
Bukankah efeknya terlalu tinggi?
Apakah bunga-bunga ini benar-benar takut dingin?
Aku mencobanya beberapa kali lagi dan hasilnya sama. Bunga-bunga itu langsung berubah menjadi es begitu bersentuhan dengan hujan es.
Begitu aku melihat efeknya, aku segera berlari ke sudut pojokan dengan membawa hujan es. Lalu, memasukkan beberapa ke mulut para wanita tersebut dan tak lupa menaruhnya di mata.
Aku meletakkannya di bagian mana pun yang bisa diletakkan.
Beberapa wanita mulai gemetaran, tubuh mereka bergetar hebat dan bola es muncul di permukaan kulit. Terutama kelembaban di perut bagian bawah juga mulai keluar...
Aku terus memberi mereka beberapa hujan es dan menggunakan beberapa es ke diriku sendiri.
Umm……
Aku mendengar ada suara dan menoleh. Beberapa wanita sudah bangun.
Patricia dan Sherly tertegun sejenak, lalu memelototiku. Sherly menendangku dan memaki, "Kamu! Apa yang sudah kamu lakukan pada kami?! Aku akan bertarung denganmu!"
Aku segera meraih kakinya, menatapnya dan berkata, "Berhenti! Dengarkan aku, aku hanya membantumu untuk mengenakan kembali pakaian, aku tidak melakukan apa-apa."
"Kamu..." Zhafira menatapku, wajahnya memerah tersipu malu.
"Kalau pun kamu melakukannya, juga tidak apa-apa..." bisik Zhafira.
"Apa?" Aku menatapnya.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa." Zhafira segera melambaikan tangannya, "Aku percaya padamu."
“Lihatlah, Bu Zhafira masih lebih masuk akal.” Aku menatap mereka berdua dan berkata, “Jangan begitu melihatku langsung menganggap aku orang jahat.”
“Aku digantung, kemudian bersembunyi di peti mati. Aku baru saja kabur keluar tidak lama,” ujarku sambil menatap mereka.
"Aku melihat sedang hujan dan membawamu ke sini untuk berteduh,” kataku.
“Lalu apa yang terjadi pada mereka berdua?!” Sherly menunjuk wanita asing itu dan Bell yang berbaring di sampingnya.
Aku melihat sekilas dan berpikir dalam hati gawat, aku lupa mencuci mereka berdua...
"Ini, tidak perlu aku jelaskan ‘kan apa yang terjadi barusan..." Aku menatap Patricia dengan perasaan bersalah.
Patricia dan Sherly saling berpandangan, jelas ingin memarahiku, tapi mereka berdua memikirkan keadaan mereka sebelumnya sehingga jadi malu untuk berbicara.
"Cucuku, sudah kelar belum? Kenapa tidak ada suara apapun? Apakah kamu merasa tidak sehat?"
Orang tua aneh itu berdiri di depan pintu. Sepertinya karena dia mendengar tidak ada suara di dalam, dia ingin masuk untuk melihat-lihat.
“Cucuku… ini kakek, bagaimana kesehatanmu?” Langkah kaki orang tua aneh itu terhenti.
Ketika aku mendengar orang tua itu akan masuk, kulit kepalaku terasa mati rasa dan deg-degan.
“Cepat, jangan bengong saja, cepat teriak.” Aku menatap Sherly dan Patricia sambil berkata.
“Apa?” Patricia menatapku, masih sedikit marah.
__ADS_1
"Orang tua itu mau masuk, kalian berdua cepat bersuara, jangan biarkan dia masuk," kataku kepada mereka.
“Jadi, harus berteriak apa?!” Patricia menatapku dengan kesal.
Aku langsung meraih kakinya dan mencubit betisnya.
Patricia berteriak.
“Berteriak seperti itu agar orang tua aneh itu dengar." Aku berbisik kepada mereka.
“Bu Zhafira, kamu juga teriak. Semakin mirip suaranya semakin bagus,” ujarku pada Bu Zhafira.
Zhafira sudah menjadi istri orang, jadi dia lebih paham dalam aspek ini. Tanpa perlu aku melakukan apa pun, dia sudah mulai berteriak sambil menarik lehernya.
Suara kecil tersebut sangat mempesona. Aku yang mendengarnya saja sedikit bereaksi.
“Belajarlah dari Bu Zhafira dan teriak.” Aku menepuk bokong Sherly.
Sherly mendengus dan menatapku tajam. Patricia membuka mulutnya dan menggigit lenganku.
Aku yang tidak sempat menghindar dari gigitan ini pun berteriak dengan keras.
Seketika, suara antara pria dan wanita sudah terpenuhi.
Dengan performa akting yang begitu bagus, sepertinya orang yang berada diluar seharusnya sudah tertipu, ‘kan?
Pikirku dalam hati.
__ADS_1