365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Kuburan Yang Sangat Banyak


__ADS_3

Area rendah di depan adalah sebuah tempat yang terbuka. Karena topografi yang terlalu rendah, kabut yang ada di sana masih belum menghilang.


Begitu matahari menyinari, kabut perlahan-lahan mulai meghilang. Lalu, samar-samar mulai terlihat seperti ada banyak bangunan, layaknya desa primitif!


Dalam hatiku berpikir, apakah ini suku besar di bagian pegunungan salju Utara?


Tapi, setelah diamati kembali, bisa dibilang tidak terlalu besar juga.


Namun, bagaimanapun, di depan adalah sebuah desa dan di dalamnya pasti ada manusia.


Sontak hatiku menggerutu, ‘Kacaulah sudah ini!’!


Awalnya aku pikir orang tua itu hidup sendirian. Tetapi jika orang tua aneh itu tinggal di dalam desa, maka hal ini sangat merepotkan. Sebisa mungkin, ku tidak ingin menghadapi dan melawan seluruh orang di desa.


Semoga mereka semua dapat diajak berdiskusi, pikirku dalam hati.


Kemudian aku melihat manusia kayu yang berada di depan mulai bergerak kembali dan turun ke bawah selangkah demi selangkah.


“Kita juga ikuti dia.” Semangat Bell sudah pulih. Dia mendapatkan energinya dari aku dan sekarang sudah sangat bersemangat.


Aku bahkan sedikit curiga dia adalah jenis makhluk lainnya…


“Tidak bisa jika langsung pergi.” Ujarku setelah berpikir sejenak, “Cari jalan lain untuk masuk ke dalam. Seandainya di desa ada orang, akan mampus jika kita ketahuan.”


“Kita masuk diam-diam.”


Tak lama kemudian, kami berdua memutari jalan dari sebelah kiri. Kebetuan di sebelah kita ada sebuah pohon yang tinggi dan kami bisa turun ke bawah melalui pohon tersebut.


Setelah masuk ke dalam desa, aku menyuruh Bell untuk mengikutiku sambil berjongkok dan jangan sampai membuat orang di dalam desa terkejut.


Kabut di dalam desa masih belum menghilang sehingga cahaya matahari tidak dapat menyinari. Udara juga menjadi sangat lembab, jadi hanya dalam beberapa waktu tubuh kami pun penuh dengan keringat.

__ADS_1


Kulit yang lengket benar-benar membuat seluruh badan menjadi tidak nyawan.


Bangunan di dalam desa sangat sederhana, bentuknya seperti pondok. Jauh lebih baik daripada suku putih, setidaknya bisa terlindungi dari angin dan hujan.


Aku mendongakkan kepala untuk mendapati sebuah jendela pada salah satu pondok tersebut. Aku pun membuka jendela perlahan-lahan sambil mengamati keadaan di dalam rumah. Untungnya tidak ada orang.


Saat ini, Bell juga sudah berjalan kemari dan berkata rumah di sebelah juga tidak ada orang.


Di dalam rumah penuh dengan debu, tidak seperti ada orang yang menempatinya. Bahkan di dalam juga ada banyak sarang laba-laba.


Ada juga bagian atap pondok yang sudah hancur.


Tempat yang sangat aneh!


Di dalam kabut kenapa ada sebuah desa kosong?


Benar-benar tidak mengerti.


Aku pun memeriksa beberapa rumah lagi, pondok yang sama dan tidak ada orang sama sekali.


Aku pun langsung berjalana ke arah tanah kosong dan melihat tumpukan tanah itu ternyata adalah——kuburan!


Kuburan!


Aku menghitungnya dan ada ratusan kuburan!


Semua tersusun rapi dengan batu besar di atasnya. Di batu tersebut terukir karakter, tetapi karakter tersebut tidak dapat kumengerti.


Namun, Bell yang dapat membaca karakter tersebut mengatakan bahwa ukiran itu adalah nama orang.


“Nama orang? Apa namanya?”

__ADS_1


Tanyaku pada Bell.


Bell menunjuk sambil menyebutkan beberapa nama orang.


Setelah aku mendengarnya, aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku!


Marga-marga ini!


Ternyata adalah marga dalam mitos kuno!


Aku terkejut hingga mundur beberapa langkah. Apakah mungkin di sini adalah tempat kelahiran peradaban?


Meskipun aku khawatir tentang keselamatan Patricia dan Bu Zhafira, tetapi menemui hal seperti ini, benar-benar membuatku sulit untuk tetap tenang.


Aku percaya, siapa pun yang melihat kuburan ini dan berhasil membaca tulisan yang ada di batu juga pasti akan terkejut hingga nyawa ingin melayang!


Tetapi, rumor ini sudah tidak tahu dari berapa tahun yang lalu. Dalam rumor tersebut, nenek moyang zaman dahulu bermarga ini semua…


Aku menepuk kepalaku dan masih sulit untuk tetap tenang. Aku pun menghela napas panjang untuk mencoba menenangkan diri.


Aku berdoa memberi hormat kepada kuburan, lalu kembali ke desa untuk melanjutkan pencarian.


Anehnya, manusia kayu tersebut menghilang setelah masuk ke dalam desa.


Di tanah juga tidak ada jejak kaki.


Desa ini diaspal dengan lapisan jalan kerikil, jadi tidak akan meninggalkan jejak sama sekali.


Setelah mengelilingi desa, aku juga tidak menemukan petunjuk yang berguna.


Aku kembali ke kuburan di belakang desa, lalu melihat ada hutan di belakang desa dan dalam hati bertanya, apakah orang tua itu bersembunyi di dalam hutan?

__ADS_1


Aneh sekali. Ada rumah tidak mau tinggal dan malah tinggal di luar desa. Orang tua itu benar-benar sangat aneh.


Apa jangan-jangan benar-benar orang utan?!


__ADS_2