
"Yazdan aku mau tanya sama kamu."
"Apa?."
"Kalau semisalnya kita punya temen nih,tapi dia udah lama gak pernah menghubungi kita. Sekalinya menghubungi tapi ngomong nya agak aneh gitu."
"Aneh nya gimana?."
"Seperti bukan dia yang biasanya."
"Mungkin aja ada sesuatu yang kamu gak tahu dan dia sengaja menyembunyikan."
"Apa yang bisa dia sembunyikan?."
"Mungkin suatu hal yang sangat penting."
"Sikap nya berubah jauh."
"Kalau kamu penasaran kenapa gak temui langsung aja."
"Kamu bener,aku coba hubungi dulu ya."
Siapa ya yang bisa buat dia khawatir seperti ini,gak mungkin Farhan kan.Soalnya kemarin mereka baru bertemu.
"Gimana?."
"Gak diangkat."
"Terus gimana?."
"Aku juga gak tau."
"Kamu tahu alamat rumahnya?."
"Oh iya dia pernah kasi aku alamat dia yang di Bandung."
"Ya udah kita samperin kesana."
"Kamu mau nemenin aku?."
"Terus kalau bukan aku yang nemenin kamu,ada siapa lagi."
"Makasih ya Dan."
"Udah lah sesama teman gak perlu sungkan."
"Gimana bisa aku gak sungkan sama kamu,kamu udah banyak bantuin aku. Aku gak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan kamu."
"Aku ngelakuin ini ikhlas kok."
Zahra tersenyum lembut kepada Yazdan.
"Ya udah yuk ntar gak keburu."Zahra mengangguk.
Yazdan memutar mobilnya menuju alamat yang diberitahukan oleh Zahra.
Bandung
Setibanya di kediaman Aryan Zahra langsung menekan bel.Tetapi entah berapa banyak pun Zahra menekan bel tetap tidak ada jawaban.
Seorang tetangga Aryan yang kebetulan lewat melihat mereka dan langsung menyapa.
__ADS_1
"Cari siapa neng?."
"Ini bener rumah nya Aryan pak?."
"Iya neng ini rumah den Aryan.Neng ini siapa ya?."
"Saya temennya pak dari Jakarta."
"Oh temennya."
"Bapak tahu Aryan nya kemana?."
"Apa neng gak tahu kalau den Aryan itu sudah lama sakit.Mereka jarang pulang ke rumah dan selalu berada di rumah sakit."
"Aryan sakit,tapi waktu itu dia baik-baik aja kok pak."
"Den Aryan itu tipe orang yang tidak mau menunjukkan kelemahan nya di depan orang lain."
"Sejak kapan dia sakit pak."
"Kurang tahu neng ,setahu saya kurang lebih satu tahun ini mereka memang sering bolak balik rumah sakit."
"Bapak tahu Aryan sakit apa?."
"Yang saya dengar-dengar katanya kanker."
"Kanker pak? tapi kenapa kak Aryan gak pernah ngomong sama aku."Zahra syok mendengar jawaban tetangga Aryan.
"Udah jangan pikir yang macam-macam dia pasti baik-baik aja kok."
"Kita harus ke rumah sakit.Pak bapak tahu kak Aryan di rawat dimana?."
"Rumah sakit medica kalau saya tidak salah neng."
"Iya sama-sama."
Mereka segera menuju rumah sakit tempat Aryan dirawat.Di sepanjang perjalanan Zahra tak henti-hentinya bergumam.Dia sangat khawatir dengan keadaan Aryan.
"Zahra kamu coba tenang dulu."
"Aku khawatir banget Dan,aku takut kalau kak Aryan...."
"Kamu jangan berfikir yang macam-macam ,aku yakin dia baik-baik saja."
"Tapi kenapa selama ini dia gak pernah cerita sama aku,apa aku orang asing baginya."
"Ssstttt... Zahra mungkin dia cuma takut kamu khawatir."
"Entah berapa banyak lagi masalah yang dia sembunyikan dari aku."
"Sudahlah kamu berdoa saja untuk kesembuhan nya."
Zahra menyenderkan kepalanya ke jendela. Menatap kosong ke depan.
Entah apa yang akan terjadi dengan kak Aryan. Selama ini hanya aku saja yang selalu membagi masalah ku dengan nya, tetapi aku tidak pernah memberikan kesempatan baginya untuk mencurahkan masalah nya padaku..
Zahra kenapa kamu begitu egois...
Zahra merutuki dirinya dalam hati.Yazdan yang melihat ekspresi Zahra memilih untuk diam tak bertanya. Dia berusaha memberikan waktu kepada Zahra untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Setibanya di rumah sakit Zahra terburu-buru keluar.Akibat nya dia tersandung karena tidak hati-hati.Beruntung Yazdan yang segera menangkap nya.
__ADS_1
"Zahra sepanik apapun kamu,harus tetap perhatiin diri kamu sendiri.Kalau tahu begini aku gak bakal bawa kamu kesini."Yazdan sedikit emosi melihat tingkah Zahra yang mengabaikan keselamatan nya.
"Maaf aku terlalu ceroboh."
"Sini aku bantu kamu jalan."
Yazdan menggandeng Zahra menuju meja resepsionis.
"Mba pasien bernama Aryan dirawat dimana ya?."
"Sebentar ya mba."
"Pasien ada di ruang ICU."
"Makasih ya mba."
Mereka bergegas menuju ruang ICU.Di lorong terlihat Dinda dan Risma sedang duduk di kursi tunggu.
Melihat Zahra dari kejauhan emosi Dinda tiba-tiba meluap.Belum sempat berkata-kata Dinda langsung menghentikan Zahra.
"Ngapain kamu disini?."
"Aku mau jenguk Aryan."jawab Zahra cuek karena dia tahu kalau Dinda sangat membencinya
"Gak perlu,kamu tidak dibutuhkan disini. Lebih baik kamu pergi."Namun Zahra terlihat tidak peduli.Dia melewati Dinda dan segera menuju Risna untuk menanyakan keadaan Aryan.
"Tante gimana keadaan kak Aryan."
"Tante juga tidak tahu."
"Sejak kapan kak aryan terkena kanker."
"Sekitar beberapa tahun lalu."
"Kenapa Tante gak pernah bilang sama Zahra."
"Ini semua permintaan Aryan.Dia bilang kalau dia tidak ingin kamu khawatir."
"Kenapa disaat seperti itu dia masih bisa memikirkan aku."
"Sekarang kamu baru tahu kalau kamu itu terus menambah kesulitan bag ku kak Aryan."
"Apa maksud perkataan kamu?."
"Dinda jangan asal bicara."bentak Risma.
"Karena kamu sudah melihat semuanya,jadi silahkan pergi dari sini.Terima kasih karena sudah mau berkunjung."
Zahra tak habis pikir apa maksud dari ucapan Dinda.Tetapi dia tidak menggubris sedikit perkataan Dinda.Dia berjalan ke depan pintu dan melihat Aryan dari kaca tembus pandang.
"Tidak ada gunanya kamu terus berdiri di sana. Dokter berkata kalau kankernya sudah stadium akhir.Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini selain berdoa untuk kesembuhan nya."
"Kak Aryan begitu baik,dia selalu mendengar cerita ku,keluh kesah ku,sedih ku,dia sudah menjadi tempat curhat ku.Tapi dia tidak pernah menceritakan kesulitan nya sendiri."
"iya Tante tahu,hanya saja Aryan selalu memendam nya sendiri."
"Yang aku tahu kak Aryan adalah orang yang ceria.Tapi sekarang dia tak lebih dari sebuah tubuh yang kalau dan lemah.Aku tidak terbiasa melihat sisi nya yang seperti ini..Tante apa tidak ada hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan kak Aryan."Risma menggeleng.
"Dokter bilang hanya kemoterapi yang dapat membantunya.Tetapi dengan kondisi nya yang sangat lemah, mereka tidak berani mengambil resiko."
"Apa yang membuat kak Aryan menjadi lemah,bukankah selama ini dia adalah orang yang pantang menyerah."
__ADS_1
"Mungkin ada sesuatu yang dulu nya dia harapkan.Tapi melihat keadaan nya sekarang tante yakin kalau apa yang dia harap kan di awal tak akan pernah menjadi miliknya."
Zahra sudah terlalu bingung dengan ucapan Dinda. Sekarang Risma menambah kan lagi sebuah teka-teki yang harus di pecahkan oleh Zahra.