
"Aisyah udah selesai berkemas nya?."
"Sebentar lagi mas."
"Kalau udah mas tunggu di mobil sama Arfan."
"Iya mas duluan aja, Aisyah ada beberapa barang Arfan yang mau di ambil."
Setelah pertengkaran mereka beberapa bulan lalu, hubungan Farhan dan Aisyah mulai membaik.Farhan sudah berjanji akan memperlakukan Aisyah dengan baik seperti istri-istri lain pada umumnya.Seperti halnya hari ini, Farhan mengajak mereka berlibur di pantai Parangtritis untuk lebih memperdalam hubungan mereka.
"Udah selesai mas,sini Arfan aku yang pangku."
"Oke."Farhan menyerah Arfan kepada Aisyah.
Dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa gak dari dulu begini mas, kan kita bisa lebih sering menghabiskan waktu liburan bareng."
"Maafin aku ya Aisyah yang terus tenggelam dalam perasaan ku sendiri dan melupakan tanggung jawab dan kewajiban ku sebagai suami.Aku janji aku bakal sering-sering bawa kalian liburan."
Aisyah tersenyum melihat Farhan yang sudah berubah.Semua perjuangan nya untuk mempertahankan hubungan mereka ternyata tidak sia sia.
"Eh mas,emang kamu libur berapa hari?."
"Karena selama ini kerja aku lumayan bagus dan tidak pernah meminta libur,jadi direktur memberi izin liburan selama seminggu."
"Artinya kita bisa lama-lama dong di Jogja."
Farhan mengangguk.
"Aku banyak tempat yang mau aku kunjungi di Jogja,kamu mau temenin aku kan?."
"Pastinya."
"Arfan denger kan papa bakal sering ajak kita jalan-jalan ke depan nya."
Sesampainya di Jogja mereka tidak menginap di hotel, melainkan di sebuah penginapan yang sangat unik dengan gaya bangunan tradisional. Disini tersedia pemandian air panas dan juga ada pijat relaksasi yang sangat terkenal di Jogja.
Aisyah sangat memanjakan dirinya di penginapan itu.Makanan khas Yogyakarta juga tersedia disana menjadi kan pengunjung merasa lebih nyaman berada disana.
"Biar Arfan aku yang urus,selama ini kamu sudah lelah dengan pekerjaan rumah.Ini waktunya kamu bersantai."
"Makasi ya mas Farhan udah bisa ngertiin aku."
"Iya...aku keluar dulu,kalau sudah selesai kamu langsung ke pemandian air panas untuk berendam bersama."
Farhan membawa Arfan ke pemandian.Terlihat Arfan sangat senang saat berada didalam kolam.
Jika kalian berfikir kalau Farhan sudah melupakan Zahra kalian salah besar.Walaupun Farhan bisa menerima Aisyah, tetapi dia tidak pernah melupakan Zahra sedikit pun.
"Farhan,Farhan..."ucap Aisyah sambil melambaikan tangan nya ke wajah Farhan.Tetapi Farhan tak menyadari nya sedikit pun.
__ADS_1
Aisyah menyiram air ke wajah Farhan yang membuat nya sadar.
"Aisyah..."
"Kamu mikirin apa?."
"Bukan apa-apa kok,hanya masalah pekerjaan."
"Lho kita kan lagi liburan, ngapain mikirin kerjaan. Bukannya kamu cuti seminggu?."
"Iya,hanya saja ada sedikit hal yang menggangu fikiran aku."
"Apa? coba kamu cerita siapa tau aku bisa kasi solusi."
"Gak usah deh,lagian kita kan lagi liburan.Ngapain bahas pekerjaan."
"Hmmm.."
"Kapan kita kepantai?."tanya Aisyah.
"Menurut kamu?."
"Kalau aku kapan aja boleh,lebih cepat lebih baik."
"Ya udah besok aja."
"Emang kamu gak capek?."
"Aku ikut kamu aja, gimana bagusnya."
"Udah berendam nya nanti masuk angin, Arfan juga udah kedinginan tuh."
"Iya aku ganti pakaian dulu,kamu jagain Arfan sebentar."
"Jangan lama lama,kasian Arfan udah menggigil."
Mereka bergantian untuk mengganti pakaian dan menjaga Arfan.Saat ini Farhan dan Aisyah sudah seperti keluarga bahagia.
...----------------...
Zahra kembali lagi ke kantor polisi untuk menyelesaikan hal terakhir dari laporan nya.Seperti kemarin kepala polisi menyambut nya dengan baik.
"Selamat pagi pak,maaf mengganggu pekerjaan anda kembali."
"Tidak masalah saudara Zahra,saya akan bantu apa yang bisa saya bantu."
"Untuk data yang terakhir saya hanya perlu menghitung berapa banyak tahanan di satu ruangan sel."
"Baik mari saya antar."
"Tidak usah repot-repot pak, semalam saya sudah di tunjukkan jalan oleh pak Hariyanto.Saya bisa sendiri pak."
__ADS_1
"Baiklah,jika ada yang butuh minta bantuan dari kami bisa panggil polisi yang berjaga disana."
"Baik pak terima kasih."
Zahra mulai berkeliling menghitung jumlah penghuni sel agar laporan nya cepat selesai.
Baru sekitar 5 sel yang dia hitung,dia sudah merasa kelelahan.Masih banyak sel yang harus dia survei.Di sebuah sel dia melihat seorang wanita tua yang sudah sangat renta terduduk di sudut ruangan.
"Maaf Bu,boleh saya bertanya?."Ibu itu hanya mengangkat kepalanya dan menatap Zahra dengan tatapan sendu.
"Kenapa ibu bisa berada disini?.Apa kejahatan yang ibu lakukan?."Pertanyaan Zahra sukses membuat nya marah.
"Apa kamu seorang pengacara?."
"Tidak Bu,saya hanya mahasiswa hukum."
"Apa kamu mau mendengar cerita saya?."
"Selagi ibu bersedia menceritakan semuanya."
"Apa salah saya,kamu bertanya apa kejahatan yang saya lakukan.Saya hanya menegakkan keadilan untuk anak saya,tapi semua orang menganggap saya telah melakukan kejahatan."
"Memangnya apa yang sudah ibu lakukan?."
"Saya membunuh bajingan tidak berguna itu!."
"Bisa ibu ceritakan secara detail."
"Waktu itu anak saya menangis menelpon saya tengah malam,dia bilang kalau suami bajingan nya itu selingkuh dan memukuli nya.Saya bergegas ke rumah mereka dan mendapati bajingan itu telah menganiaya anak saya.Karena tidak terima anak saya di aniaya saya memukulnya dan siapa yang tahu kepalanya terbentur ke meja dan akhirnya dia meninggal.Saya merasa lega sekaligus ketakutan karena saya telah membunuh satu nyawa.Oleh karena itu saya di hukum penjara selama 15 tahun dengan kasus pemberatan."
"Tak ada yang mau mendengarkan penjelasan saya,semua orang menyalah kan saya atas pembunuhan itu.Dan yang paling menyakitkan bagi saya bahwa yang melapor kan saya ke kantor polisi adalah anak saya sendiri."
"Apa saya sebagai seorang ibu sudah gagal mendidik anak saya, sehingga saya di jebloskan ke penjara oleh anak saya sendiri."
"Apa selama ibu di penjara anak ibu pernah menjenguk?."
"Menjenguk? heh....Dia hanya berfikir kalau saya sudah mati."
"Saya turut prihatin dengan keadaan ibu."
"Apa menurut kamu ini semua adil,saya yang membesarkan nya,mengajari nya berjalan dan berbicara bahkan saya juga yang membantu saat dia di aniaya.Apa begini caranya membalas semua itu?."
Zahra hanya tersenyum pahit.
"Kamu harus bantu saya keluar dari sini,saya ingin melihat cucu saya!."
"Maaf Bu,tapi saya tidak bisa membantu.Kasus ini sudah jelas sebuah tindak pidana dan dengan bukti yang kuat akan Suli untuk memenangkan kasusnya."
"Baik lah kalau kamu tidak bisa membantu, silahkan kamu pergi!!!."ibu itu marah kepada Zahra yang tidak bisa membantu nya.
Zahra pergi meninggalkan nya, bagaimana pun Zahra akan berusaha dia pasti tidak bisa membebaskan wanita tua itu.
__ADS_1