
Naomi tidak memberitahuku bahwa orang-orang ini mempunyai senjata!
Kenapa bisa ada senjata di kapal pesiar?
Sekalipun hanya pistol kecil, itu juga mampu untuk merengut nyawa orang.
Untungnya, orang yang menembak tidak terlalu akurat. Tembakannya melenceng tiga hingga lima meter dariku, dan jatuh ke permukaan laut yang menyebabkan percikan di dalam air.
Aku diam-diam berucap syukur, lalu dengan cepat membawa Patricia ke pinggir pantai.
Dor!
Suara tembakan kedua kembali terdengar.
Sebelum terdengar suara tembakan, kulit kepalaku sudah mati rasa, butuh waktu yang lama untuk mengeluarkan seluruh kekuatanku untuk berlari ke depan sana.
Plung! Tembakan itu jatuh ke permukaan laut hingga menyebabkan percikan air.
Tanpa diduga, peluru itu meleset di bawah air dan kena bagian pangkal pahaku!
Persetan!
Aku terluka.
Hatiku merasa sedih sekaligus merasa bersyukur, setidaknya aku tidak mati.
Aku tidak sempat untuk memeriksa luka di pahaku, aku langsung membawa Patricia ke pantai dan bersembunyi di balik batu.
__ADS_1
Anna juga sudah terbangun, dan sejak awal sudah bersembunyi di balik batu untuk menungguku.
Peluru tak hentinya menyerang mengenai batu hingga membuat serpihan batu terbang kemana-mana.
Aku bersembunyi di balik batu dan segera memeriksa luka peluru.
"Sial, tembakan peluru ini benar-benar akurat..." Aku memaki dan melihat ke bawah. Peluru tersebut tepat mengenai pangkal paha kiri dekat pantatku, tanganku penuh darah begitu aku memegang pantatku.
Meskipun sudah tidak ada gerakan apapun dari kapal pesiar, tetapi ada lampu sorot yang bergerak bolak-balik di pantai, mereka mencoba mencari jejakku.
Anna bersandar di batu dan tampak terengah-engah. Perawakannya tampak aneh, seluruh tubuhnya sangat lemah, seolah-olah dia telah mengalami sesuatu yang sangat dahsyat...
"Apa kamu baik-baik saja?" Aku menyentuh keningnya, keningnya sangat panas.
"Demam?"
Tidak hanya Anna, keadaan Patricia juga tidak terlalu baik saat ini, dia masih kehilangan konsentrasi, dia bersandar lemah di tubuhku, kemudian merangkak ke bahuku, menghembuskan udara ke arahku, dan menjulurkan lidahnya.
Sial, jika bukan karena pangkal kaki dan pantat terluka, aku pasti akan membuat kedua wanita ini terbujur di atas pantai……Tentu saja, aku tidak melakukan itu.
Apa daya, aku hanya bisa memindahkan mereka satu per satu ke hutan yang ada di depan.
Aku menyentuh luka di paha dan pantatku sekilas. Untungnya, hanya baretan kecil saja, tidak terlalu parah. Aku berjongkok di tanah dengan membawa Anna di lenganku saat teringat akan lampu sorot itu, lalu berjalan ke dalam hutan selangkah demi selangkah.
Aku menyandarkan Anna ke pohon, baru saja aku akan berbalik untuk mencari Patricia, Anna langsung memeluk leherku dan menciumku.
Sepertinya penyakitnya kambuh lagi. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Jadi aku memukulnya hingga pingsan, dan berusaha keras untuk membawa Patricia.
__ADS_1
Orang-orang di kapal pesiar berdiri di pagar sambil memarahiku selama setengah jam karena tidak dapat menemukan jejak bayanganku, dan akhirnya mematikan lampu lalu pergi.
Aku bersembunyi sebentar, setelah memastikan benar-benar tidak ada pergerakan lagi dari kapal pesiar itu, aku mengangkat kedua wanita ini untuk pergi.
Belum lagi, dua orang ini sangatlah berat. Padahal jelas-jelas mereka terlihat kurus dan memiliki postur badan yang bagus. Berat di mananya coba?
Setelah berjalan di hutan yang gelap selama sekitar setengah jam, aku kelelahan, jadi aku mencari sebuah batu besar dan duduk.
Aku mengambil beberapa ranting kering, membersihkan sebuat tempat, dan membuat api.
Aku memeriksa terlebih dahulu kondisi kedua wanita itu. Suhu tubuh mereka masih sangat tinggi, sepertinya mereka berdua masih demam. Kemudian, aku melepaskan pakaian mereka yang basah dan meletakkan mereka berdua di dekat api unggun agar lebih hangat.
Kemudian, aku juga melepaskan pakaianku. Setelah berpikir sejenak, aku melepaskan celanaku. Aku menoleh untuk memeriksa kedalaman luka, lalu mengunyah daun obat yang kutemukan dan mengoleskannya pada luka.
Setelah beberapa saat, darah berhenti mengalir.
Aku merasa lega, baru saja aku ingin memakai celana, aku tercengang.
Dia pun juga tercengang.
Kami berdua saling bertatapan dan terbengong.
Aku baru mengenakan celanaku setengah, baru selesai aku mengoleskan obat pada luka, aku menoleh dan mendapati Patricia baru saja terbangun.
Begitu dia membuka matanya, dia melihat aku memunggungi dia dan melepas celanakku... dan saat ini pakaian mereka juga dilepas ...
Dalam sekejap, aku dapat membaca rautan wajah dan tatapan matanya yang sepertinya salah paham.
__ADS_1