365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Enak Tidak?


__ADS_3

Aku ingin tertawa, ternyata CEO wanita ini menyukai pria yang lebih mendominasi, dia begitu suka dikontrol?


Ketika dia berbalik badan hendak pergi, aku melihat bokongnya dan menepuknya. Zhafira menegang sebentar lalu berjalan ke sisi Patricia, dan mulai menikmati makanannya.


Dia benar-benar mendengar apa yang aku katakana, menjilat kaleng makanan itu hingga bersih...


“Aku pergi mandi dulu.” Patricia sudah selesai makan, setelah mengucapkan kalimta itu, dia berbalik dan pergi.


“Tunggu aku, aku juga ikut.” Elizabeth bangkit.


Anna dan Rose setelah selesai makan malam, mereka keluar untuk memeriksa perangkap. Naomi membereskan barang-barang, dan juga pergi mandi.


Hanya tersisa Zhafira sendiri, dia menatapku dengan mata yang lemah, sama sekali sudah tidak terlihat sikapnya yang arogan itu.


Sebelumnya, dia selalu meneriaki aku, sama sekali tidak pernah menganggap aku, siapa yang mengira begitu aku mengancamnya dia langsung menjadi lemah.


“Kemari, pijat bahuku.” Kataku.


Zhafira mengangkat kepalanya, sangat jelas dia terkejut, "Apakah kamu sedang membicarakan aku?"


"Kalau tidak? Jangan lupa siapa kamu sekarang." Aku menatapnya, "Kemari dan pijat bahuku."


"Oh." Zhafira segera bangkit, berjalan seolah-olah dia disiksa, dan dengan hati-hati mengulurkan tangannya, lalu meletakkannya di bahuku.


Selama ini selalu orang lain yang memijatnya, kapan dia pernah melayani orang lain?


Perubahan identitas membuatnya sulit untuk menerima.


Tangannya kaku sehingga tenaganya lebih kuat.


"Apakah kamu ingin membunuhku?" Aku mengerutkan kening dan menatapnya.

__ADS_1


Aku benar-benar hanya ingin menakutinya, dan sengaja mencari masalah dengannya.


Zhafira panik, "Aku... aku tidak bermaksud begitu."


"Berbuat salah harus mendapatkan hukuman, sini berbaring.” Aku menepuk pahaku.


Wajah Zhafira memerah, dia tersipu malu.


"Kemarilah." Kataku.


Zhafira menggertakkan giginya, menahan penghinaan ini dan merangkak ke pangkuanku, dia menundukkan kepalanya dan mengerti apa yang akan aku lakukan.


Aku menatapnya yang hanya mengenakan pakaian dalam, bokongnya bersinar merah muda seperti buah persik.


Plak!


Aku memukulnya


Zhafira tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara.


“Enak tidak?” Aku tertawa dan memukulnya lagi.


"E… enak..." dia mulai menangis.


"Apakah aku menyuruhmu menangis?" Aku mencubit dagunya, "Lihat aku, apakah aku menyuruhmu menangis?"


"Tidak… tidak." Masih ada air mata yang tertinggal di matanya, dia merasakan rasanya dihina.


"Tahan air matamu." Aku memerintahkannya.


Dia menggertakkan giginya, menutup matanya dengan rasa sakit dan gembira, air mata mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


Aku memukul bokongnya sampai merah, dan kemudian melepaskannya, "Lanjut pijat bahuku."


"Jika aku merasa tidak puas, maka malam ini kamu tidak akan mendapatkan malam malam." Kataku.


Dia tampak membeku. Menangis dengan suara rendah.


“Kenapa kamu menangis? Kala itu bagaimana kamu memperlakukanku?” Aku mencibir, “Bukankah kamu dan Agung ingin mengusirku? Kamu bahkan meminta Agung untuk memberi pelajaran padaku, bahkan bersiap untuk meminta polisi untuk menangkapku ketika sudah berhasil keluar dari sini?”


"Agung mencoba untuk membunuhku, pasti itu juga perintah darimu, kan? Kalau tidak, kenapa kamu begitu terkejut ketika melihatku?" Tanyaku.


Zhafira panik, dengan cepat dia menjelaskan bahwa itu bukan salahnya.


"Bukan salahmu? Tapi ada hubungannya juga denganmu. Ingat, kelak jangan pernah memasang sikap yang menyebalkan di depanku!"


"Mengerti?" Kataku dengan nada yang tidak bisa membuatnya balik bertanya.


"Aku mengerti." Zhafira menundukkan kepalanya.


Dia takut padaku sekarang.


Dia juga menyadari bahwa meskipun di perkemahan ini wanita semua, hak aku untuk berbicara di sini masih sangat penting.


"Lanjut pijat." Aku memejamkan mata dengan nyaman dan bersandar di kakinya.


Zhafira berlutut di tanah dan dengan hati-hati memijit bahuku.


Menaklukan CEO wanita ini merupakan sebuah tantangan bagi aku, dan juga merupakan hal yang sangat menyenangkan.


Dia takut padaku sekarang, suatu hari nanti dia akan terbiasa dengan perasaannya ini, dan sepenuhnya akan dikendalikan olehku!


"Sudah, kamu juga pergi mandi." Aku menatapnya, meraih tangannya, "Lihat badan kamu kotor."

__ADS_1


__ADS_2