
Yazdan POV
"Halo Za!."
Iya Yazdan ada apa ya kok tiba-tiba nelpon?.
"Gak boleh?."
Boleh kok,cuma aku heran aja gak ada angin gak ada hujan kamu tiba-tiba telpon aku..
"Kamu sibuk gak?."
Gak tuh!.
"Ikut aku yuk!."
Kemana?.
"Aku mau ke pantai udah lama nggak."
Pantai mana?.
"Pastinya Parangtritis dong."
Oke juga sih, bisa merilekskan otak..
"Gimana? berangkat sekarang?."
Emang keburu?
"Keburu sih,tapi kita mesti nginap.Besok nya baru balik."
Yah itu namanya capek di perjalanan aja.
"Atau kamu mau nginap beberapa hari dulu?."
Gak deh,masih banyak kerjaan dan tugas menumpuk.
"Terus gimana?."
Pengen sih pergi! ya udah deh gak papa capek yang penting bisa merilekskan otak walau sebentar doang.
"Aku jemput sekarang ya!."
Oke,masih ingat alamat rumah aku kan?.
"Aduh amnesia nih!."
Hahaha udah buruan ntar makin lama,emang mau ke pantai nya kemaleman?.
"Ya gak papa dong,kamu gak tau kalau di pantai malam lebih indah."
Masa sih?.
"Kamu liat aja nanti kalau gak percaya!."
Oke..
"Dah ya aku langsung gerak ke rumah kamu!."
Iya..
Aku mematikan ponsel dan bersiap-siap.Aku senang Zahra tidak menolak ajakan ku.Aku akan membuat hari-hari yang bisa berkesan untuk Zahra dan membuat nya tak bisa melupakan untuk selamanya.
Ku lihat arloji di tangan ku yang sudah menunjukkan pukul 9.Aku sudah menghitung waktu.Jika tidak ada hambatan saat perjalanan kemungkinan kita akan tiba pukul 5.Saat itu udara tidak terlalu panas dan waktunya pas untuk menyaksikan sunset.
Author POV
Zahra mengganti pakaian nya dan mengambil tas kecil untuk membawa baju gantinya.Zahra hanya mengenakan pakaian santai yang membuatnya lebih bebas bergerak dengan sepatu putih yang sangat pas dengan tampilan nya saat ini.
Titttt....tiittttt...
__ADS_1
Suara klakson memekak kan telinganya.Yazdan sengaja melakukan hal itu untuk membuat Zahra jengkel.Ayah Zahra keluar mendengar keributan yang dibuat oleh Yazdan.
"Ada apa?."
Melihat ayah Zahra keluar Yazdan menjadi gugup.Dia tidak tahu harus melakukan apa dan harus menjawab apa pertanyaan ayah Zahra.
"Aduh mati aku, kenapa gak kefikiran kalau ayah nya Zahra ada di rumah."batinnya.
Dia keluar dari mobil dengan perasaan gugup.Takut jika ayah Zahra akan memarahi nya dan tidak mengizinkan kan nya mengajak Zahra pergi.Bahkan kemungkinan terbesar nya,dia tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan Zahra ke depannya.
Dengan mati-matian dia berfikir cara agar ayah Zahra tidak marah dengan sikap usilnya tadi.Tetapi disaat ini otaknya tidak ingin bekerja sama.Dia berusaha menyapa ayah Zahra untuk menghilangkan kecanggungan nya.
"Om.."ucapnya dengan canggung."
"Kamu siapa?."
"Ah nak Yazdan ayo masuk!."Tiba-tiba ibu Zahra datang,dia juga mendengar keributan yang telah di ciptakan Yazdan tadi dengan klakson mobil nya.
"Huh selamat."Yazdan bergumam dan menghela nafas.
Beruntung kali ini ibu Zahra tiba tepat waktu,kalau tidak dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Kok ngelamun ayo masuk."Ajak ibu Zahra lagi.
"Dia siapa Ratih?."
"Oh iya ayah belum kenal ya,ini tu Yazdan temen Zahra.Dia juga yang waktu itu bantuin Zahra saat jatuh ke jurang."
"Oh ternyata kamu."
"I...iya om."
"Masuk!."
Yazdan mengangguk dan mengikuti ayah Zahra masuk ke dalam.Ratih mempersilakan Yazdan duduk di sofa yang berseberangan dengan ayah Zahra.Sementara dia pergi ke dapur untuk membuat kan minuman.
Ayah Zahra memandangi Yazdan dari atas sampai bawah, seperti sedang ingin mencari suatu celah kesalahan Yazdan.Karena tidak menemukan apapun,dia berfikir untuk mencari cari kesalahan Yazdan dari ucapan saja.
"Ah saya mau jemput Zahra om."
"Mau kamu ajak kemana anak saya?."
"Itu om kita mau eh saya mau ajak Zahra ke pantai om."
"Pantai mana?."
"Parangtritis om."
"Yogya?."
"Bener om."
"Apa saya sudah izinkan?."
Yazdan terdiam tak tahu mau menjawab apa.Sementara Zahra yang sudah selesai keluar dari kamar dan memperhatikan bagaimana cara ayahnya memperlakukan Yazdan.Dia tahu ayah nya sangat terampil dalam mengerjai orang yang ingin membawa anak nya pergi.Siapa yang sanggup melalui ujian itu baru berhak mengajak Zahra pergi.
"Maaf om saya belum meminta izin dari om."
"Lalu?."
"Saya kesini ingin minta izin mengajak Zahra eh anak om ke Yogya."
"Apa memang niat kamu kesini untuk minta izin atau sekedar ingin membawa lari anak saya?."
"Bukan bukan begitu om."
"Lalu?."ayah Zahra membesar kan matanya melotot ke arah Yazdan.
"Saya memang berniat menjemput Zahra dan sekalian meminta izin sama om."
"Kalau saya tidak izinkan?."
__ADS_1
"Kenapa om?."
"Karena saya ayah nya."
"Aduh gimana ni cara hadapin ayahnya Zahra!!."batinnya lagi.
Zahra berdiri di belakang ayahnya dan tersenyum jahil melihat Yazdan yang sedang di permainkan ayahnya.
"Bantuin dong."isyarat Yazdan kepada Zahra.
"Gak bisa."jawabnya melalui isyarat tangan.
Mau tidak mau Yazdan harus berjuang sendiri mendapat kepercayaan ayah Zahra.
"Apa syarat nya om agar saya bisa ajak Zahra keluar?."
"Apa kamu sanggup?."
"Emang berat ya om?."
"Kalau berat kamu gak mau?."
"Mau mau kok om."
"Syarat nya mudah kamu bisa bawa pergi anak saya asal kamu bisa nafkahi dia!."
"Maksudnya om?."
"Kamu nikah sama anak saya! sanggup?."
"Apa?."ucap Zahra dan Yazdan serentak.
"Kenapa barengan terkejut nya?.Zahra juga toh ayah kamu cuma bercanda."
Yazdan menghela nafas kembali menenangkan jantungnya yang seakan-akan ingin melompat keluar.
"Memangnya kalian ingin pergi kemana?."
"Kita mau ke pantai Parangtritis buk."
"Tugas kamu udah selesai semua?."
"Udah kok buk!."
"Ya udah kalau gitu kamu bisa pergi!."
"Makasi ya Tante,om!."
"Makasi buat apa?.Memangnya saya sudah izinkan kamu bawa anak saya."
"Tapi om Tante Ratih sudah setuju."
"Dia sudah setuju tapi saya belum."
"Sudah lah kalian pergi saja,ayah Zahra cuma bercanda aja kok."
Yazdan tidak berani pergi karena ayah Zahra belum mengatakan akan mengizinkan mereka.Zahra tidak peduli dengan pendapat ayahnya, karena dari awal dia sudah tahu kalau ayahnya hanya berpura-pura.
Dia segera berjalan melewati pintu dan masuk ke mobil Yazdan.Sementara Yazdan masih berdiri terpaku melihat ayah Zahra.
"Yah udah ah bercanda nya,Zahra juga udah keluar duluan ngapain masih pasang ekspresi begitu.Gak capek apa?."
"Kamu bener,pegal juga wajah ku."
Yazdan yang melihat tingkah ayah Zahra masih tak habis fikir.Ayah Zahra mendekati nya, tetapi dia langsung merasa suasana menjadi mencekam.
"Kamu bisa bawa anak saya,tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya..."Ayah Zahra berbisik dan mengisyaratkan sesuatu yang membuat Yazdan bergidik ngeri.
"Baik om saya janji."
"Pergilah!. Jangan sampai aku berubah fikiran."
__ADS_1
Yazdan segera keluar dan masuk ke dalam mobilnya.Zahra melambaikan tangan saat Yazdan sedang menyalakan mobil nya.Mereka meninggalkan pekarangan rumah dan menuju ke Yogya secepatnya karena mereka sudah kehabisan banyak waktu untuk mengikuti permainan ayah Zahra.