365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Tenda Ini Penuh dengan Wanita!


__ADS_3

Hah, aku sangat beruntung.


Aku mengangguk: "Ini semua juga demi menyelamatkanmu, tidak perlu pedulikan hal kecil seperti ini."


"Kamu masih berani mengatakannya!" Wanita bule itu mengangkat paha putihnya yang lembut dengan kesal dan menendangku.


 


Dia lupa bahwa pahanya terluka. Begitu dia mengangkat kakinya, luka di pahanya robek, dia menjerit hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Respon tanganku cepat dan segera merangkul pinggulnya, dan tanpa sadar aku meremasnya.


Lembut dan lentur.


 


Mata wanita bule tersebut berkaca-kaca, dia melototiku dengan marah, dan berteriak: "Lepaskan tanganmu!"


 


“Oh.” Aku segera melepaskannya.


Lalu, wanita bule itu jatuh ke tanah.


Dia menggosok pantatnya, lalu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan marah, "Kenapa ada pria sepertimu!"


 


"Ada apa denganku, aku baru saja menyelamatkan hidupmu." Aku meliriknya.


“Kenapa kamu dikejar-kejar oleh manusia primitif itu?” tanyaku.


"Bukan urusanmu." Wanita bule itu berdiri dan berjalan dua langkah, kemudian kembali terjatuh ke tanah.

__ADS_1


"Masih berani bilang bukan urusanku, jika aku tidak mempedulikanmu, kamu pasti sudah mati.” Aku menggelengkan kepala dan berjongkok untuk memeriksa lukanya.


Lukanya mulai berdarah lagi, tidak terlalu dalam, tetapi sangat panjang.


Aku berjongkok dan mengangkat kakinya dengan tanganku untuk melihatnya: "Tidak apa-apa, ini bukan luka serius, hanya perlu diperban saja."


Begitu aku menundukkan kepalaku, tiba-tiba terlihat bagian dalam ujung stoking tubuh bagian bawah wanita bule itu... Pemandangan ini langsung membuat darahku melonjak.


"Beraninya kamu mengintip!" Wanita bule itu sangat marah hingga dia meninjuku.


Aku menoleh ke arah lain dan terbatuk beberapa kali, "Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian pendek begini Aku akan membantu membalut lukamu, kamu robek dulu stokingmu."


"Aku... aku tidak bisa mengangkat tanganku." Wanita bule itu berkata dengan lemah.


"Kalau begitu aku bantu." Aku tidak keberatan untuk membantu dia melepaskan stokingnya.


"Tidak boleh!" Wanita bule itu berteriak, " Temanku berada tidak jauh dari sini, kamu bisa bantu anterin aku pulang."


Aku mengabaikannya, lalu mengulurkan tangan dan merobek stoking yang ada lukanya.


Aku membungkus lukanya dengan stoking, "Ayo jalan, aku akan memopongmu."


"Um." Wanita bule itu tidak melawanku kali ini, dan dengan patuh membiarkan aku memopongnya. Kami berjalan menuju tenda yang dia tunjuk.


Melalui percakapan sepanjang jalan, aku sudah mengetahui namanya.


Elizabeth.


Dia berkata bahwa dia orang Inggris dan ibunya orang Indonesia, jadi dia memberi namanya sendiri dengan Elizabeth.


Aku bergumam sebentar, nama ini lumayan bagus.


"Di mana tenda yang kamu maksud?" Aku bertanya padanya.

__ADS_1


Setelah berjalan sebentar, akhirnya terlihat tenda yang dia maksud, di sebuah goa yang jauh di dalam hutan ini.


Ada tiga teman lainnya di dalam tenda itu!


Dan semuanya wanita!


Mereka semua sangat cantik!


Setelah berjalan selama lebih dari satu jam, akhirnya aku membawa Elizabeth kembali ke tenda yang dia maksud.


Goa bawah tanah.


Stalaktit menggantung dari atas dengan ketinggian lebih dari sepuluh meter. Stalaktit tersebut memancarkan berbagai warna cahaya, suhu di dalam sangat tinggi, goa di dalam juga sangat besar, dan ada ruang yang cukup untuk menampung para penyintas.


Aku terkagum-kagum dengan keindahan goa, ini adalah tempat yang tiada tandingnya bagi para penyintas.


Apalagi yang terpenting, ada beberapa tenda di depan!


Ada meja dan kursi juga!


Ini benar-benar seperti sebuah perkemahan!


“Ini perkemahan kalian? Kok ada tenda?” tanyaku.


Elizabeth menggelengkan kepalanya: "Aku tidak tahu, tenda-tenda ini sudah ada di sana ketika kami menemukan tempat ini."


“Sudah berapa lama kalian tinggal di pulau ini?” tanyaku lagi.


Karena aku ingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah terdengar kabar ada pesawat jatuh.


“Sudah… lebih dari sebulan?” Elizabeth mengerutkan kening dan berpikir.


"Naomi! Rose!"

__ADS_1


"Di mana kalian?" teriak Elizabeth.


Tidak ada orang di dalam tenda.


__ADS_2