
Aku melihat Rose memakai pakaian. Aku merasa tidak rela dan menyentuh pahanya lagi, kemudian berkata padanya bahwa waktu masih panjang, tidak perlu terlalu terburu-buru.
Rose dengan nakal memberiku ciuman dan menyerahkan tombak padaku.
"Ikuti aku, kita harus hati-hati, ayo pergi lihat." Kataku.
Rose mengangguk, mencengkeram kapak batu, dan mengikutiku.
Aku mendengarkan jeritan yang datang dari luar hutan bambu, dan membawa Rose pelan-pelan mendekat.
"Sembunyi di rerumputan, jangan bersuara." Aku berbisik padanya.
“Lihat, wanita itu sepertinya orang kalian.” Dia berkata orang kalian, maksudnya orang itu berasal dari negara yang sama denganku.
Aku mengangguk dan akhirnya dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.
Di rumput yang ada di depan, terlihat pakaian Zhafira compang camping, pakaiannya hancur berhelai-helai, kulitnya bahkan terlihat jelas dan berlumuran darah.
Di sampingnya, seorang pria besar terkapar di tanah, menutupi lengannya dengan satu tangan.
Dari kejauhan, beberapa orang Jepang itu memegang pistol di tangan mereka, lalu berjalan mendengar dengan tersenyum mesum!
Rose dan aku berbaring di rerumputan, melihat situasi dari kejauhan.
Pria berbadan besar itu bernama Sapri, dia sekelompok dengan Agung. Sepertinya Sapri yang melindungi Zhafira.
__ADS_1
Hari itu manusia primitif menyerang perkemahan, Agung membawa Patricia dan menyerahkannya ke orang Jepang itu, sedangkan sepertinya melarikan diri dengan membawa Zhafira.
Ketiga orang Jepang itu memegang pistol di tangan mereka, lalu mengarahkan pistol ke Zhafira, sambil tersenyum mesum dan berkata kotor.
Zhafira sangat panik, dia berteriak minta tolong, tetapi sama sekali tidak mungkin ada orang memperdulikannya.
Sapri mencengkeram lengannya, kaki sebelahnya sudah patah. Kemudian dia terjatuh ke tanah mengambil sebuah batu dan melemparnya ke salah satu orang jepang itu.
Orang Jepang itu sangat marah, kemudian dia meninju, menendang Sapri, bahkan melepas celana untuk membuang air kecil, dan menghina dia sepuasnya.
Zhafira ketakutan dan tidak berani melarikan melihat pistol yang diarahkan kepadanya.
Aku melihat tampangnya yang memelas, hatiku merasa kasihan. Jika di saat ini dia takut, maka tidak ada yang bisa melindunginya.
Karena jarak yang terlalu jauh, aku tidak bisa mendengar apa yang sekelompok orang Jepang itu katakan.
“Lihat, itu Julian Sibolangit!” kata Rose sambil menunjuk orang Jepang yang memegang pistol.
"Bagaimana kamu tahu apa yang mereka bicarakan?" Aku bertanya.
"Aku bisa bahasa mulut." Rose menatapku dengan penuh kemenangan.
Melihat tampangnya yang imut, aku tak tahan untuk tidak menciumnya. Rose tersipu dan bersandar padaku.
Hatiku merasa bangga, tak disangka aku memiliki penggemar wanita! Sepertinya beberapa tahu ini aku bekerja dengan tidak sia-sia.
__ADS_1
Aku terus mengamati situasi di sana. Sibolangit dan beberapa orang Jepang yang lainnya mulai merobek pakaian Zhafira. Tiga pria menahan tubuhnya, satu memegang dua tangan, dua yang lainnya memegang kakinya.
Zhafira berjuang mati-matian, berteriak minta tolong, Sapri bahkan sudah tidak bisa melindungi dirinya sendiri, meskipun ingin menolongnya dia juga tidak bisa.
Pakaian Zhafira awalnya memang sudah compang camping, sehingga langsung dirobek oleh Sibolangit. Tubuh bagian atasnya benar-benar terbuka, dan kedua kakinya terus melawan karena ditahan oleh dua orang Jepang itu.
Orang Jepang ini benar-benar cabul, mereka mulai menjilati paha Zhafira!
Menolongnya atau tidak?
Hatiku sangat galau, meskipun Zhafira sering mencari masalah denganku, tetapi entah berdasarkan hati ataupun logika, aku tidak boleh membiarkan dia dilecehkan begitu saja oleh orang Jepang itu.
"Kamu ingin menolongnya?" Rose bertanya kepadaku, "Tetapi orang Jepang itu memiliki senjata di tangan mereka!"
"Kita harus memikirkan cara," kataku.
"Cepat, orang Jepang sudah mau melakukannya, kalau menunggu lagi, wanita itu pasti sudah dilecehkan." Kata Rose.
Aku mengangguk, pakaian Zhafira sudah dirobek tak karuan, tubuhnya ditahan oleh beberapa pria dan sudah dipegang-pegang.
Sial, aku sangat kesal ketika melihatnya, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya, siapa yang membiarkan kalian menyentuhnya!
Aku tidak sanggup melihatnya.
Aku segera memutar otak dan menemukan sebuah cara.
__ADS_1
Lalu aku menundukkan kepala untuk memberitahu Rose. Dia juga setuju dan merasa ideku ini kemungkinan berhasil.