365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Gambaran yang Tak Terlukiskan


__ADS_3

Aku pikir dia adalah seorang pria dan juga dadanya sangat rata... Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa yang terbaring di peti mati adalah seorang wanita!


Dan, karena orang tua aneh itu memberinya makan bunga, wanita ini sudah mulai bereaksi...


Benar-benar sangat tidak beruntung, tidak tahu sudah tertidur berapa lama dan begitu bangun harus menerima tekanan yang cukup besar!


Tepat ketika dia sedang berpikir, sudah mulai terdengar suara rengekan di telinganya.


Aroma bunga yang kuat di ruangan itu membuat hasrat nafsu seseorang meningkat. Dirinya menjadi linglung dan merasa tubuh seperti didominasi oleh hasrat nafsu!


Tapi aku masih tergantung di atas atap dan tidak bisa melepaskan diri. Ketika darah mengalir terbalik, kepalaku sakit, hidungku mulai sesak napas, aku tidak bisa mencium aroma bunga dan seluruh tubuhku tiba-tiba menjadi dingin...


Seperti orang yang sudah mau mati.


Aku bergoyang ke sana kemari mencoba memutuskan tali jerami, lalu berayun ke depan dan ke belakang seperti bandul yang berayun.


Tali jerami masih terikat sangat kuat, namun berat badanku tidak cukup berat. Jika ada seseorang yang membantuku menariknya, aku pasti bisa membebaskan diri.


Masalahnya, orang-orang ini semua terpengaruh dengan aroma bunga dan pikiran mereka tidak begitu jernih. Lantas, siapa yang bisa datang membantuku?


Aku membuka mata dan melihat pemandangan indah di depanku. Pemandangannya terlalu indah dan berantakan.


Peri itu sepertinya sudah bangun. Meskipun kondisinya terlihat tidak beres, tapi itu jauh lebih baik daripada empat wanita lainnya. Setidaknya pakaiannya masih utuh dan tidak berpelukan satu sama lain.


Aku bergoyang-goyang, membuka mulut untuk memanggil nama Bell dan memintanya untuk datang membantuku.

__ADS_1


"Cepat, cepat bantu aku..." Aku merasa kepalaku semakin berat, hidungku tersumbat, dan napasku mulai sulit.


Bell dengan susah payah mengangkat kepalanya menatapku, lalu mengangguk dan perlahan merangkak.


Di lantai tengah-tengah ruangan, empat wanita tersebuh berguling bersama, lengan dengan lengan, kaki dengan kaki. Gambaran yang tak terlukiskan akan segera dimulai.


Aku sangat bersedia mengikuti olahraga banyak orang seperti ini. Tapi, diriku digantung dan ada sayatan luka di tangan yang membuat darahku tak berhenti mengalir. Aku hanya perlu menunggu waktu untuk mati karena kehilangan banyak darah.


Aku harus bisa keluar dari situasi ini dan mencari cara untuk mengatasi masalah di dalam tubuh mereka.


 Aku sendiri saja tidak bisa melepaskan diri karena tidak punya tenaga. Kalau biasanya, aku bisa membungkukkan badan dan mengangkat bagian tubuh atas untuk melepaskan tali jerami yang diikat ke kakiku.


Tapi sekarang aku tidak punya tenaga untuk itu dan hanya bisa menunggu Bell untuk menyelamatkanku.


Peri masih bisa menjaga agar otaknya agar tetap jernih, tapi dia juga berjalan ke arahku dengan terhuyung-huyung.


Bell berjalan tersandung-sandung ke arahku. Aku memanggil namanya untuk menunjukkan jalan padanya.


Akhirnya, Bell meraih peti mati, lalu berbalik dan meraihku.


Aku memegang tangannya dan pada saat yang sama sekuat tenaga menjatuhkan badan ke bawah.


Krek!


 Tali jerami tidak putus, tetapi papan balok di atas atap patah olehku!

__ADS_1


Saat ini, aku juga mulai panas dan hatiku mulai terasa gatal ingin melampiaskan.


Meskipun pikiranku kacau, tapi alam bawah sadar aku masih tersadar. Pada saat seperti ini, aku harus mencari cara untuk mengatasi hal ini.


Bell menatapku, dia terengah-engah dan sekujur tubuhnya sudah tidak sanggup menahan hasratnya.


Aku meraih kepalanya dan menepuk wajahnya.


Wajah Bell berubah menjadi merah muda dan dia menatapku dengan teroleng-oleng..


Lalu, tiba-tiba aku kepikiran apakah darah bisa merangsangnya agar dia lebih sadar?


Memikirkan hal ini, aku pun meletakkan telapak tanganku di mulutnya.


Bell langsung mulai menjilati telapak tanganku dan menghisap darahku. Sedikit rasa sakit di telapak tanganku membuat otakku jauh lebih tenang.


Raut wajahnya juga sudah mulai kembali normal dan lebih kemerahan.


Napasnya sedikit tidak stabil ketika dia menatapku dan berkata, "Bunga...daun bunga..."


Ada apa dengan daun bunga?


Apakah itu menghilangkan racun?


Aku segera pergi dan mengambil beberapa bunga untuk diberikan kepada Bell

__ADS_1


"Daun...daun." Gumam Bell dalam mulutnya.


Aku memetik beberapa daun, memasukkannya ke dalam mulutku dan juga memberi Bell satu helai.


__ADS_2