365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Jangan Kamu Hisap!


__ADS_3

"Boleh juga." Naomi bergumam, "Aku tidak keberatan, jika kamu benar-benar bisa mendapatkan ikan untuk dimakan."


"Aku pergi ke luar untuk memeriksa perangkap, sekalian pergi ke toilet." Naomi bangkit dan berkata, "Elizabeth, Rose, ikutlah denganku."


"Umm."


Ketiga gadis itu adalah satu kelompok. Meskipun mereka berasal dari negara yang berbeda, mereka memiliki hubungan yang sangat baik.


Anna juga mengangguk, menatapku dan berkedip, "Kalau begitu serahkan padamu… bro."


“Aku juga pergi membuat pancingan dan tombak.” Aku meraih kapak batu dan pedang di sampingku.


“Aku juga ikut denganmu, membantumu hal-hal kecil.” Patricia tidak ada kerjaan, jadi berinisiatif diri untuk membantu.


Zhafira berbicara dari belakang: "Lalu bagaimana denganku, apa yang aku lakukan?"


"Kamu pergi mencuci pakaian, cucilah pakaianku, dan pakaian kotor kamu cuci di dalam genangan air kecil.” Aku menatapnya dan berkata.


"Oh." Zhafira mengangguk dan pergi mencuci pakaian dengan patuh.


“Kenapa tiba-tiba dia menuruti perkataanmu?” Patricia menatapku dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Bukankah dia yang paling membencimu?”

__ADS_1


"Maksudmu Zhafira? Dia itu cemburuan. Aku selalu memperlakukanmu dengan baik, dia cemburu, jadi dia selalu mencari masalah denganku. Sekarang dia sudah mengerti, sudah berpikiran lebih terbuka, jadi lebih menurut.” Kataku.


“Hmph, menurutku kamu pasti mengancamnya, jika dia tidak menurut, maka kamu akan mengusirnya keluar dari perkemahan, ya kan?” Patricia menatapku, “Aku tak menyangka kamu ternyata orang yang seperti itu, apakah kamu ingin mengancamku seperti itu juga?!”


"Berhenti, sebelumnya kamu bilang kamu tidak suka pria, jadi jangan terus menggodaku seperti ini." Aku menatap matanya, "Aku mau tanya sesuatu tentang gosip."


“Gosip apa? Karena cuma gosip, jadi tidak perlu bertanya” Patricia menatapku.


"Jangan, aku hanya ingin tahu saja." Aku tersenyum, "Skandal hubungan asmara antara kamu dan brondong ketika kamu debut beberapa tahun lalu, apakah itu benar?”


Aku ingat bahwa dalam beberapa hari itu, semua jenis video dan gambar beredar di internet. Orang-orang di sekitarmu pun ikut membeberkan berita itu, kemudian berita itu hilang begitu saja.


Mungkin akal-akalan tim produksi, untuk menaikkan pamor film baru.


"Hehe, sudah kuduga itu bohongan, kamu tidak suka laki-laki, ya kan?" Aku berbicara sambil menatapnya, bahkan bisa jadi, artis itu masih anak-anak!


Sayangnya, membebaskan diri dari suatu hal di industri hiburan, benar-benar sangat sulit.


Betapa rumitnya industri hiburan, perselingkuhan, bermain kartu di dalam ruangan, pertempuran di dalam tenda... semuanya ada.


“Tak perlu kamu membicarakannya.” Patricia menatapku dengan marah, “Jika kamu tidak bergosip tentangku, apakah kamu akan mati?”

__ADS_1


"Namanya juga lagi bosan, lagipula aku penasaran tentangmu, dan juga salah siapa kamu punya begitu banyak gosip.” Aku menatapnya dan tersenyum.


“Itu semua sengaja dilakukan oleh tim, kamu pikir aku mau, menjadi seorang artis wanita harus menjaga kepamoran, jika tidak, dengan cepat akan dilupakan orang.” Patricia cemberut, “Hah, menjadi seorang artis sangat melelahkan, setiap hari ada aktivitas, setiap hari bekerja, bahkan tahun baru saja tetap harus bekerja.”


“Kamu begitu cantik, siapa yang bisa lupa, kamu yang sekarang adalah patokan ‘orang cantik’, sama sekali tidak akan kadaluwarsa.” Aku menatap matanya.


“Sekarang saja tidak tahu apakah mampu bertahan hidup atau tidak.” Patricia menghela nafas, “Terima kasih, jika tidak ada kamu, aku mungkin sudah mati kelaparan.”


"Kalimat yang kamu katakana ini benar." Aku mengangguk, "Jangan khawatir, selama aku hidup, aku pasti akan membuatmu teta hidup."


"Benarkah?"


"Tentu saja." Aku mengangguk. "Aku masih ingin kau menghangatkanku."


“Hmph, sudah kuduga kamu pasti ada maunya, apakah kamu ingin kami semua menghangatkanmu?” Patricia memukul punggung tanganku.


"Bagaimanapun juga, aku masih pria normal." Gantian aku yang menahan tangannya.


Begitu tangan Patricia tertahan, dia sedikit berteriak, lalu jarinya tersayat oleh bambu.


"Ah, jangan kamu hisap..." Dia sedikit berteriak terengah-engah.

__ADS_1


Aku hisap dan menahan jarinya, ketika berdarah, aku terbiasa mengisapnya dengan mulut, jadi aku menghisapnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Patricia menatapku dengan kesal, menarik jarinya, dan menatapku, "Siapa yang menyuruhmu menggunakan mulut..."


__ADS_2