365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Punggung Terluka


__ADS_3

Dia menatap kami dan tepat ketika ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia tersungkur jatuh. Hal itu membuat kami terkejut.


“Ah! Punggungnya ada luka.” Ucap Naomi sambil menunjuk ke arahnya.


Aku melihat ada luka di bagian punggungnya yang putih dan indah. Lukanya sangat dalam dan merupakan luka tembak!


Aku terkejut begitu melihat ada luka tembak.


Dia pasti bertemu Agung.


“Darah dia bukan berwarna merah.” Kata Naomi padaku sambil menunjuk lukanya.


Ada tetesan air seperti embun di luka itu yang menggempul menjadi satu. Ketika aku mengulurkan tangan dan menyentuhnya, cairan yang berawarna hijau tersebut terasa sangat lengket. Lukanya terbilang sangat parah karena sepertinya mengenai tulang. Daging di dalamnya sampai bernanah, terlihat sangat menjijikan. Sepertinya luka ini sudah ada dari beberapa hari yang lalu.


Dengan luka yang begitu parah dan lama, dia masih bisa hidup seperti biasa. Ini benar-benar menakjubkan.


Jika bukan manusia, memang tidak bisa menggunakan cara berpikir manusia untuk menganalisis.


“Apakah dia tanaman? Kenapa tidak ada pembuluh darah? Aroma di tubuhnya juga sangat harum.”  Ujar Rose setelah berjalan mendekat untuk mencium.


Naomi berjongkok dengan hati-hati sambil melihat kedua binatang tersebut dan berkata, “Majikan kamu terluka, kami ingin mengobati dia. Jadi kamu jangan makan kami ya!”


Dia menempelkan kedua tangannya dan berdoa pada dua binatang buas itu.

__ADS_1


Kedua binatang tersebut membuka mulut mereka dan menguap, seolah-olah mereka tahu bahwa kami sedang menyelamatkan orang. Mereka pun berbaring di tanah dan menatap kami.


“Lukanya sepertinya sudah sembuh.” Naomi berjongkok dan menggunakan kuku jarinya untuk menekan cairan yang memadat di lukanya.


Naomi menggunakan kuku jarinya untuk menyentuh kulit dia. Di saat itu, aku melihat kulitnya yang sedikit bergetar.


“Kenapa suhu tubuhnya begitu panas?” Rose juga berjongkok dan menyentuh kepalanya.


Aku juga menyentuh kepalanya. Benar-benar sangat panas.


“Harus segera mengobati luka dia.” Kataku, lalu menggendong dia.


Aku menggendong dia menuju ke pinggir pantai. Aku merasa tubuhnya sangat ringan dan lembut. Aroma tubuhnya seperti buah yang sudah matang, sangat segar.


“Peri? Mungkinkah kamu seorang peri seperti yang ada pada legenda barat?” Aku mengangkat rambutnya yang panjang karena penasaran dan melihat telinganya agak runcing…


“Wow, benar-benar peri!” Aku terkejut.


Kedua wanita lainnya juga terkejut begitu melihat telinga dia, “Apakah ini peri? Oh My God, apakah benar ada makhluk seperti ini?”


“Ti, tidak tahu. Lagipula tidak ada yang pernah melihat rupa peri.” Aku menggelengkan kepala.


Setelah berjalan sebentar, tiba-tiba aku tersadar, air laut tidak dapat membersihkan luka.

__ADS_1


“Di pegunungan sebelah sana ada danau. Air di dalam sangat jernih dan merupakan air tawar.” Ucapku sambil menunjuk ke arah danau gunung yang tak jauh.


“Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk ke sana.” Kedua wanita tersebut menatapku.


Harimau bertaring tajam itu meraung. Dia datang menghampiri dan berjongkok di depanku, lalu menatapku.


“Kamu menyuruhku naik?” tanyaku sambil menatap harimau bertaring tajam.


Harimau bertaring tajam itu mengangguk pelan.


Aku menggendong dia naik ke atas punggung harimau bertaring tajam. Rose dan Naomi mengendarai binatang buas lain yang menyerupai badak.


Kedua binatang buas ini mulai berlari menuju pegunungan. Kurang dari sepuluh menit, mereka sudah tiba di pinggir gunung.


Aku segera menggendongnya ke tepi danau dan menggunakan air pegunungan untuk membersihkan lukanya.


Setelah cairan kental yang ada pada tubuhnya dibersihkan. Daging di tubuhnya menjadi sangat bersih.


Luka tembaknya sangat parah dan peluru menyangkut di dalam. Aku hanya bisa membelah luka tembaknya, lalu melepaskan pakaian luarnya untuk membersihkan luka, mengoleskan obat herbal, dan membalutnya.


“Air sedang dimasak, sebentar lagi matang.” Kata Naomi padaku, “Bagaimana keadaan dia?”


“Seharusnya tidak apa-apa. Stamina dia sangat kuat.” Aku belum selesai berbicara.

__ADS_1


Wanita cantik yang berada dalam pelukanku tiba-tiba membuka mata. Dia langsung mengulurkan tangan, mencoba mencengkram leherku!


__ADS_2