365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Sedikit Panik


__ADS_3

Batu besar yang menonjol juga tidak terlalu tinggi. Aku langsung melompat dan mendarat di bawah dengan mulus. Kemudian, aku mengulurkan tangan untuk membawa Bell turun ke bawah.


Di depan, terdapat sebuah hutan yang dipenuhi dengan daun yang lebat yang bahkan, sinar matahari pun terhalang.


Kami berjalan ke dalam menuju hutan.


Di dalam hutan sangat sunyi dan udaranya lembab.


Kabut juga menyelubungi tempat tersebut..


Keberadaan kabut tersebut membuatku dan Bell sulit untuk melihat ke depan. Jarak yang dapat terlihat oleh mata kami hanya sekitar 10 meter.


Tiba-tiba.


Di depan ada sebuah bayangan!


Bayangan tersebut berdiri di bawah pohon dan tidak bergerak.


Langit mulai gelap dan pandangan hutan di mana langit tak terlihat pun juga mulai kabur. Dari jarak kurang lebih 10 meter masih ada kabut-kabut tipis yang membuat kami tidak dapat melihat jelas bayangan yang ada di depan merupakan pria atau wanita, atau bahkan bukan manusia.


Benar! Orang tersebut mungkin bukan manusia!


Memikirkan hal ini, aku sedikit terkejut. Mungkinkah orang yang berdiri di sana adalah manusia kayu?


Sambil memikirkan hal ini, aku berjalan mendekat ke sana. Dan setelah mendekat, benar-benar di luar dugaan. Bayangan orang tersebut benar seorang manusia kayu…

__ADS_1


Seorang manusia kayu yang rusak dan berdiri sendirian di bawah pohon. Kakinya terkubur di tanah, tubuhnya penuh dengan lumut dan kotoran burung.


Dia melihat kejauhan seolah sedang menunggu sesuatu.


Aku berjalan mendekat dan melihat wajah manusia kayu ini juga memakai topeng perunggu. Setelah topeng di buka, di dalamnya sudah hancur, ada lekukan kosong di bagian alis dan tidak ada apa-apa selain itu.


Pohon yang berada di sebelah, ternyata tumbuh dari tubuh manusia kayu ini. Cabang pohon membuat bagian dalam manusia kayu menjadi rusak dan hanya tersisa cangkang kosong.


“Manusia kayu ini…” Aku menaikkan alis mataku, “Apa yang terjadi pada manusia kayu ini?”


“Tidak tahu.” Bell menggelengkan kepala dan berbicara sambil menunjuk ke arah tanah, “Sepertinya di sini adalah kuburan manusia kayu.”


“Kuburan manusia kayu?” Aku tercengang. Lalu melihat ke arah jari dia menunjuk dan terkejut.


Pada jarak sekitar 20 sampai 30 meter ke depan, di dalam tanah dan di pepohonan terdapat banyak manusia kayu. Manusia-manusia kayu ini memiliki tubuh cacat. Ada yang hanya tersisa kepala, ada yang hanya tersisa badan, atau hanya tersisa tangan kakinya.


Kaca?


Aku berjongkok dengan bingung dan mengambil beberapa pecahan kaca di dalam tanah. Begitu aku menekannya, benda ini langsung hancur.


Mungkin bukan kaca, tapi semacam kristal atau semacam permata.


Sebuah kuburan yang terdiri dari sisa-sisa kayu?


Kelihatannya sangat menakutkan dan seketika aku menjadi panik.

__ADS_1


“Sepertinya di sini bukan perkemahan orang tua itu, kita harus berjalan ke depan untuk mencari.” Aku melihat sekeliling untuk mencari jejak kaki.


Jika dipikir-pikir, sepanjang jalan aku tidak melihat ada jejak kaki. Hal ini sedikit aneh.


“Oke.” Bell menganggukkan kepala. Kemudian, dia mematahkan sebuah cabang pohon. Tidak tahu dari mana asalnya tapi Bell menyalakan api menggunakan cabang pohon tersebut.


Di dalam hutan semakin gelap. Suara burung terus terdengar dan suasana berubah menjadi sangat menyeramkan.


“Apakah kamu bisa mencium aroma madu?” tanyaku padanya.


Bell menggelengkan kepala, “Sudah tidak tercium. Di sini hanya ada bau busuk.”


“Aku juga mencium bau busuk.” Aku membuang air liur. Bau ini benar-benar sangat menyengat.


Tanah di bawah kaki juga berlumpur. Daun-daun menutupi bagian atas lumpur. Begitu aku menginjaknya, aku merasa sangat jijik.


Sekalipun jijik, aku tetap harus berjalan maju ke depan. Patricia dan Bu Zhafira menghilang, aku harus menemukan mereka.


Aku sudah pernah mengatakan akan menjaga mereka dengan baik, jadi mereka tidak boleh kenapa-napa.


“Hati-hati.” Kata Bell sambil menatapku, “Aku merasa di dalam hutan ada sesuatu.”


“Binatang buas?” Aku menatap dia. Sebenarnya, aku juga merasakan hal yang sama. Aku pun merasa kedinginan dan merinding…!


“Tidak tahu. Pokoknya rasanya sangat berbahaya.” Ujar Bell.

__ADS_1


“Kamu lelah tidak? Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk beristirahat sebentar?” ujarku.


__ADS_2