365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Seekor Ular Memasuki Celana!


__ADS_3

Lulus dari sekolah bergengsi, cantik seperti bunga, dan kaya raya. Ketika dia berusia dua puluhan, dia menikah dengan seorang pria tampan dan ketika berusia 27 tahun mendirikan merek pribadi yang bernilai 500 triliun rupiah!


Gila, bukankah suaminya ditangkap karena berhubungan dengan pelacur, bahkan mereka dikabarkan akan bercerai, lalu mengapa dia masih muncul di pesawat?


Seolah melihat keraguan aku, Zhafira melirik aku, "Aku pergi untuk menghadiri konferensi peluncuran merek. Siapa yang tahu akan ada kecelakaan."


"Oh." Aku mengangguk, "Apakah kalian benar-benar bercerai? Kamu bisa ceritakan padaku, karena tidak ada paparazzi lain di sini."


Sudut matanya menatap sinis, jelas dia sedang menahannya, dan dia balas menatapku tanpa berbicara.


Aku hanya merasa bosan dan mulutku gatal, aku hanya ingin bergosip saja, "Lupakan saja jika kamu tidak ingin memberitahuku."


Dia mengikutiku dari belakang, baru saja berjalan beberapa ratus meter.


"Ahhh, kakiku sakit sekali." Dia berteriak, dan langsung duduk di tanah. "Istirahatlah sebentar, ak bergelantungan diatas pohon semalaman, aku benar-benar tidak bisa berjalan.”


"Tidak jauh lagi kok, bertahanlah sebentar." Aku melirik dan memintanya untuk mengikuti.


"Tidak bisa, aku tidak bisa berjalan lagi, kamu ke sini gendong aku." Dia melirikku dan berkata padaku dengan nada memerintah.


Ketika mendengar perkataan ini, saya tertawa sinis. Apakah dia tidak bisa membedakan lokasi dan situasi? Karena terbiasa dilayani di luar sana, di pulau terpencil seperti ini juga perlu dilayani?

__ADS_1


Meskipun postur badannya sangat indah, tetapi memangnya aku kurang kerjaan? Mana mungkin aku bersedia mengendongmu berjalan? Memangnya tidak lelah?


"Aku tidak punya waktu, terserah kamu mau jalan atau tidak." Selesai berbicara aku melanjutkan perjalananku.


"Aku adalah pemegang saham perusahaan sekuritas tempat kamu bekerja! Berani kamu?! Aku akan memecatmu!" ancamnya.


"Aku ingin menuntutmu! Membuatmu menjadi pengemis!"


Mendengar perkataan ini, aku menoleh dan meliriknya, "Apakah kamu pikir kamu bisa keluar dari sini? Percaya atau tidak, aku akan meninggalkanmu disini dan membiarkan kamu ditemani oleh sekelompok monyet itu!"


Setelah mendengar kata-kata aku, wajahnya menjadi pucat ketakutan, dan seketika menjadi tidak lelah, lalu dia memungut ranting pohon, dan mengikutiku dari belakang dengan berjalan tertatih-tatih.


Kami berjalan kurang dari seratus meter, dan teriakan lain terdengar kembali dari belakang.


"Ka, kakiku sakit, sepertinya terpelintir, kamu ke sini bantu aku melihatnya." Wajahnya menjadi pucat, dia duduk di tanah karena tidak ada tenaga, dan suaranya lemah.


Ketika aku melihat wajahnya, aku merasa ada yang janggal. Aku segera berjalan mendekatinya dan menarik celananya.


Di pergelangan kakinya yang putih dan lembut, ada dua tetes darah yang menempel di stokingnya yang berwarna kulit. Setelah merobek stoking itu, terlihat ada bekas gigitan!


Bekas gigitan ular! Digigit ular!

__ADS_1


Aku melihat ke bawah. Ternyata, ada seekor ular masuk ke dalam celananya!


Aku menoleh, menatapnya dan berkata, "Ada ular berbisa yang masuk ke dalam celanamu.”


"Ahhh!" Dia langsung memucat karena ketakutan, dan tenaganya segera terkumpul dan sekuat tenaga menggoyangkan kakinya untuk mengeluarkan ular itu.


"Jangan bergerak!" Teriak aku. Dia segera berhenti bergerak. Aku memasukkan tanganku ke celananya, dan menarik ular itu keluar. Seekor ular kecil yang tidak terlalu tebal.


Aku lihat ular ini tidak berbisa sama sekali. Dia tidak ada tenaga karena kelelahan, atau mungkin saja dia berpura-pura untuk membohongi aku.


Tapi melihatnya ketakutan, tidak seperti sedang berbohong. Sepertinya dia benar-benar ketakutan.


“Benaran ular! Aku pasti keracunan!” Dia menutup matanya ketakutan.


“Jangan takut, aku akan membantumu menyedot darah beracun itu.” Sambil berbicara, aku memegang pergelangan kakinya, dan menyeka luka dengan air liur.


Aku menakutinya dengan berkata bahwa ular tersebut sangat berbisa, jika tidak mengeluarkan racunnya, maka kaki ini perlu diamputasi.


Wajahnya memucat karena ketakutan.


Zhafira jelas enggan, tapi dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan membiarkan tanganku memegang pergelangan kakinya.

__ADS_1


Aku menggulung celananya naik, lalu melihat pergelangan kaki yang putih dan seksi, stoking berwarna kulit yang menempel pada kulit, dan ada aroma samar parfum.


__ADS_2