365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Membantu Sesama


__ADS_3

Aku meraih kedua kakinya dengan satu tangan, lalu satu tangan yang lain memegang sayapnya, dan mengangkatnya dengan hati-hati, agar tidak mencakarku.


Melihat ayam hutan yang cukup besar dan gemuk ini, aku hampir saja meneteskan air liur.


“Eh, ini ayam betina.” Aku sedikit terkejut. Aku melihat jengger ayamnya yang relatif kecil dan bulu ekornya tidak begitu cerah.


Jika ini adalah ayam betina, maka tidak boleh membunuhnya, kita bisa memeliharanya hingga dia bertelur, dan bisa makan telur. Aku melirik Elizabeth, "Pulanglah dan bawakan sangkar burung untukku."


Aku memasukkan ayam betina besar ini ke dalam sangkar. Ayam betina ini memberontak ingin keluar.


"Teman-teman kemarilah, lihat apa yang aku tangkap." Aku masuk ke dalam sambil berteriak.


Patricia berlari dengan panik, "Kamu cepat masuk, ada orang yang menerobos masuk!”


"Manusia?" Aku terkejut, lalu meletakkan sangkar burung di tanah, dan masuk ke dalam perkemahan.


Di samping api unggun, beberapa dari mereka mengarahkan tongkat bambu yang ada di tangan mereka ke seorang pria yang berlumuran darah!


Dan pria ini, dia mengenakan seragam pramugara, perutnya terluka, wajahnya pucat, dan dia sedang menggigit sepotong daging rusa kering di mulutnya!

__ADS_1


"Siapa kamu?" Aku menatapnya dan bertanya.


Pramugara ini awalnya sangat takut, tetapi begitu dia melihat aku masuk, matanya berbinar dan menunjuk ke arahku, "Kak, tolong, tolong..."


Aku melihat anak yang tiba-tiba muncul ini. Dia mengenakan seragam pramugara, potongan rambut cepat, alis tebal dan mata besar. Dia cukup tampan.


Setengah tubuhnya berlumuran darah, paha dan lengannya memar, dan luka paling serius adalah tusukan di perutnya.


Sepertinya ditikam dengan senjata tajam, lukanya dalam, darahnya membuat pakaian menjadi basah. Dengan lukanya yang parah ini dia masih bisa hidup, nyawanya benar-benar sangat besar.


“Kak, selamatkan aku, kita ‘kan satu negara, kamu tidak boleh membiarkanku begitu saja.” Dia mengulurkan tangannya dengan lemah, memohon padaku untuk menyelamatkannya.


Aku menatapnya, penasaran kenapa dia bisa menjadi seperti ini, ini terlalu menyedihkan.


"Dia adalah Satria, pria yang ada di perkemahan yang pernah kukatakan. Aku ingat, kamu dikejar oleh para manusia primitif, kenapa terluka separah ini?” Zhafira melihatnya sambil menutup mulutnya.


"Justru karena ditangkap oleh para manusia primitif itu. Aku mencari kesempatan untuk kabur ketika melihat mereka sedang lengah.” Wajah Satria sangat pucat, dan tangannya menutupi lukanya.


“Apakah kamu mengenal Sherly? Di mana dia? Apakah dia baik-baik saja?!!” Patricia bertanya dengan terkejut.

__ADS_1


"Sher, Sherly? Maksudmu Bu Sherly dari Sunny Entertainment? Dia juga dibawa pergi oleh para manusia primitif dan dikurung," kata Satria.


"Kak, bisakah kamu bertanya padaku nanti? Bisakah kamu menolongku? Jika kamu tidak menolongku, aku bisa mati…”


“Dia tahu di mana keberadaan Sherly, cepat selamatkan dia.” Patricia meraih tanganku dengan cemas.


Aku mengangguk, "Oke, bagaimana pun kita masih satu negara, aku juga tidak mungkin membiarkanmu begitu saja.”


“Anna, bantu aku lihat lukanya.” Aku dan Anna berjalan mendekat dan berjongkok di samping Satria.


“Kamu bertahanlah sebentar, dia adalah seorang dokter.” Aku menepuk bahu Satria.


Satria sangat lemah hingga napasnya pun terengah-engah, "Aku, aku akan menahannya..."


Anna merobek pakaian yang ada lukanya, Satria menarik napas, wajahnya meringis kesakitan.


Aku mengambil batu dari samping, "Gigit, tahan."


"Lukanya tidak terlalu dalam. Tidak tertusuk hingga bagian dalam. Hanya perlu membersihkan luka dan membalutnya.” Kata Anna, “Aku pergi ambil tumbuhan obat, kamu bersihkan luka dia.”

__ADS_1


Aku mengangguk, “Ambil air.” Elizabeth mengambil air dan memberikannya kepadaku.


Aku membersihkan luka Satria dengan air, ketika Anna datang, dia mengoleskan tumbuhan obat pada Satria, kemudian membungkus luka dengan pakaian.


__ADS_2