
Anna berbaring di tanah, tiba-tiba dia mengeluarkan suara merintih, sepertinya dia akan segera bangun.
Aku membungkuk dan menyentuh kepalanya, suhu badannya sudah turun, tetapi wajah dan kulitnya memerah, seolah-olah dia sedang mimpi basah, dia menyentuh badannya dan kedua kakinya yang merah muda saling bergesekan.
Aku melihatnya dari atas ke bawah, seperti ada api berkobar di hatiku, hampir saja membuat tubuhku terangsang.
Aku menoleh dan melirik Patricia, untung saja dia tidak menyadari situasi di sini.
Jantungku berdetak kencang, dalam kondisi ini, haruskah aku membantunya?
Um? Aku memikirkannya sejenak, lalu segera mengambil keputusan untuk membantunya.
Perlahan kuulurkan tanganku...
(erangan keras)
Anna tiba-tiba menyatukan kedua kakinya, lalu membuka matanya dan terengah-engah.
Dia melihat telapak tanganku, "Sudah boleh melepaskannya?"
Ucapnya pelan.
Aku pelan-pelan menarik tanganku, "Aku... hanya ingin mengecek suhu tubuhmu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Apa yang aku pikirkan?" Anna tiba-tiba bangkit, memegang leherku dengan kedua tangan, dan berbisik: "Kita masih punya waktu... dan kesempatan."
__ADS_1
Kobaran api di hatiku semakin besar dihadapkan dengan dua wanita cantik bertubuh seksi. Aku hanya bisa melihat tetapi tidak dapat menyentuhnya, tenggorokanku terasa kering.
Anna melepaskanku, kemudian bangkit dan berjalan ke api unggun. Dia menggigil sebentar, lalu menatap Patricia. Dia langsung melepaskan pakaian dalamnya dan meletakkannya di atas batu untuk mengeringkannya.
Patricia tercengang.
Aku pun tercengang.
Anna meregangkan badannya, lalu meremas bagian dadanya yang montok, "Ini jauh lebih nyaman."
“Maaf, ketika aku berada di kapal, sepertinya aku mengganggumu.” Anna menoleh untuk melihat Patricia, dan berkata dengan nada meminta maaf.
“Apa yang terjadi padamu sebelumnya? Kenapa tiba-tiba kamu demam?” tanyaku.
Patricia tersipu malu, tidak berani melihat Anna.
"Ini... entahlah, mungkin pengaruh dari pulau ini," kata Anna.
"Pulau ini sangat aneh, terutama daerah ini penuh dengan sinar matahari, di dalam hutan ada bunga yang aneh, serbuk sarinya beracun."
“Serbuk sari beracun? Bunga jenis apa?” aku terkejut, seluruh hutan di sini penuh dengan bunga.
"Semacam pertemuan bunga merah dan biru. Saat mekar, aroma bunganya sangat harum, dan udara menjadi penuh dengan harumnya bunga itu. Aromanya sangat enak."
“Lalu racun apa yang ada pada bunga jenis ini?” tanyaku.
__ADS_1
"Aku juga sulit untuk menjelaskannya, tetapi setiap kali bunga ini mekar, hewan-hewan di hutan mulai kawin, gairah hewan betina menjadi naik, berubah menjadi sangat…” Anna tidak melanjutkan.
Aku mengerti maksudnya. Serbuk sari bunga ini seperti 'obat perangsang kegiatan seksual’ yang merangsang betina.
Wajah Patricia menjadi pucat ketika dia mendengar ini: "Aku memetik beberapa bunga kemarin... Aromanya sangat harum. Aku tidak pernah mencium aroma wangi seharum ini sebelumnya. Apakah karena itu aku juga ikut teracuni..."
"Sepertinya begitu. Aku masih tidak tahu jelas apa efek serbuk sari ini bagi manusia. Mungkin membuat seseorang menjadi terangsang," kata Anna.
Wajah Patricia berubah menjadi tidak enak, dia mengangkat kepalanya dan melirik ke arahku.
Aku tersenyum padanya.
Jika serbuk sari ini benar-benar beracun, bukankah ini menjadi hal yang menguntungkan untukku?
Serbuk sari yang dapat merangsang hasrat wanita.
Tidak tahu apakah yang dikatakan Anna itu benar atau salah. Aku hanya berharap serbuk sari semacam itu tidak akan mempengaruhiku.
Malam semakin larut, rombongan orang Jepang itu juga tidak datang mencari mereka.
Tidak ada pembicaraan apapun selama satu malam.
Langit baru mulai terang, aku terbangun sangat pagi. Setelah aku bangun, seluruh tubuh dan punggungku sakit. Untungnya, aku sudah terbiasa.
Aku melihat pakaian yang tergantung di batu. Semuanya sudah kering. Saat aku memakai pakaian itu, aku melihat dua wanita cantik itu tidur berpelukan di samping batu. Patricia dan Anna menempel menjadi satu, kaki berwarna merah muda dan putih itu melilit menjadi satu, tubuh yang indah itu benar-benar sangat enak dipandang.
__ADS_1
Aku menikmati pemandangan indah yang ada di depan mata sebentar, kemudian melirik ke langit yang berkabut, aku harus bergegas pergi mumpung langit belum terlalu terang.