
Aku berjalan mendekat dan menggeledah tubuh mereka, kemudian aku menemukan beberapa benda yang tampak seperti batu dari kantong kulit binatang. Batu-batu ini tidak terlalu besar, sebesar biji jarak, jumlahnya ada belasan. Aku mencoba membuang satu. Boom! Batu tersebut langsung meledak.
"Batu apa ini?" Aku mengerutkan kening. Tidak peduli apa itu, itu mungkin berguna. Aku menyimpannya dan memasukkannya ke dalam sakuku.
"Satria, anak sialan, sini keluar." Aku berteriak dan berjalan menuju batu besar tempat dia bersembunyi.
Seperti dugaan, Satria sudah kabur sejak awal. "Sial, jangan biarkan aku menangkapmu!" Aku mengutuk, dan dengan kesal menendang beberapa batu hingga terbang.
Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada perkemahan, jadi aku berencana untuk bergegas pulang dalam semalam! Aku sangat kesal hingga ingin rasanya berlari pulang.
Tapi jarak perkemahan terlalu jauh dari sini. Di seberang lereng bukit ini ada sungai, terhubung ke laut, lebarnya sekitar sepuluh meter, dan di seberangnya adalah Pulau Utara.
Lokasi perkemahan berada di tenggara, bahkan membutuhkan waktu setengah hari untuk berjalan di siang hari, kurang lebih hampir sepuluh jam, jika kembali saat malam hari pasti akan lebih sulit.
Bagiku, berjalan pulang di malam hari sulit, tapi bagi Satria seharusnya lebih sulit. Aku percaya, aku dapat bergegas kembali ke perkemahan sebelum dia!
Aku segera meninggalkan tempat, aku belum makan malam, aku tidak ada air untuk diminum, semua sudah kuberikan kepada Satria, jadi aku harus segera bergegas kembali.
Aku memanfaatkan malam yang gelap berjalan pelan-pelan menuju hutan.
__ADS_1
Hutan di malam hari lebih berbahaya, tidak tahu berapa banyak binatang buas yang akan keluar untuk berburu, ada juga berbagai ular dan serangga berbisa. Aku memasukkan ujung celana ke dalam sepatuku, menarik seleting hingga rapat, memakai topi, dan memulai perjalananku.
Baru saja aku berlari ke tepi hutan, dari jauh sana sudah terdengar teriakan aneh, manusia primitif yang keluar berburu menyadari keberadaanku!
Mereka berlumuran darah, begitu juga wajah mereka. Ada dua orang mengangkat babi hutan, dan yang lainnya memegang palu yang terbuat dari tengkorak.
Para manusia primitif ini segera berteriak ketika mereka melihatku, kemudian mulai menyerang. Aku segera berlari masuk ke dalam hutan.
Manusia primitif mengejar dari belakang. Pada malam hari, penglihatan dan pendengaran mereka menjadi lebih unggul. Aku hanya dapat melihat jalan sejauh tiga sampai lima meter. Perkiraanku mata mereka dapat melihat dua sampai tiga puluh meter.
Terutama bagi manusia primitif hutan ini sudah sangat tidak asing, mereka mengenal jalan dengan baik, sedangkan aku masih harus mencari jalan, menghindari semak-semak dan lereng yang curam. Para manusia primitif ini bahkan tidak perlu melihat jalan sama sekali, mereka masih mengejarku dari belakang, dan berlari lebih cepat dari aku.
Whooooosh! Tiba-tiba, aku mendengar suara sesuatu barang yang melayang di udara dari belakang.
Aku segera bergegas loncat ke depan dan berguling-guling di tanah. Sebuah tombak menancap ke batang pohon yang ada di depan, tombak itu masih berayun ke atas dan ke bawah, swishh...
Ah wu wu! ! Teriakan manusia primitif semakin keras, dan terdengar sangat menakutkan ketika mendengarkannya di hutan pada malam hari.
Aku merasa seperti menjadi aktor utama di dalam film horor, dan sedang dikejar oleh para kanibal.
__ADS_1
Sejujurnya, menghabiskan beberapa manusia primitif ini sama sekali bukan masalah bagiku. Dengan keahlianku, itu sudah lebih dari cukup.
Tapi aku merasa itu sangat merepotkan, aku tidak ingin menggertak penduduk di sini. Jadi aku hanya bisa melarikan diri, berharap sekelompok manusia primitif ini tak lagi mengejarku.
Aku berdiri dari tanah dan terus berlari dengan sekuat tenaga. Berdasarkan kekuataan fisikku, sekalipun kelaparan, aku tetap dapat berlari selama beberapa jam tanpa terengah-engah.
Sekelompok manusia primitif ini mengejar dengan penuh semangat, mereka berlari dengan sangat cepat, tetapi mereka tidak dapat bertahan lebih lama daripada aku. Lagi pula, aku seorang pria, jadi aku harus bisa bertahan.
Setelah berlari selama lebih dari setengah jam, sekelompok manusia primitif itu pun akhirnya berhenti mengejar.
Mereka juga mengerti. Dengan kecepatan mereka, sekalipun berhasil mengejarku, juga belum tentu bisa menangkapku.
Setelah sekelompok manusia primitif ini berhenti mengejar, aku berlari sebentar sebelum berhenti untuk beristirahat.
Aku tidak lelah, tapi aku perlu melihat jalan.
Pada malam hari, tidak ada objek referensi, dan cahaya bulan juga tidak seterang matahari, jadi sangat mudah tersesat.
Aku berencana mencari tempat kosong, dan melihat bayangan bulan untuk menentukan arah.
__ADS_1