365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Mengerikan


__ADS_3

Sosok bayangan yang samar ini seperti mengatakan sesuatu padaku.


Sekujur tubuhnya dipenuhi kabut, jadi tidak bisa melihat jelas perawakannya.


Aku mengucek mataku dan melihat lebih jelas lagi.


Mataku agak pegal, tapi sepertinya aku melihat sesuatu dengan jelas.


Seorang wanita!


Dia memiliki payudara yang besar!


Sepertinya sangat cantik...


Tapi masih saja tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi menurutku sepertinya seorang wanita cantik.


Wanita cantik ini sepertinya berbicara padaku.


Aku tidak dapat mendengar sepatah kata pun dengan jelas, tapi sepertinya dia sedang memakiku.


Aku pun memaki balik tanpa rasa takut.


Pada saat ini, tiba-tiba aku merasa sangat sakit, begitu aku membuka mata, aku melihat Elizabeth berjongkok di sampingku, dia sedang menggores wajahku dengan daun.


Aku berbaring di tanah, dia berjongkok dan menghadap padaku. Jadi begitu aku membuka mata, aku dapat melihat dua buah bola tergantung di depanku…


Aku langsung bangkit dan malah menabraknya.

__ADS_1


“Ahh, kamu kenapa bangun…” Elizabeth menggusap tulang selangkanya dan menatapku dengan terkejut.


“Awalnya aku sedang tidur nyenyak, tapi malah dibangunkan olehmu.” Aku melihat dia, “Ngapain kamu ambil daun untuk menggoreskannya ke wajahku?”


"Menyenangkan." Dia menyeringai.


Lalu aku melihat pakaian dalamnya jatuh setengah...


Uh, apakah aku harus memberitahunya atau pura-pura tidak melihat? Atau aku nikmati sebentar…


Dia memperhatikan sorot mataku dan melihat ke bawah— ah!!! Elizabeth berteriak keras, lalu meninjuku, dan memaki, "Dasar mesum!"


Aku memegang wajahku, dalam hati berpikir ‘kamu sendiri yang datang menggodaku, malah menyalahkan aku…


Waktu sudah menjelang malam ketika kami kembali ke perkemahan.


Seluruh daging Anakonda sudah dipotong, Anna juga sudah memeriksanya dengan cermat, memilih bagian yang tidak beracun dan sisanya dibuang.


Anakonda itu sangat besar, kurang lebih beberapa ratus kilo, sekalipun hanya mengambil beberapa puluh kilo daging ular juga sudah cukup untuk dimakan selama berhari-hari.


Tapi akan terasa sangat bosan jika memakan daging ular setiap hari, dan daging ular susah disimpan.


Jika begitu banyak daging ular dibumbui dan dikeringkan, mungkin rasanya akan menjadi lebih enak.


Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara teriakan. Itu suara Naomi dan lainnya.


Aku segera berlari karena takut terjadi sesuatu pada mereka.

__ADS_1


Ketika aku berlari ke sana, aku melihat Elizabeth memeluk Naomi. Kedua gadis itu terlalu takut hingga bersembunyi di balik pohon, lalu menunjuk pohon besar di depan sambil gemetaran.


Aku bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian lihat, kenapa sampai ketakutan begitu?"


"Coba kamu lihat." Dia menunjuk pohon besar di depan.


Di bawah pohon besar, ada sebuah kotak. Di dalam kotak ada sebuah ‘Boneka’ dengan postur badan yang sangat seksi.


“Kamu lihat deh, ini apaan?” Elizabeth menunjuk ‘Boneka’ di dalam kotak dan berkata.


"Dari mana ini?" Elizabeth menatapku dan bertanya.


Aku menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu, siapa tahu ini makhluk hidup, dan terus mengikuti kita.”


“Ah, jangan ngomong lagi, itu sangat mengerikan.” Elizabeth memegang lenganku dan melihat ‘Boneka’ itu dengan sedikit takut.


"Apa yang akan kamu lakukan, lebih baik dibuang saja, lagipula juga bukan manusia.” Kata Elizabeth.


Aku melihat ‘Boneka’ itu, lalu terdiam sesaat, dan merasa bahwa boneka ini hidup.


“Kita simpan saja, siapa tahu suatu hari dia hidup.” Kataku.


“Oh, aku tahu, kamu pikir dia Putri tidur ya! Hahahaha kamu sudah umur berapa, masih percaya Putri tidur." Patrcia mengejekku.


Aku menatapnya, "Kalian ini, bukannya juga percaya dengan Pangeran berkuda putih, dan selalu merasa diri kalian adalah seorang putri?”


“Yang menunggang kuda belum tentu pangeran, bisa jadi Biksu.” Kataku bercanda.

__ADS_1


“Yang tertidur juga belum tentu Putri tidur, bisa jadi penyihir tua.” Balasnya padaku.


__ADS_2