaan nya yang kacau membuat nya tidak memiliki selera makan.


Tetapi untuk terus bisa bertahan menjaga Aryan dia butuh tenaga.Entah kapan Aryan baru bisa sadar tidak ada yang tahu.Semua hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Kak Irene.."


"Iya Din kenapa?."


"Kakak gak lagi sibuk?."


"Iya Ren apa kamu tidak memiliki pekerjaan penting."


"Gak apa apa kok Dinda,tante. Cuma ada sedikit lagi yang belum selesai."


"Kalau kak Irene mau pulang gak papa kok,disini ada aku sama mama yang jaga kak Aryan."


"Kakak gak papa kok Din.."


Tiba tiba ponsel Irene berdering.


"Aku angkat telpon dulu ya."


"Iyaaa.."jawab Dinda dan Risma serentak.


Tak berapa lama Irene kembali lagi dan segera pamit.


"Maaf ya Dinda,tante aku ada urusan mendadak jadi harus pulang sekarang."


"Gak papa kok,makasi ya udah temenin Dinda sama Tante."


"Sama sama Tan,aku balik duluan kalau ada apa apa langsung hubungi aku."


"Iya kamu hati hati ya!."


"Ma aku antar kak Irene ke depan dulu."


"Gak usah Din,aku gak papa kok kamu jagain tante Risma aja."


"Bener nih kak."Irene mengangguk.


"Ya udah aku duluan ya."


"Hati-hati."


...********...

__ADS_1


__ADS_2