
Melihat tikus-tikus yang datang berdesak-desakan, tangan dan kakiku terasa sedikit lemas.
Gambaran ini sangat menjijikkan.
Aku sedang memikirkan cara untuk melawannya dan berpikir dalam hati seandainya Bell ada di sini, mungkin dia bisa menghadapi tikus-tikus ini.
Orang tua aneh itu turun dari lereng yang tinggi. Rambutnya acak-acakan dan ada beberapa burung beo yang menjambak rambutnya.
Burung beo tersebut terbang dan membuat suara yang tidak berarti dari mulutnya.
Aku perlahan mundur ke belakang dan mundur hingga kembali ke depan pagar.
Apakah pagar bisa kebakar?
Aku tiba-tiba memikirkan hal ini, lalu segera mengambil api bersiap untuk membakar pagar.
Orang tua aneh itu sepertinya tahu apa yang akan aku lakukan dan langsung menunjuk ke arahku. Kemudian, tikus besar itu langsung berlari ke arahku!
BUM!
Tikus besar itu membuatku terbang lagi.
Tikus besar itu menekan cakarnya ke arahku, membuka mulutnya dan memuntahkan sesuatu yang bau ke arahku. Begitu aku mencium baunya, seketika aku kehilangan kekuatan...
Kemudian, tikus besar itu menangkapku dan melempaku ke depan orang tua aneh itu.
"Ah ah!"
Ketiga gadis itu berteriak.
“Betul, tangkap dia.” Orang tua aneh itu datang, memandang tikus besar itu dengan puas. Lalu, mengulurkan tangan dan menepuk kepala tikus besar itu beberapa kali.
Tikus besar itu mencicit beberapa kali dan masuk ke tanah bersama sekelompok tikus lainnya.
__ADS_1
Sialan! Sebenarnya apa yang terjadi!
Jelas-jelas dia datang untuk menyelamatkan orang, kenapa dia juga yang malah tertangkap.
Aku jatuh ke tanah dan tidak bisa bergerak.
"Kebetulan bisa menggunakan darahmu..." ujar orang tua aneh itu, "Tiga manusia, ditambah seorang peri... Ini sangat bagus, cucuku pasti menyukai hadiah yang kuberikan padanya..."
“Hahaha, darah keluarga kita tidak akan terputus,” orang tua aneh itu tertawa terbahak-bahak.
Aku merasa sangat ketakutan saat mendengarnya. Orang tua aneh ini benar-benar menangkap wanita untuk melakukan perkawinan silang!
Cucunya?
Di mana cucunya?
Menghadapi orang tua yang gila dan aneh seperti ini, benar-benar tidak ada cara lain..
Aku sedang berpikir bagaimana cara menghadapinya.
Tunggu... apa yang baru saja dia katakan?
Tiga wanita, satu peri?
Bola mataku tiba-tiba melebar, gawat!
Bell juga dalam bahaya?
Bagaimana mungkin? Dia lebih hebat berkelahi daripadaku, bagaimana mungkin dia gagal melawan orang tua itu?
Orang tua itu pelan-pelan berjalan ke arahku dan burung beo itu berkicau. Sudut mataku melirik sekilas ke atas dan melihat seorang manusia kayu berjalan di lereng yang tinggi.
Manusia kayu itu memegang seseorang di tangannya—Bell!
__ADS_1
Dia masih pingsan dan dibawa oleh manusia kayu di bawah lengannya.
“Aku harus memberimu makan terlebih dahulu.” Tawa orang ttua itu sangat menyeramkan.
Aku ingin melakukan perlawanan, tetapi seluruh tubuhku lemah. Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan.
Orang tua aneh itu datang dan mencubit wajahku. Dia mengeluarkan sebuah pil yang entah dari mana dan memasukkannya ke dalam mulutku, lalu memukul daguku. Ketika mulutku terbuka, dia memasukkan pil tersebut ke dalam mulutku dan pil itu pun mengalir masuk ke perutku.
Begitu pil itu sampai di perut, aku merasa pusing, mual dan perut kram. Seluruh organ dalamku berputar-putar kesakitan...
Aku bahkan tidak bisa berteriak. Seluruh tubuhku berkeringat dingin dan aku berguling-guling di tanah dengan perut di lenganku.
Tiba-tiba, pandanganku berubah gelap.
Ketika aku bangun, aku mendapati diriku sedang berbaring di pelukan Zhafira.
“Kamu sudah bangun.” Zhafira menatapku dan berkata dengan penuh semangat, “Kupikir kamu sudah mati.”
"Apa yang terjadi?" Aku mengusap kepalaku, merasa pusing.
"Orang tua itu melemparmu ke dalam pagar. Dan juga peri itu," kata Zhafira.
Aku membuka mataku dan bintang-bintang muncul di depan mata. Setelah beberapa menit, penglihatanku kembali normal.
Aku melihat pemandangan di sekitar dan menyadari bahwa ini bukan dibalik pagar.
“Tempat apa ini?” Aku bertanya kepada Zhafira.
“Orang tua itu membawa kita ke atas tanah, ini di dalam desa.” Sherly datang dan berjongkok menatapku.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Sherly menghela nafas.
“Harus mencari cara untuk melarikan diri,” ujar Patricia sambil berjalan ke sini.
__ADS_1
"Di mana Bell?" Tanyaku sambil mengusap kepalaku.
“Maksudmu wanita itu? Ada di sudut, dia dari tadi pingsan dan belum sadarkan diri,” ujar Sherly sambil menunjuk ke sudut.