365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Dimana Rok Aku?


__ADS_3

Orang yang sangat tertarik pada paha wanita pasti akan berubah menjadi serigala lapar ketika mereka melihatnya.


Aku menghela nafas.


Aku menundukkan kepalaku, mengarahkan mulutku ke arah luka, kemudian dengan sekuat tenaga mengisap dan menyedot darahnya keluar, lalu meludahkanya.


Dapat dirasakan dari kakinya yang indah ini, seakan saraf di dalam tubuhnya semakin membesar dan membuat kulitnya mengencang, sehingga terlihat jelas bahwa dia sedang gemetaran.


"Sudah." Aku berdeham, "Seharusnya tidak ada masalah, nanti aku akan memijatnya."


Zhafira membuka matanya, "Hah, apakah tidak perlu menggunakan obat?"


Menggunakan obat? Apakah masih ada obat di pulau terpencil seperti ini?


"Benda ini bisa menghentikan pendarahan." Kataku, sambil mengambil segenggam daun masuk ke dalam mulutku dan mengunyahnya, "Aku akan mengaplikasikannya untukmu."


"Hah, tidak perlu, aku sudah bisa bergerak, aku lakukan sendiri saja." Zhafira tersipu malu, dan dengan cepat mengikuti caraku mengambil daun dan mengunyahnya.


Aku melihat wanita kaya yang sangat menawan ini, membuat pemikiranku sedikit melenceng.


Seorang artis terkenal, dan seorang wanita kaya, jika keduanya bisa menjadi miliku……


Aku langsung mengesampingkan pikiran jahat ini, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya, yang terpenting adalah bertahan hidup.


Apalagi kedua wanita cantik ini masih mewaspadaiku dan tidak mempercayaiku sama sekali. Aku harus mendapatkan kepercayaan mereka terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat, tenaga Zhafira kembali pulih, dan kami melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Setelah kembali ke goa, Patricia sudah menunggu dengan tidak sabaran.


Dia berdiri di bawah goa dan melihat aku kembali, ada pancaran kegembiraan yang jelas di matanya.


Aku ingin ketawa ketika melihatnya.


Seorang artis terkenal, lalu kenapa? Biasanya selalu berada diatas, diluar sana selalu ada yang melayani mereka. Tetapi di pulau terpencil ini, bukankah tetap harus bergantung pada aku?


Patricia melihat Zhafira dan langsung menyapanya, tidak disangka kedua orang itu saling mengenal.


Setelah dipikir-pikir, sudah sewajarnya saja, yang satu seorang artis terkenal, yang satu seorang wanita kaya, mereka adalah orang-orang di kalangan kelas atas, wajar saja jika mereka saling mengenal.


Kruk Kruk... terdengar suara perut lapar dari dalam goa.


Kedua wanita itu tersipu malu.


Zhafira menatapku: "Umm, kami lapar."


Aku mengabaikannya dan menunjuk kelapa di tanah, "Jika kamu ingin memakannya, kamu bisa menghancurkannya dengan batu."


"Apaan ini? Belum matang, apakah ini bisa di makan?” Zhafira mengerutkan kening, "Ambilkan aku sesuatu yang bisa dimakan untukku!"


“Bagaimana kalau kamu makan kalajengking, atau pun ular?” Aku memecahkan kelapa, memberikan sebagian besar untuk diriku sendiri dan setengah lainnya untuk mereka.


Sebuah kelapa jelas tidak bisa membuat perut tiga orang menjadi kenyang.


Pada siang hari, matahari semakin terik, goa menjadi semakin pengap dan panas.

__ADS_1


Patricia melirikku: "Gilang, rok aku mana?!"


Ketika dia mengatakan itu, aku baru ingat.


Rok Patricia masih dipakai oleh monyet betina itu.


Bagian tubuh bawahnya sekarang hanya mengenakan stoking hitam untuk menutupi kakinya yang ramping!


Aku melihat kaki yang ramping dan indah itu. Tak perlu berkata apapun, ini benar-benar sebuah godaan karena dia hanya memakai stoking hitam.


Menyadari sorot mata aku, Patricia bersembunyi di belakang Zhafira, dan menatapku dengan mata yang tidak senang.


"Uhuk, uhuk."


Aku berpura-pura batuk beberapa kali, "Rok kamu diambil oleh para monyet itu. Aku gagal mengejarnya, lalu sekalian menyelamatkan dia."


“Ta, tapi aku tidak mungkin tidak mengenakan apa-apa dong.” Patricia mengerutkan kening.


"Lagipula kamu masih mengenakan ****** ***** dan... stoking?" kataku.


“Kamu benar-benar mesum!” Zhafira memelototiku. Sembari berbicara, dia melepas jaketnya dan memberikannya kepada Patricia, “Kamu pakai ini untuk menutupi kakimu dulu.”


Patricia mengangguk, dan mengikatkan jaket denim ke bagian tubuh bawahnya.


Aku sedikit kecewa, setelah ini aku tidak bisa melihat kaki indah yang di balut stoking hitam itu.


"Oke, nanti kita pergi saja ke pantai untuk mencari koper yang mungkin tertinggal, siapa tahu dapat menemukan beberapa pakaian untuk kamu ganti.”

__ADS_1


Aku melirik mereka berdua, "Tapi, lebih baik kalian berdua dengarkan aku, jangan sembarang berkeliaran, jika tidak, jangan salahkan aku ketika aku tidak mempedulikan kalian.”


"Bukan urusanmu!" Zhafira memelototiku.


__ADS_2