
"Apa itu?"
Aku menoleh untuk melihat.
Sebuah benda besar mengambang di laut, dan permukaan laut berubah warna, sepertinya yang mengambang adalah lapisan minyak.
“Sepertinya masih bergerak.” Patricia juga menoleh dengan bingung.
Kami berdiri di bawah pohon dan melihat benda yang mengambang dari kejauhan. Ketika semakin dekat, kami melihat bahwa bentuk benda itu panjang.
“Jangan-jangan itu Anakonda!” Elizabeth menoleh ke belakang dengan panik.
Aku mengambil tombak batu di samping yang sudah selesai dibuat dan berdiri di depan mereka.
“Hati-hati, sepertinya benar-benar Anakonda.” Rose terkejut sambil membekap mulutnya.
“AH! Sungguh ular Anakonda!” Elizabeth ketakutan hingga memeluk Naomi. Naomi juga terkejut karena dipeluk, dia pikir dia menabrak sesuatu.
Aku berdiri di depan dan meminta mereka untuk berjalan mundur, menjauh dariku, daripada aku harus melawannya sambil menjaga mereka.
Setelah kupikir-pikir, kenapa aku harus menahan dari belakang? Kenapa aku tidak langsung berlari saja dengan mereka?
Mereka melihatku dengan sangat panik hingga tidak dapat berkata apapun, khawatir seolah begitu mereka buka mulut, ular akan memasuki mulut mereka.
“Tidak apa-apa, siapa tahu Anakondanya sudah mati. Coba lihat, air laut saja sudah berubah warna, sepertiya Anakondanya berdarah.” Aku berkata pada mereka.
“Tetap saja sangat menakutkan.”
Ombak besar mendorong Anakonda itu ke tepi pantai.
Ular Anakonda ini jauh lebih besar dari pada Anakonda yang mengejar kami sebelumnya. Kira-kira tebalnya setengah meter, panjangnya lebih dari sepuluh meter, benar-benar sangat menakutkan.
__ADS_1
“Ayo cepat lari.” Kata Elizabeth.
“Kenapa ular ini begitu besar!”
Aku menoleh melihat mereka sekilas, satu per satu dari mereka berkeringat dingin, dan bersembunyi di balik pohon.
Setelah beberapa saat, Anakonda tersebut masih saja tidak bergerak.
“Apa mungkin ketiduran?”
“Kalian lihat deh, tubuhnya penuh dengan luka, sisiknya bahkan hancur…”
Mereka membicarakan Anakonda itu.
Aku melihat lebih dekat, tubuh Anakonda itu penuh dengan luka, sisiknya berlumuran darah dan hancur. Bagian yang terluka berada di atas pasir dan tidak bergerak.
Mati ya? Sepertinya sudah mati.
“Kayaknya sudah mati.” Mereka menghela napas dan menyuruhku untuk pergi melihatnya.
Aku mengambil sebuah batu dan melempar ke arah sana.
Buk! Batu itu mengenai Anakonda.
Tidak bergerak.
Mungkin sudah mati.
“Sudah mati, benar-benar bikin aku takut setengah mati.” Elizabeth menepuk dadanya dan menghela napas lega.
“Ular ini besar sekali, cukup untuk persediaan makanan yang cukup lama…” kata Naomi tiba-tiba.
__ADS_1
Aku melihat dia, “……”
“Membawanya pulang saja sebuah masalah, ini besar sekali, mesti berapa orang baru bisa mengangkatnya?” Aku menggelengkan kepala, ular ini tidak bisa dibawa pulang, lebih baik dibakar saja.
Tetapi sebagian tubuhnya masih di dalam air, sulit untuk menyeretnya ke darat.
Ketika aku sedang berpikir, Elizabeth berjalan maju ke depan.
“Apa yang kamu lakukan? Jangan ke sana.” Teriakku.
Dia berteriak ‘AH!’ karena terkejut.
“Untuk apa kamu teriak.” Dia menoleh dan menatapku karena terkejut.
Pada saat ini.
Bang!
Mataku terbuka lebar, melihat Anakonda yang mati itu berbalik dan berguling!
“Cepat lari!!! Cepat ke sini.” Aku bergegas maju menarik tangan Elizabeth dan berlari kembali.
Anakonda berguling-guling di pantai, bolak-balik, melilit menjadi lingkaran, kemudian berguling beberapa kali lagi hingga luka di tubuhnya retak, dan darah menodai air laut.
Pemandangannya ini tidak terlalu menjijikan. Tapi darah ular ini bukan berwarna merah, melainkan seperti air selokan yang berwarna hijau…. Sangat menjijikan.
Aku sedang berpikir, ular ini begitu besar, seandainya aku menarik ekornya, aku pasti akan langsung terbang…
“Cepat lari!!”
__ADS_1
“Tunggu, sepertinya ada sesuatu di tubuhnya!”
Aku memicingkan mataku, lalu melihat sesuatu berdiri di atas Anakonda!