365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Mencari Masalah


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak beristirahat di goa? "Aku menatapnya dan bertanya.


Wajah Patricia sedikit memerah, dan dia ragu-ragu: "Bolehkah aku kesini dan tidur denganmu? "


Setelah mendengar perkataannya, aku terkejut sejenak, dan berpikir apakah aku tak salah dengar. Adakah hal sebaik ini?


Artis terkenal ini menghampiriku tengah malam dan berkata padaku ingin tidur bersama?


Patricia tersipu malu, dia sadar bahwa aku salah menangkap maksud perkataannya dan segera menjelaskan: “Umm…… aku merasa tidak aman di dalam, pria besar itu menatapku dengan tatapan mata yang aneh, seperti orang mesum, aku sampai merinding ditatap olehnya.”


"Oh." Aku mengangguk. Ternyata karena takut terjadi sesuatu di dalam, makanya dia datang mencariku. Aku pikir dia datang karena menyukaiku.


Lalu kenapa dia tidak takut padaku?


Apakah dia punya perasaan padaku? Hatiku merasa senang dan membiarkan dia masuk untuk tidur.


Patricia berjongkok ditengah tenda, ternyara dia mencari batu dan membuat sebuah garis. Dia berada di sebelah kanan dan berbaring membelakangiku.


Dia masih waspada terhadapku.


Aku menghela nafas.


Tak lama, aku mendengar suara dengusan Patricia, dia sudah tertidur.


Aku melihat punggungnya, dan di dalam hati terus memikirkannya. Seorang artis terkenal berbaring disebelahku, apakah aku harus melakukannya atau tidak?


Lakukan?


Tetapi aku bukan orang seperti itu, terlalu bajingan jika aku mencari kesempatan dalam kesempitan.


Jangan lakukan itu?

__ADS_1


Tapi ini adalah kesempatan yang sangat langka!


Siapa yang bisa tidur di ranjang yang sama dengan seorang artis terkenal?


Jika aku melewatkan kesempatan ini, maka kedepannya aku tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi!


Jika aku tidak memanfaatkan kesempatan saat berada di pulai ini, dia pasti akan lapor polisi jika suatu hari nanti kita sudah diselamatkan?


Karena bagaimana pun aku sering mencari kesempatan untuk meliriknya.


Apalagi postur badan Patricia sangat bagus. Di lihat dari belakang, lekukan badannya sangatlah indah, pinggul dan kaki nya juga tak kalah indah, benar-benar nikmat surga.


Aku mengulurkan tanganku perlahan, baru saja akan menyentuhnya.


Patricia terbatuk.


Ternyata dia belum tertidur.


Hari ketiga di pulau telah tiba.


Agung berdiri di pintu masuk goa dan melihat Patricia keluar dari tendaku. Sorotan matanya tidak senang, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya melirikku dengan samar.


Aku mencibir, orang ini jelas-jelas menganggap dirinya sebagai pemilik tempat kemah ini.


Sama seperti raja monyet yang ingin memiliki semua monyet betina. Tujuan Agung sangat jelas, dia ingin menjadi pemimpin di tempat ini dan kemudian mengambil hati semua wanita!


Aku bukan monyet.


"Goa ini cukup bagus, bisa dijadikan sebagai tempat kemah sementara, apalagi dekat dengan laut. Kita bisa menangkap ikan, berburu makanan dan memasak air laut untuk dijadikan air bersih.” Agung menjelaskan secara singkat rencananya.


Matanya tertuju padaku, "Baiklah, ayo pergi dan kumpulkan makanan sebanyak mungkin. Sumber daya di tempat perkemahan ini terbatas, kita harus berpencar untuk mencari sumber daya lainnya.”

__ADS_1


Zhafira melirikku: "Apakah kamu tuli?! Kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Agung? Cepat pergi mencari air bersih dan makanan!”


"Kamu sebaiknya membawa makanan pulang, jika tidak, hari ini aku tidak akan memberimu makanan!"


Zhafira bersikap arogan padaku, sikap itu hampir memperlakukanku seperti anjing!


Saat ini aku sangat menyesal karena sudah menyelamatkannya.


Siapa yang mengira bahwa wanita bossy terkenal yang satu ini lulusan dari universitas bergengsi, tetapi memiliki mulut sebusuk ini?


Aku menyelamatkannya, dia tak hanya tidak berterima kasih padaku, malah memperlakukanku seperti budaknya!


Sayangnya, aku bukan budak! Dan terlebih bukan seekor anjing!


"Kamu sedang berbicara padaku?" Aku menatap langsung matanya, "Begitukah cara kamu membalas budi orang yang telah menyelamatkan hidup kamu?"


"Menyelamatkan hidupku?! Siapa yang butuh kamu untuk menyelamatkan aku? Tanpa kamu, aku akan tetap selamat! Jangan lupa apa yang kamu lakukan padaku brengsek! Kamu mencari kesempatan dan mengancamku!”


Zhafira mengkritik aku, "Agung, ingat namanya, nanti ketika kita pulang, aku akan melaporkannya pada polisi!”


Agung tersenyum tanpa berbicara sekata patah pun.


Tetapi sikapnya sudah menunjukkan bahwa dia setuju.


“Aku mencari kesempatan?” Aku tertawa.


"Ular itu tidak berbisa. Kamu berbohong padaku bahwa ular itu beracun, lalu mencium kakiku dan memegang pantatku!” Zhafira menunju dan memakiku.


Seketika aku terkejut.


Bagaimana bisa aku melupakan hal ini?!

__ADS_1


__ADS_2