365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Menjepit dengan Paha...!


__ADS_3

Aku memegang senter dan lanjut berjalan ke lantai berikutnya.


Berdasarkan deskripsi yang diberikan Naomi, ruangan medis seharusnya berada di lantai berikutnya, aku menempel ke dinding dan berjalan pelan menuju ruangan medis yang ada di ujung koridor.


Dari kejauhan, aku melihat cahaya redup di ujung koridor.


Aku tidak berani bergerak. Aku menempel ke dinding, menggunakan telinga untuk mendengar gerak-gerik di dalamnya.


Aku membuka pintu sedikit, lalu melihat ke dalam. Di dalam sana aku melihat seorang wanita primitif di atas meja operasi terbaring telanjang dengan banyak luka di tubuhnya!


Dan di samping meja operasi ada seorang wanita sedang berdiri. Dia memakai kacamata, mengenakan kemeja dan celana kulit ketat berwarna hitam. Dia memasukkan kemeja ke dalam celana dan membuat lekuk garis pinggangnya terlihat lebih jelas. Tubuhnya sangat seksi.


Anna! Itu dokter yang aku cari!


Aku mendorong pintu itu terbuka dan melangkah masuk.


Belum sempat aku membuka mulut untuk bertanya, Anna sudah menyadari kehadiranku. Dia segera membalikkan badan sambil memegang pisau operasi di tangannya, kemudian menatapku dengan terkejut:


"Siapa kamu?"


"Aku di sini untuk menyelamatkanmu." Aku segera menunjukkan gelang yang diberikan oleh Elizabeth, "Naomi dan teman lainnya yang menyuruhku untuk datang menolongmu dan membawamu kembali.”


"Oh." Anna membalikkan badannya, "Tunggu sebentar, aku akan menjahit lukanya terlebih dahulu."


"Untuk apa kamu menyelamatkannya, bukankah dia manusia primitif?" tanyaku.

__ADS_1


"Manusia primitif juga manusia, dan aku seorang dokter, tentu saja aku harus menyelamatkan orang." Anna berkata, "Sebentar lagi selesai."


Aku menghela nafas dan hanya bisa menunggu.


Pada saat ini, tiba-tiba, ada suara langkah kaki terdengar dari luar.


Seorang pria Jepang berteriak dalam bahasa Jepang: "Nona Anna, apakah orangnya sudah bangun?"


Raut wajah Anna berubah, dia segera menarikku dan mendorongku ke bawah meja kerja yang ada di sebelah, dia duduk di kursi dan menjepit kepalaku dengan pahanya!


"Bersembunyilah dengan baik, jangan bersuara." Anna memperingatkan.


Aku dijepit oleh paha Anna dan berjongkok di bawah meja kecil. Suara langkah kaki semakin mendekat, pintu terbuka dan seorang pria berjalan masuk.


Suara pria itu agak serak, dan dia berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksennya: "Nona Anna, Aku memintamu untuk menolong seseorang, bagaimana keadaannya? Apakah kamu sudah mengobati luka yang ada pada tubuh wanita ini?"


Terdengar suara langkah kaki laki-laki masuk ke dalam, "Um?, di kamar ini ada bau laki-laki!"


Aku terkejut, penciuman pria ini kenapa bisa sebagus ini?


"Nona Anna, kamu harus tahu, hanya dengan tinggal bersama kami, kamu dapat bertahan hidup di pulau terpencil ini." Pria itu melanjutkan.


"Anak buahmu tadi datang ke sini." Jawab Anna, "Sudah larut malam. Jika Tuan Julian tidak keberatan, aku ingin beristirahat."


Anna berbicara sambil berdiri, dia masih menjepit kepalaku dengan pahanya agar aku tidak bersuara.

__ADS_1


Tapi postur ini sangat tidak nyaman.


Jelas, dia sedikit gugup, aku dapat merasakannya.


Pria itu menggumamkan sesuatu dalam bahasa Jepang lagi. Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Hanya terdengar suara pintu tertutup dan langkah kaki yang semakin menjauh.


"Bisakah kamu membiarkan aku keluar?" Tanyaku.


Anna duduk di kursi, menundukkan kepalanya, menatapku dengan wajah memerah, "Keluarlah."


Aku menatap matanya, matanya sangat indah, tulang selangkanya seksi, kulitnya putih dan lembut, kancing bajunya sangat ketat, hingga kancing tersebut bisa terbuka kapan saja.


Aku tak tahan dan lanjut melihatnya lagi.


"Apakah sudah cukup melihatnya?" Anna tiba-tiba menatapku dan bertanya.


Aku melihat ekspresinya yang penuh dengan godaan, apakah dia sedang menggodaku? Kalau begitu aku tidak takut padamu, aku secara langsung melihat postur badannya, "Postur badan yang begitu bagus, sangat disayangkan jika hanya dilihat sebentar dan di pendam dalam hati.”


"Kamu sedang memuji postur badanku bagus?" Anna juga tersenyum, "Mulutmu manis sekali."


"Aku selalu jujur pada wanita cantik." Kataku.


“Kalau begitu, maukah kamu menyentuhnya?” Anna tiba-tiba meraih pergelangan tanganku dan meletakkan tanganku di dadanya.


Aku tercengang.

__ADS_1


Wanita bule ini terbuka sekali, bukan?


"Apakah kamu... selalu seperti ini?" tanyaku. Jika dia berperilaku seperti ini kepada semua pria yang dia temui, maka aku tidak tertarik padanya.


__ADS_2