
"Bapak Supriyadi."
"Ya saya sendiri!."
Saya Zahra pak yang menelepon bapak beberapa waktu lalu untuk melakukan survei."
"Oh saudara Zahra silahkan duduk,apa yang ingin anda tanya kan?."
"Saya ada beberapa pertanyaan pak,mohon bantuannya."
"Baik,silahkan!."
"Ada berapa seluruh tahanan di lapas ini pak?."
"Ada sekitar 2017 tahanan.Mulai dari kasus ringan sampai yang berat."
"Bukankah kapasitas sel tahanan hanya 750 jiwa pak,kenapa jumlah tahanan jauh lebih banyak dari muatan?."
"Karena marak nya aksi kejahatan menyebabkan banyak nya para narapidana.Dan ini juga disebabkan oleh minim nya anggaran rumah tahanan yang menyebabkan kurangnya biaya pengalokasian untuk perluasan bangunan."
"Bagaimana cara bapak menangani kelebihan muatan di rutan ini?."
"Karena banyak nya penghuni sel yang mengharuskan para napi tidur saling berhimpitan,kami menjadikan mereka dalam dua gelombang.Mereka akan tidur secara bergantian.Dan cara ini juga akan membuat mereka tidur lebih baik dari pada saling berhimpitan."
"Fasilitas apa saja yang disediakan disini?."
"Kami menyediakan alat mandi dan juga alat sholat untuk para napi."
"Apakah ada perbedaan di setiap sel tahanan?."
"Perbedaan itu jelas ada!."
"Dimana letak perbedaan nya pak?".
"Kita membedakan penghuni sel berdasarkan tindak kriminal yang dilakukan serta lamanya masa tahanan para narapidana."
"Boleh saya berkeliling melihat-lihat sel tahanan disini."
"Boleh saudara Zahra,tapi saya tidak bisa mengantar anda.Saya akan meminta bawahan saya untuk menunjukkan jalan kepada anda."
"Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang bapak berikan."ucap Zahra sambil menjabat tangan Supriyadi.
"Sama-sama."
"Hariyanto,kamu bawa saudara Zahra melihat-lihat sel tahanan."
"Baik pak, laksanakan!."
"Silahkan sebelah sini mba!."
"Terima kasih sekali lagi pak."
__ADS_1
Supriyadi menganggukkan kepala.Zahra berjalan berkeliling dan melihat-lihat seluruh sel tahanan.
"Maaf pak boleh saya bertanya?."
"Silahkan mba!."
"Ini ruangan untuk narapidana yang melakukan tindakan apa ya?."
"Ini ruangan untuk para koruptor mba."
"Lalu yang di sebelah sana?."
"Yang disebelah sana adalah ruangan untuk tindak kriminal pencurian ringan mba!."
"Misalnya?."
"Seperti kasus pencurian yang tidak di lakukan dengan kekerasan."
"Apa saya boleh berterus terang pak?."
"Silahkan mba!."
"Apa ruang tahanan untuk seorang koruptor begitu mewah di bandingkan seorang pencuri kecil.Bukankah mereka sama-sama mencuri uang,bahkan para koruptor mendapatkan hasil lebih banyak?."
"Maaf mba,ini semua sudah peraturan dari atas.Kita tidak bisa membantah."
"Baik pak,hari ini cukup sampai disini saja.Terima kasih atas kerja samanya."
"Sama-sama mba."
"Huh melelahkan,besok mesti nyari satu kasus lagi buat ditangani."
"Mau jadi pengacara ternyata gak gampang ya."
Zahra melajukan mobilnya mencari sebuah tempat ngopi untuk menulis hasil observasi nya terlebih dahulu.Saat ini matanya sudah mulai lelah.Tanpa bantuan kopi, dia tidak yakin kalau matanya akan bisa bertahan sampai tugasnya selesai.
Dia melihat sebuah kafe di tepi jalan yang sedang dia lalui saat ingin kembali ke hotel.Zahra mampir di cafe itu sembari mengeluarkan laptopnya bersiap untuk mengerjakan tugas.
"Pesan apa mba?."
"Americano aja."
"Sebentar ya mba!."
"Iya."
Zahra mulai fokus mengetik hasil wawancaranya di lapas kebon waru.Dia ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin tanpa harus menunda nunda.Gelar pengacaranya harus segera dia dapatkan.Inilah targetnya sebelum dia memilih untuk menikah.
Secangkir kopi mendarat di meja di depannya.Dia langsung meminum kopi itu agar matanya terbuka lebar.Di tengah kesibukannya mengetik laporannya, dia masih terbayang bagaimanapun sel tahanan disana terlihat sangat tidak adil.Untuk koruptor berita apa hanya akan merasa dikunci di sebuah kamar bukan berada di sel tahanan.Begitu tidak adilnya hukum di negara ini, begitulah yang dia pikirkan.
"Kok bisa penggelap uang rakyat bisa tinggal di dalam sel dengan nyaman layak nya rumah sendiri.Ada kasur empuk,kipas angin, bahkan televisi juga ada.Dan di ruang itu hanya dia sendiri, berbeda dengan ruangan lain yang para tahanan harus saling berhimpitan karena saking banyaknya penghuni."
__ADS_1
"Pantas makin banyak para koruptor yang terus menggelapkan sejumlah dana yang tidak sedikit."
"Kapan negara ini bisa punya hukum yang kuat."gumamnya.
Zahra kembali menyeruput kopinya dan mengetik kembali laporan itu agar lebih cepat selesai.
Drrrtttt.....
Sebuah panggilan masuk dari Safira.Zahra segera mengangkat telpon nya.
"Halo fir ada apa?."tanya nya langsung tanpa basa basi.
Lo lagi dimana Za?.
"Gue di Bandung."
Oh shitt....
"Emang ada apa Fir?."
Gue ada kabar dari Nisa, ada temen gue yang kenal sama Nisa.Dia bilang setelah kasus korupsi bokap nya Nisa dan nyokap nya langsung pindah ke Semarang.
"Lo yakin?."
Iya gue yakin banget,soalnya temen gue bilang disana dia tinggal di rumah nenek yang dari nyokap nya dia.
"Aduh gue gak bisa nyamperin sekarang soalnya gue masih banyak tugas nih."
Udah gak papa,yang penting sekarang kita udah tau kabarnya.Kita sebagai teman gak bisa gak peduli saat Nisa kesusahan gini.
"Lo bener walaupun kita gak bisa bantu apa apa,setidaknya kita masih biasa menghibur."
Bener Za,kalau saat dia kesusahan kita malah menjauh, berarti kita gak bisa setia kawan.
"Iya gue berharap kita bakal terus temenan sampai kita udah punya anak cucu."
"So pasti."
Gue tutup ya Za!.
"Iya,titip salam buat Tante Sarah."
Oke Za,bye.
"Bye."
Safira memutuskan panggilan telepon nya.Zahra meletakkan ponselnya dan kembali mengetik laporan dengan serius.Tak berapa lama laporannya sudah selesai Siti Zahra menutup laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.Dia bergegas kembali ke hotel karena merasa sudah sangat lelah. Yang ada dipikiran sekarang hanyalah beristirahat dengan tenang.
Zahra ke kasir untuk membayar tagihan kopinya.Setelah itu dia langsung keluar dari kafe dan masuk ke mobil.Dia menyetir dengan perlahan dan hati-hati karena matanya sudah tak bisa diajak berkompromi lagi.
Sesampainya di hotel dia berjalan dengan langkah gontai.Mata dan tubuh nya tak bisa lagi di ajak bekerja sama.Setibanya di depan pintu kamar dia kesulitan mencari kunci yang terselip di dalam tasnya.Begitu mendapatkan nya dia langsung membuka pintu kamar dan kembali mengunci.
__ADS_1
Zahra merebahkan dirinya di kasur putih yang di sediakan pihak hotel.Tak ada kata mandi atau pun berganti pakaian.Saat ini Zahra tak sanggup lagi melakukan apapun.
Perlahan matanya mulai tertutup dan tidak mengganti pakaian bahkan sepatu pun tidak sempat dia buka.Bagi Zahra hari ini cukup melelahkan.Entah bagaimana yang dia rasakan esok harinya.Karena dia yakin besok pasti lebih sibuk dari pada hari ini.