
"Bentar-bentar kayak nya itu cewek yang datang bareng Dafi waktu reunian deh Sya."
"Mana?."
"Itu Sya,yang lagi di kasir!."
"Gue gak keliatan?."
"Lo perhatiin aja terus sampai dia balik badan.."
"Samperin aja deh biar jelas."
"Eh tunggu tunggu Sya,lo ngapain nyamperin dia ini di depan umum."
"Ya kan gue cuma nyamperin doang."
"Gak usah Syaaaa...kita tungguin aja."
"Ya udah deh, perhatian dulu aja."
Zahra selesai membayar tagihan di kasir,sementara Tasya terus menunggu Zahra berbalik dengan rasa penasaran.Begitu Zahra berbalik Tasya langsung berteriak sampai Freka refleks menutup mulutnya.Mereka bergegas membalikkan badan agar Zahra tidak bisa mengenali.
"Ah mungkin ngeliat kecoa atau apa makanya teriak."Zahra lalu pergi meninggalkan mereka berdua dan tak memperdulikan mereka lagi.
Tasya ingin mengejar Zahra tetapi di hentikan oleh Freka.
"Lo mau kemana?."
"Ya gue samperin tu anak,dia udah buat gue malu di depan Dafi.Gue bakal kasi dia pelajaran."
"Tasya disini banyak orang,Lo mau jadi trending topik besok paginya."
"Lo bener sih,cuma gue gak rela biarin dia pergi begitu aja."
"Udah masih banyak waktu buat balas tu orang,Lo tenang aja gue bakal bantuin Lo terus!."
"Makasi ya best aku yang paling baik."
"Ya udah balik yuk,gue gak sabar mau nyobain baju yang udah kita pilih."
"Ayo buruan!."
Zahra akan kembali ke rumah nya,tetapi di perjalanan dia melihat Aryan dan perempuan yang bersamanya waktu di pusat perbelanjaan. Mereka sedang makan bersama di restoran seberang jalan dengan bahagia seperti sepasang kekasih yang saling menyayangi.
"Kak Ary bilang gak punya pacar,tapi kok dia sering ketemu sama perempuan ini."
"Ah biarin aja yang penting dia senang,dari dulu gak ada cewe yang dekat sama dia karena cuma aku yang selalu mengambil semua perhatian nya."
__ADS_1
"Atau mungkin cuma teman karena kak Ary gak pernah bohong sama aku."
"Ah apasih aku terus mikirin hal yang gak penting gini,lagian kak Ary kan berhak buat pacaran sama siapapun.Aku kan bukan siapa siapa nya dia."
Zahra melajukan mobilnya pulang.Dada nya terasa sedikit sesak tetapi dia tidak tahu kenapa.Selama ini hanya dia satu-satunya perempuan yang di beri perhatian oleh Aryan. Begitu melihatnya dengan perempuan lain dia memiliki perasaan aneh yang sangat jelas.Mood nya berubah seketika tetap saja dia tidak menyadari perubahan itu.Sesampainya di rumah Zahra langsung masuk ke kamar.Dia menghempaskan tubuh nya kekasur masih bingung dengan perasaannya saat ini.
"Aku kenapa jadi gak mood ya."
"Masasih cuma karena ngeliat Aryan sama orang lain aku jadi baper gini."
"Apa yang salah sama gue."
"Jelas-jelas kak Aryan bilang gak punya pacar dan gak ada mantan sama sekali,tapi kok gue malah berfikir yang lain ya."
"Zahra apasih yang Lo pikirin, Aryan itu cuma nganggap Lo sebagai adek."
"Za,udah balik kok langsung ke kamar aja."
"Zahra capek buk!."
"Gak makan dulu,ini udah jam berapa lho."
"Gak buk, Zahra udah makan di luar."
"Bener!!."
Tak ada lagi suara ibu zahra yang terdengar.Zahra menatap sebuah foto di atas meja kamar nya.Itu adalah gambar dirinya dan juga Aryan.Mereka sangat akrab dan terlihat seperti kakak beradik.
"Emang aku lebih cocok jadi adek kamu."
"Tapi aku gak nyangka setelah sekian lama pergi akhirnya kamu balik lagi."
"Dari Aryan yang selalu melindungi ku dan sekarang kamu sudah punya orang lain yang akan kamu lindungi."
Zahra tersenyum memandangi foto itu,kenangan masa lalu mereka terus berputar kembali di kepalanya.Dia merasa waktu itu akan tetap bersama dengan Aryan.Tetapi takdir berkata lain, mereka berpisah dan bertemu setelah beberapa tahun lamanya.Sehingga Zahra sudah melupakan wajah Aryan yang dulu.
Drrrtttt....
Sebuah notifikasi mengalihkan perhatian Zahra.
Pesan dari Dafi di dalam forum diskusi anggota komunitas.
Buat semua anggota komunitas,besok kita akan adain rapat.
Zahra hanya melihat sekilas dan tak menanggapi nya.Aryan memang dapat merubah emosi nya secara tiba-tiba.
Zahra membuka media sosial nya.Dan menemukan sesuatu yang mengejutkan di layar berandanya.Ayah Nisa di dakwa menjadi tersangka korupsi.
__ADS_1
"Pantas saja Nisa menghilangkan tiba-tiba dan nomor nya tidak bisa di hubungi,Gue harus kasi tau Safira."Zahra terburu-buru menghubungi Safira.
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan, silahkan tinggalkan pesan anda setelah......
"Safira angkat dong!."Setelah beberapa kali menelpon Safira akhirnya Nisa menjawan panggilannya.
"Halo Za,ada apa?."
"Kamu lama amat sih!."
"Maaf ya Za restoran lagi rame ni."
"Sa gue punya kabar tentang Nisa."
"Lo udah tau dia dimana?."
"Nggak Fir,gue baru liat berita kalau ayah Nisa tersangka kasus korupsi."
"Ya ampun Za,beneran?."
"Iya Fir gue udah cek keaslian berita nya,ini bukan setingan."
"Ya ampun,Nisa kasian banget ya.Pantas aja beberapa hari ini dia gak ada kabar."
"Lo udah bisa hubungin Nisa?."
"Tetap gak bisa Fir."
"Gue kasian sama Nisa,kita cuma bisa berdoa biar dia baik baik aja."
"Lo bener Fir."
"Ya udah gue tutup ya Za,soalnya rame gue harus bantuin nyokap."
"Iya Fir.."
"Bye Za!."
"Bye.."
Safira menutup telepon dan melanjutkan pekerjaan nya.Zahra yang merasa sangat khawatir kepada Nisa kembali mengecek ponselnya dan mencari berita tadi.Benar saja tak ada yang di palsukan dari berita nya semua itu benar-benar terjadi.Mereka tidak menyangka kalau ayah Nisa akan melakukan hal seperti itu.Yang mereka tahu ayah Nisa sangat baik kepada mereka.
"Gimana ya keadaan Nisa saat ini,pasti dia terpukul banget deh."
"Siapa yang bakal jadi penghibur dan tempat sandaran dia, sementara kedua orang tua nya sudah pergi."
Ibu Nisa telah lama meninggal dunia.Ini merupakan pukulan terberat bagi Nisa.Orang tua yang satu telah pergi selamanya dan sekarang satu lagi berpisah darinya.Tetapi Zahra tidak tahu apa yang harus dia lakukan.Karena saat ini jangan kan untuk menghibur bahkan dia tidak tahu Nisa ada di mana.Dia mengusap kasar wajah nya karena merasa sebagai seorang sahabat dia bahkan tidak bisa berada di smaping teman nya yang saat ini pasti sedang membutuhkan dukungan dari nya.
__ADS_1
Hari ini mood Zahra terlalu buruk, sedikit pun dia tidak berminat meninggalkan kamar.Karena baginya saat ini hanya kesendirian yang bisa menenangkan dirinya dari berbagai pikiran buruk yang terus dia bayangkan.