Zahra'S Ark Of Love

Zahra'S Ark Of Love
90


__ADS_3

"Gimana dok?."


"Kanker nya sudah berada di stadium akhir."


"Dok tolong lakukan sesuatu agar anak saya sembuh dok,apapun syarat nya pasti akan saya lakukan."


"Kita tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa berdoa kepada yang maha kuasa."


"Kalau terus melakukan kemoterapi pasti bisa sembuh kan dok?."


"Itu keinginan kita sebagai manusia,jalan satu-satunya untuk menyembuhkan kanker hanya dengan kemoterapi secara teratur.Tetapi dalam situasi sekarang tubuh saudara Aryan sangat lemah, saya takut di tengah proses kemoterapi selanjutnya dia tidak akan mampu bertahan."


"Dok saya yakin kalau Aryan pasti sanggup dok,dia orang yang pantang menyerah. Kita harus berusaha semaksimal mungkin."


"Maaf saudara Risma, kami tidak akan mengambil resiko sebesar ini yang kemungkinan berhasil nya kurang dari 5%."


"Kenapa kemungkinan nya sangat kecil dok?."


"Mengingat kondisi Aryan yang sekarang sangat tidak mungkin bagi kita untuk melakukan proses kemoterapi."


"Terus gimana nasib anak saya dok."


"Kita hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan untuk meminta keajaiban bagi saudara Aryan."


"Tapi dok.."


"Saya permisi!."


"Dok..dok..dok..."


Risma menatap Aryan yang lemah dari depan pintu yang tembus pandang memperlihatkan keadaan Aryan yang menyedihkan.


"Aryan kamu harus semangat nak melawan penyakit kamu,mama yakin kamu pasti bisa melewati semua ini."


Tak berapa lama datang dua orang perawat yang langsung memindahkan Aryan dari ruang kemoterapi ke ruangan ICU.


"Sus kenapa Aryan dibawa?."


"Perintah dari dokter Hendra Bu,maaf kami harus segera membawa saudara Aryan ke ruang ICU."


"Sus apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan anak saya."


"Maaf Bu kami harus bergegas ke ruang ICU.Jangan menghambat pekerjaan kami."


Risma ikut mengantar Aryan ke ruang ICU.Setiba nya di ICU dia enggan meninggalkan anaknya sendiri di ruangan itu.Dia akan menghabiskan waktu nya bersama Aryan walaupun hanya tersisa satu detik.


"Sayang mama yakin kamu pasti sembuh, mereka semua hanya omong kosong karena tidak memiliki kemampuan.Mama percaya sama kamu."


Tiba-tiba jari Aryan bergerak dia perlahan sadar dan melihat ibunya menangis dia mencoba menenangkan nya.


"Mama kenapa nangis?."


"Aryan kamu udah bangun sayang.Bener kan apa yang mama omongin,kamu pasti sembuh. Buktinya sekarang kamu bangun,para dokter gadungan itu saja yang tidak memiliki kemampuan."Risma sangat senang melihat Aryan yang sudah membuka matanya.Bagi nya itu secercah harapan untuk melihat kesembuhan Aryan.


"Ma kalau Aryan pergi mama jangan sedih ya."


"Aryan kamu gak akan -mana kamu tetap harus temenin mama disini."

__ADS_1


"Maaf ma takut aku tidak akan memiliki kesempatan itu lagi."


"Aryan percaya mama kamu pasti bisa sembuh,kamu harus semangat ya."


"Mama harus janji sama Aryan satu hal!.Mama tidak boleh menangis seperti ini lagi. Kalau mama nangis hati Aryan sakit banget."


"Iya sayang mama janji,tapi kamu harus sembuh."


"Ma Aryan ada permintaan lain."


"Apa sayang ayo bilang ke mama,mama pasti akan mengabulkan nya."


"Aku mau bicara sebentar dengan Zahra."


"Aryan apa disaat seperti ini kamu hanya terus memikirkan dia, bagaimana dengan mama."


"Ma, Aryan hanya punya sedikit pertanyaan yang Aryan ingin tahu jawabannya."


"Baiklah mama juga udah janji akan mengabulkan keinginan kamu."


Risma memberikan ponsel Aryan secara tidak rela,dia hanya tak ingin di saat-saat terakhir anaknya masih saja akan mengalami sakit hati.Tetapi dia tidak bisa menolak keinginan Aryan karena dia tahu kalau anaknya ini sangat keras kepala.


"Makasih ma."


Risma segera keluar ruangan menunggu di depan pintu.Dia membiarkan Aryan menelpon Zahra sesuai keinginan nya.Dari kejauhan dia melihat Irene dan Dinda terburu-buru.Saat mereka akan masuk memastikan keadaan Aryan, Risma tidak mengijinkan nya."


"Kalian lebih baik tunggu disini aja sampai Aryan selesai menelpon."


"Tapi ma,aku khawatir sama kak Aryan."


"Aryan sedang tidak ingin di ganggu."


"Zahra."jawab Risma singkat.


"Apa perempuan itu lagi,aku gak bisa biarin kak Aryan menghubungi dia."


"Dinda kamu diam disini, Aryan hanya ingin bertanya beberapa hal dengan Zahra.Kalau dia mendapatkan jawaban yang dia inginkan, mungkin dia masih memiliki semangat untuk hidup.Itu bisa membantu proses penyembuhan nya.Kamu sekali ini coba dong berfikir untuk kakak kamu."


"Dinda yang diucapin Tante Risna ada benarnya.Kamu harus memberikan sedikit privasi buat kakak kamu.Kita tunggu disini aja, pasti gak bakal lama kok."


Dinda mengangguk.Irene menenangkan nya dan membawa nya duduk di kursi tunggu.


Di dalam ruangan.


"Halo Za."


"Masih ingat buat hubungin aku."


"Hehehe maaf deh."


"Kalau di ingat-ingat ya kayak udah lebih satu bulan, ini kali pertamanya kamu menghubungi aku."


"Kamu kan tahu kalau aku banyak urusan."


"Urusan apa sih sampai ngetik pesan singkat yang gak perlu waktu satu menit aja gak sempat."


"Ini kan aku ada waktu buat menghubungi kamu, walaupun waktu nya telat."

__ADS_1


"Alasan aja terus."


"Kamu apa kabar?."


"Aku baik kok,kamu gimana?."


"Aku sakit!."


"Kamu sakit? sakit apa?."


"Aku sakit karena merindukan mu."


"Kamu tuh ya,aku udah khawatir tapi kamu malah ngawur ngomong nya."


"Kamu khawatir sama aku?."


"Nggak siapa juga yang khawatir."


"Yakin?."


"Aku gak peduli mau kamu mati juga aku gak peduli."


"Masa sih?.Ntar kalau aku mati kamu malah nangis."


"Terus kamu mau nya aku ketawa."


"Tergantung kamu."


"Kamu berharap kalau orang lain bakal menganggap aku gila."


"Kamu beneran nangis kalau aku mati?."


"Aryan gak lucu ah pertanyaan.Masa kamu nanya nya gitu sih."


"Aku cuma mau tau aja,posisi aku di hati kamu itu seperti apa."


"Kamu itu orang yang paling aku sayang, setelah orang tua aku. Sama seperti kakak aku."


"Makasi ya Za udah nganggap aku penting di hati kamu."


"Kok kamu tiba-tiba nanya hal ini sih."


"Gak papa kok Za,tahu kamu baik-baik aja aku udah senang. Kalau gitu aku gak ganggu kamu lagi ya daaa Zahra. Assalamualaikum."


Dia langsung menutup telepon karena batuk nya sudah mulai kambuh.Aryan menutup mulutnya dan melihat darah yang berada di telapak tangan nya.


"Ternyata waktu ku sudah tiba,tapi aku sudah tahu selama nya tidak akan ada Aryan di hati Zahra baik saat ada Farhan atau pun tidak Aryan hanya akan menjadi kakak yang baik di hati Zahra.Itu semua sudah cukup aku tidak akan berharap banyak lagi."


Risma yang di luar mendengar Aryan batuk segera masuk ke ruangan diikuti Irene dan juga Dinda.


"Aryan kamu gak papa sayang?."tanya nya panik.


"Aku gak papa kok..."sebelum menyelesaikan ucapannya Aryan sudah tidak sadar kan diri.


"Dok... dok ...dok .... ."Dinda berteriak panik meminta dokter segera datang melihat keadaan Aryan.


Karena tak kunjung datang Irene segera berlari ke ruangan dokter itu.

__ADS_1


Saat ini keadaan Aryan sudah sangat kritis entah apa yang akan terjadi pada Aryan kedepannya.


__ADS_2