365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Jangan Bergerak…


__ADS_3

Langit semakin gelap dan kabut semakin tebal.


Awalnya aku masih bisa melihat lebih dari sepuluh meter, setelah gelap aku hanya bisa melihat jarak tiga sampai lima meter dengan api yang menyala.


Selain keberadaan api yang menyala ini, semuanya gelap gulita. Angin berhembus kencang membuat daun di pohon bersayup-sayup.


Mendengar suara daun bersayup, membuatku bergidik.


Apalagi di dalam hutan yang gelap gulit seperti ini yang sesekali juga terdengar suara burung. Hal ini hanya menambah ketakutanku dan membuat diriku tidak nyaman.


Bell menggelangkan kepala, “Lebih baik jangan beristirahat dann lanjut mencari orang saja.”


“Oke.” Aku menganggukkan kepala dan melihat ke sekeliling, tidak tahu harus berjalan ke arah mana.


“Kita berpencar sebentar dan mencari di sekitaran sini. Siapa tahu bisa menemukan petunjuk.” Ujarku, “Kalau menemukan sesuatu kamu teriak atau menggunakan api sebagai sinyal ya.”


Aku juga menyalakan api dan berjalan maju ke depan. Kemudian, Bell berjalan ke sebelah kanan.


Orang tua itu pasti melewati celah itu dan pasti hidup di sini, bersembunyi di dalam hutan ini.


Aku mengecek cabang pohon dengan detail. Jika orang tua itu beraktivitas di sini, pasti akan meninggalkan jejak di cabang pohon.


Misal, memahat pohon, mematahkan cabang pohon atau lain sebagainya.


Pandanganku saat ini sangat terbatas. Aku hanya bisa melihat satu per satu pohon dengan dekat.


Perlahan-lahan, sekitarku menjadi sunyi.


Kabut-kabut tersebut seperti memotong suara. Begitu menoleh ke belakang, benar-benar sedikit api pun tidak terlihat.


Begitu api menyinari, kabut melawan api dan menjadi terang.


Aku berjalan sangat jauh dan tidak menemukan petunjuk yang berguna.


Sepertinya malam ini tidak akan menemukan petunjuk apapun, hanya bisa dicari besok.


Aku bersandar di balik pohon dan menyeka tanganku dengan embun yang ada di daun. Pada malam hari, hutan benar-benar sangat gelap karena daun menutupi langit. Oleh karena itu, tidak ada cahaya yang bisa masuk.

__ADS_1


Jika kondisi seperti ini akan terlalu sulit untuk melanjutkan pencarian. Hanya bisa berisitirahat semalam di sini dan melanjutkan pencarian setelah langit sudah terang.


“Di lokasi tidak ada jejak, sepanjang jalan juga tidak ada jejak apapun. Setidaknya nyawa mereka masih selamat.” Ujar Bell.


Aku juga mengerti hal ini, tetapi masalahnya adalah apakah tubuh mereka akan mendapatkan perlakuan tidak senonoh…ini yang aku khawatirkan.


Kemudian mereka mencari tempat kosong untuk beristirahat dan menyalakan api unggun.


Di sekitar sini sama sekali tidak ada makanan, bahkan buah saja tidak ada. Jadi, mereka hanya bisa beristirahat dengan perut lapar. Tetapi, meski memejamkan mata sekalipun, mereka tetap tidak bisa tidur.


Tidak tahu bagaimana kondisi perkemahan saat ini. Jangan sampai mereka sembarang berjalan keluar. Jika seandainya ada orang yang menghilang lagi, maka akan sangat merepotkan.


“Sudah larut. Beristrirahatlah.” Aku berjalan menuju api unggun dan melempar beberapa batang.


Setelah berpikir sejenak, orang tua itu memang tidak seperti penyintas, mungkin sesuatu seperti orang utan?


Tetapi orang tersebut bisa berbicara…berbicara juga bukan termasuk hal yang aneh. Di dalam otakku memiliki penerjemah bahasa secara otomatis, bisa mendengar bahasa makhluk yang lebih cerdas dan ada perasaan.


Apakah ini termasuk keterampilan khusus aku? Pikirku dalam hati. Setelah kembali ke kota dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, menjadi penerjemah juga tidak terlalu buruk.


Ketika langit mulai terang dan kabut di dalam hutan semakin tebal, tiba-tiba ada pergerakan dari balik kabut!


Aku membelalakan mata dan melihat ke dalam kabut.


Di dalam kabut yang tebal, terdengar suara langkah kaki. Tuk tuk tuk, langkah kaki sangat berat.


“Suara apa itu?”


Bell juga terbangun.


“Sstt!” Aku memberi isyarat agar dia tetap diam, “Bersembunyilah di balik pohon.”


Suara langkah kaki semakin mendekat dari balik kabut yang ada di depan. Kemudian, terdengar suara sedang menebang sesuatu.


Di balik kabut tebal, ada sosok bayangan tinggi muncul dari belasan meter depan.


Aku menyipitkan mata untuk melihat bayangan tersebut——manusia kayu!

__ADS_1


Seorang manusia kayu yang memiliki mekanisme sedang menebang pohon dengan tangannya di depan. Salah satu tangannya berbentuk seperti kapak. Dia tidak selincah manusia dan hanya bergerak ke kiri dan ke kanan, lalu menebang pohon satu per satu.


Sebuah pohon yang besarnya seperti lengan langsung habis ditebang dalam sekejap.


Setelah menebang pohon, seekor burung beo mendarat di bahunya dan bersuara beberapa kali. Manusia kayu mulai bergerak, dia mengangkat pohon yang sudah ditebang ke atas bahunya dengan satu tangan. Lalu berjalan kembali ke dalam kabut dan menghilang dengan cepat.


Manusia kayu menebang pohon?


Kami berdua saling bertatapan dan tercengang.


“Ayo ikuti! Siapa tahu kita bisa menemukan orang tua itu.” Ujarku.


Kami segera mengikuti manusia kayu itu.


Namun, meski hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam kabut, manusia kayu tersebut tetap terlihat menyeramkan.


Sungguh mengerikan!


Manusia kayu bisa bergerak saja sudah sangat mengerikan, tapi ini masih bisa bekerja. Benar-benar ajaib!


Namun, di pulau ini, sepertinya segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin..


Aku menahan rasa terkejut di dalam hati dan mengikutinya dari belakang dengan hati-hati.


Perlahan, matahari mulai terbit, kabut di dalam hutan juga mulai menghilang.


Di atas daun penuh dengan embun dan ada banyak serangga beracun yang juga mulai terbangun. Setiap kali aku melangkah, aku selalu mengecek sekitar apakah ada ular berbisa atau tidak.


Untung saja ada seorang peri yang mengikuti. Aroma tubuh mereka dapat mengusir serangga dan ular berbisa juga tidak berani mendekati mereka.


Aku berada di samping Bell, jadi sementara ini aman.


Tiba-tiba.


Gerakan manusia kayu yang ada di depan melambat!


Ada area rendah dan terbuka di depan!

__ADS_1


__ADS_2