365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Kapal Hantu!


__ADS_3

"Hei! Apakah ada orang yang mendengarku!" Dia mati-matian berjalan ke dalam air, mencoba mendekati kapal.


Aku segera meraih tangannya: "Jangan pergi ke sana, itu adalah kapal hantu! Tidak ada seorang pun di kapal."


Patricia tidak percaya padaku, kapal ini adalah harapannya untuk bertahan hidup, dia tidak ingin  percaya bahwa itu palsu, bahwa itu adalah kapal hantu.


Dia menjatuhkan diri dengan putus asa, aku memeluk pinggangnya erat-erat dan menariknya kembali.


Setelah beberapa saat, kapal hantu menghilang dari pandangan kami.


Patricia jatuh ke tanah dengan lemah dan menangis.


Dia sudah cukup tertekan untuk waktu yang terlalu lama, baru saja dia melihat ada harapan, tetapi malah hanya sebuah harapan palsu.


"Kenapa itu bisa sebuah kapal hantu..." Patricia bergumam pada dirinya sendiri.


Aku melihat ke arah kapal hantu yang pergi, merasa pahit, kenapa aku tidak dapat melihat kapal yang dapat menyelamatkan kami?


Di luar sana, mereka pasti sedang mencari keberadaan kita.


Alangkah baiknya jika seseorang bisa menemukan pulau tak berpenghuni ini.


Tapi sebelum tim penyelamat tiba, aku harus tetap bertahan hidup!


Untuk bertahan hidup, aku tidak boleh putus asa!


Patricia masih menangis, aku mencoba untuk membujuknya, dan akhirnya dia pun terlihat lebih tenang.


"Jangan khawatir, selama kamu mengikutiku, aku berjanji akan membawamu kembali dengan selamat. Membawa kamu kembali ke masyarakat manusia." Aku bersumpah.

__ADS_1


Patricia menatapku samar dengan mata berkaca-kaca, tanpa berbicara apapun.


Aku berdiri dan menepuk kotoran di tubuhku, "Hah, bajuku basah lagi."


“Aku haus... dan lapar.” Patricia menatapku dengan sedih.


“Bisakah air laut diminum?” Patricia bertanya padaku.


Aku terkejut karena air laut pun ingin dia minum, aku  segera menghentikannya: “Tidak boleh, air laut mengandung banyak garam dan mineral lainnya, akan menyebabkan dehidrasi.”


"Sini ke pinggir pantai, aku akan mencarikan kelapa untukmu."


Untungnya, di pinggir pantai lebih banyak kelapa, aku mengambil beberapa kelapa dan memecahkannya. Lalu memberikan satu kepadanya dan mengisi termos hingga setengah.


“Minum kelapa, makan daging kelapa, ada makan ada minum.” candaku.


Patricia melirikku: "Itu tidak lucu."


"Terima kasih." Patricia tiba-tiba menatapku dan berkata: "Meskipun kamu sedikit mesum, tetapi kamu masih orang yang baik."


Wajahku dipenuhi dengan kerutan di dahi saat mendengarnya, apa maksudnya aku mesum tetapi aku juga orang baik……kenapa berprasangka buruk begitu terhadap aku……


"Ini bukan mesum, tetapi aku tahu bagaimana menikmati keindahan, aku memiliki sepasang mata yang digunakan untuk menikmati keindahan." Kataku sambil menatapnya.


“Terserah apa katamu.” Patricia masih sedikit sedih.


“Sebelumnya kamu bilang kamu akan mencari serpihan pesawat, apakah itu benar?” Patricia mengangkat kepalanya dan bertanya padaku.


"Tentu saja benar. Ada kotak hitam pesawat, jika menemukannya, kita dapat mengirim sinyal." Aku berbicara dan menatap matanya.

__ADS_1


Mata Patricia berbinar, seakan ada harapan.


Sebenarnya aku juga tidak yakin, karena aku tidak tahu jelas seperti apa pesawat itu hancur.


Jika semuanya hancur berkeping-keping, maka tidak ada yang bisa ditemukan.


Tapi aku punya alasan untuk pergi.


Tentu saja alasannya adalah rahasia, tidak dapat diceritakan kepada orang lain.


Setiap orang pasti punya rahasia, tidak dapat diceritakan, jika diceritakan akan menjadi masalah, sekalipun tidak ada masalah juga tidak boleh diceritakan.


Bagaimanapun adalah sebuah rahasia, cukup di simpan dalam hati tanpa perlu memberi tahu siapa pun.


Waktu sudah mendekati tengah hari, aku dan Patricia hanya menemukan kelapa dan pisang, sama sekali tidak menemukan makanan laut.


Pisang dan kelapa bukannya tidak bisa dimakan, hanya saja jika dimakan untuk jangka waktu yang lama bisa menimbulkan masalah.


Aku tetap lebih suka makan daging.


Kalau saja makanan laut yang sudah kering akibat sinar matahari masih bisa dimakan.


Aku tetap membawa pulang beberapa makanan laut yang bisa dimakan.


Lalu kembali ke tempat perkemahan sementara.


Aku melihat Agung dan temannya yang besar sudah kembali lebih awal dari aku. Mereka menangkap beberapa burung dan seekor kadal kembali!


“Kamu hanya mendapatkan makanan ini?” Zhafira melirikku dan mengerutkan kening. "Hanya sedikit ini, kamu masih punya malu untuk kembali, benar-benar tidak tahu malu!”

__ADS_1


"Kenapa kamu berbaring di tendaku." Aku mengerutkan kening, melihat Zhafira berbaring dan beristirahat di tendaku!


__ADS_2