365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Kembali ke Perkemahan


__ADS_3

Aku tidak mengerti kenapa monyet-monyet ini takut api. Aku melihat sekilas bulan di langit, sudah sampai di tengah, sepertinya sudah lewat tengah malam.


Aku harus mempercepat langkah dan kembali ke perkemahan sesegera mungkin.


Aku berjalan keluar dari wilayah monyet liar, sambil memegang api, aku melanjutkan perjalanan, mencari arah yang benar dan terus berjalan ke arah barat daya.


Dalam perjalanan, aku sudah tidak bertemu dengan hewan liar lainnya, tetapi sebelumnya aku sudah bertemu beberapa ular berbisa dan serangga berbisa. Untungnya, aku menyalakan api, jadi begitu aku melihatnya aku langsung membunuhnya hingga mati, aku membunuh beberapa ular berbisa.


Apakah karena bulan berubah menjadi merah, sehingga membuat monyet-monyet ini menjadi maniak dan mulai dengan kejam melahap teman sejenisnya?


Aku pernah bertemu dengan sekelompok monyet ini sebelumnya. Mereka sangat nakal. Salah satu monyet betina di kelompok tersebut karena melihat Zhafira memakai baju, dia juga mengenakannya hingga dia mengambil celana Patricia. Sulit dipercaya bahwa monyet nakal seperti itu akan memakan teman sejenisnya.


Pulau ini sangat aneh, aku bahkan belum pernah mendengarnya. Logikanya, sebagian besar pulau di bumi telah ditemukan oleh manusia, dan rute penerbangan pesawat sudah pasti. Tidak ada alasan kenapa tim penyelamat dari berbagai negara tidak bisa menemukan tempat ini?


Tapi aku sudah berada di pulau itu selama lebih dari setengah bulan, dan aku belum melihat tim penyelamat.


Anna sudah berada di pulau ini selama hampir satu tahun. Rose dan yang lainnya juga sudah berada di sini selama setengah tahun, dan mereka belum pernah melihat tim penyelamat datang.


Aku menjadi curiga, apakah benar-benar sulit untuk menemukan tempat seperti "Pulau Surga yang Hilang" atau "Pulau Tengkorak" atau semacamnya?


Jangan sampai bertemu King Kong! Jika aku bertemu King Kong, maka aku tak lain hanyalah seekor semut di matanya, dan aku akan diinjak mati olehnya.

__ADS_1


Aku melanjutkan perjalanan di hutan yang gelap, diterangi dengan api di tanganku, pada akhirnya, ranting terakhir di tanganku juga habis terbakar, dan aku dengan sangat ‘beruntung’ malah tersesat.


Kemudian, aku berpikir, jika aku tidak bertemu dengan sekelompok monyet itu, mungkin aku dapat bergegas kembali ke perkemahan sebelum langit terang.


Tanpa api, kecepatan aku pasti akan lebih lambat.


Di hutan terkadang ada kunang-kunang, jadi aku mengikuti kunang-kunang itu. Ketika hari menjelang fajar, dan sebelum bulan menghilang, akhirnya aku keluar dari hutan dan melihat laut.


Di depan ada sebuah tebing, dan di bawahnya semuanya adalah batu, jika jatuh ke bawah pasti akan menjadi saus daging.


Aku berjalan di sepanjang tebing, dan sampai di tempat sebelumnya aku terjatuh.


Sebuah pohon besar tumbang di tebing, di atasnya penuh dengan lumut hijau, dan juga penuh embun di pagi hari.


Hanya bisa berjalan melewati pohon. Aku mencoba menginjakkan kaki diatasnya, lumut hijau sangat licin, jadi aku harus berjalan dengan hati-hati, jika tidak seimbang maka akan jatuh.


Untungnya,aku memiliki keseimbangan yang cukup baik. Sudah terlihat bagian depan segera sampai, aku menghela nafas lega.


Begitu aku bersantai, aku terpeleset dan hampir jatuh.


Pada saat itu, aku tidak panik, mencoba menyeimbangkan tubuhku, dan melompat ke depan dengan seluruh kekuatanku. Aku mengangkat kakiku, mengeluarkan teknik ‘seni bela diri’ untuk melompat dari permukaan, dan menginjak tanah.

__ADS_1


Tentu saja, itu bukan teknik ‘seni bela diri’, ini karena pinggang dan perutku yang cukup kuat, dalam kondisi darurat bisa melewati situasi.


Aku melihat ke tebing setinggi puluhan meter dengan rasa takut yang berkepanjangan, tapi untungnya tidak jatuh.


Jika aku terjatuh, mungkin tidak akan seberuntung hari itu, jatuh ke dalam air tanpa terbentur batu.


Aku menarik nafas panjang, berdiri, kemudian membersihkan tanah yang ada di badan, dan berjalan kembali ke perkemahan.


Ketika aku kembali ke perkemahan, matahari sudah terbit.


Sepanjang jalan aku melihat belum ada perangkap yang hancur, semoga tidak seperti yang aku bayangkan.


Aku berlari sampai ke pintu masuk perkemahan, dan tidak melihat bayangan orang Jepang.


Aku menarik nafas lega, berjalan masuk, dan melihat mereka baru saja bangun, sedang membuat api untuk memasak air.


“Kenapa kamu sudah kembali?” Patricia mendongak dan bertanya, “Di mana Sherly? Di mana dia?”


"Satria membohongiku, Sherly tidak ada di sana.” Kataku, “Apakah dia sudah kembali? Anak ini membohongiku pergi ke sana, ketika aku keluar aku sudah tidak menemukannya.”


“Dia kabur?” Patricia terkejut.

__ADS_1


"Sa… dia sudah kembali." Zhafira tiba-tiba menunjuk ke pintu.


__ADS_2