
"Aku bisa jelaskan..." Aku langsung memakai celanaku. Aku merasa tidak enak hati membiarkan Patricia melihatku tanpa celana, tapi dia akan melihatnya cepat atau lambat. Membiarkannya melihat dulu juga bagus untuk persiapan batinnya, agar dia tahu bahwa diriku... hehehe….
Aku menatap Patricia: "Dengarkan penjelasanku, aku terluka..."
“Ah! Dasar bajingan, mataku jadi kotor!” teriak Patricia. Dia memejamkan mata dan menatapku melalui celah jari-jarinya, wajahnya merah merona dan jantungnya berdebar kencang.
"Aku sudah memakai celanaku. Kamu bisa membuka matamu." Kataku.
“Dasar bajingan.” Patricia mengambil segenggam pasir dan melemparkannnya ke arahku. "Ka ... kalau mau lepas celana kan bisa ke samping sana.”
Patricia berkata dengan tersipu malu.
“Terus, kenapa kamu melepaskan pakaianku? Apa kamu mencari kesempatan dalam kesempitan, hah?!” Kata Patricia manja.
Aku mendengar nada bicaranya yang manja, jadi aku duduk di sebelahnya sambil tersenyum dan menatapnya: "Kamu lupa ya, kita dari tempat tidur… eh salah, kita melompat dari perahu dan basah kuyup. Sepertinya kamu demam, jadi aku melepaskan pakaianmu."
Aku menyentuh keningnya, masih sedikit panas.
Patricia tiba-tiba tersipu, matanya mengelak dan tidak berani menatap langsung ke arahku.
Ketika aku melihatnya, dia pasti teringat akan dirinya yang menggantung di badanku. Di saat seperti ini, kita hanya bisa menganggap hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, jika tidak, ini akan sangat canggung.
Patricia dan aku bersandar berdampingan, selain menghangatkan diri di dekat api unggun, kami tidak tahu harus berbicara apa lagi.
__ADS_1
"Gimana keadaanmu sekarang, apa kamu masih sakit kepala?" Tanyaku.
Patricia menyentuh keningnya: "Aku hanya sedikit pusing."
Dia melihat bintang-bintang di langit, dan tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahuku: "Beberapa hari ini waktu terasa lama, seperti telah berlalu satu abad."
"Iya, setiap satu hari di sini sangatlah panjang." Aku menghela nafas, "Tidak ada ponsel, tidak ada komputer, dan tidak ada buku. Bahkan makanan dan pakaian pun jadi masalah. Siapa yang mau tinggal di sini?"
“Kita pasti bisa pergi dari sini, kan?” Patriciabertanya padaku tiba-tiba.
Aku mengangguk, "Pasti bisa."
“Terima kasih.” Patricia berkata: “Meskipun kamu orang yang mesum, tetapi kamu juga orang baik.”
Aku dengan spontan mengangguk, "Tentu saja aku orang baik."
Jadi jika dia setuju, aku boleh memegang pahanya?
“Aku ingin ke toilet.” Patricia tiba-tiba tersipu dan menatapku, “Bagaimana dong, tidak ada tisu…”
Aku tercengang... Primadona ingin ke toilet saja harus menggunakan tisu, tetapi di pulau ini sama sekali tidak ada tisu.
“Iya, tidak ada tisu, gimana kalau daun saja?” kataku tanpa sadar.
__ADS_1
“Mati saja lah kau!” Patricia memukulku dan menoleh: “Aku akan cari cara sendiri.”
Patricia berjalan ke sisi pohon besar dan berjongkok.
Belum dua detik berlalu.
“Gilang… kemarilah sebentar.” Patricia berkata tiba-tiba.
Jantungku berdetak cepat, apa dia sedang memberikan kode padaku? Untuk apa dia memintaku ke sana?
Aku pergi menghampirinya dengan memakai celana boxer.
Patricia menjulurkan kepalanya dari balik semak-semak: "Aku takut gelap, bisakah kamu menemaniku di sini..”. Dia sangat malu, sebagai seorang artis terkenal, dia belum pernah buang air di depan seorang pria.
Aku mengangguk.
Patricia kembali menambahkan: "Jangan ngintip!"
Aku ingin sekali mengintip, tetapi masalahnya tengah malam seperti ini aku juga tidak bisa melihatnya.
Setelah beberapa saat, Patricia bangkit dan berjalan keluar dari rerumputan dengan wajah memerah dan kepalanya tertunduk.
Tentu saja, aku juga tidak tahu apa yang dia gunakan untuk membersihkannya, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, aku hanya bisa menebak sesuatu, seorang primodana yang selalu berada di kalangan atas, seorang artis terkenal, terpaksa menjadi sosok yang sangat tidak berdaya.
__ADS_1
Aku ingin tertawa melihat perawakan Patricia. Dia seperti seekor anak kucing dengan cakar kotor. Dia ingin membersihkan cakarnya, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah beberapa saat, Patricia meletakkan tangannya di tanah, lalu membersihkan tangannya dengan pasir, setelah itu dia bersandar pada batu, dan mengambil dahan untuk ditambahkan ke api.