
Naomi menatapku. Dia menggunakan wajahnya yang cantik, jutek dan suaranya yang indah untuk menyuruhku minum seteguk sup.
Aku melihat sup yang Naomi bawa, semangkuk sup rebung dengan ikan di dalamnya.
“Ikan dari mana?” Tanyaku pada mereka.
“Kemarin pergi ke pantai untuk menangkapnya.” Elizabeth duduk, Naomi juga ikut duduk.
Aku berbaring di atas tanah, menatap kedua wanita cantik itu, dan rasanya benar-benar sangat puas.
"Kamu benar-benar profesional, sangat menakjubkan." Elizabeth menatapku dengan mata berbinar-binar.
Naomi juga mengangguk. Dia selalu berbicara dalam bahasa Jepang. Kira-kira artinya, Sibolagit termasuk orang yang jago, tak disangka aku bisa menyingkirkan mereka. Dia benar-benar sangat mengagumi kehebatanku.
“Kalau saja tidak bisa menyelamatkan Anna dari kapal, kami benar-benar tidak akan menerimamu tinggal di sini.” Aku mengerti maksud Naomi.
“Hah, aku pikir karena aku terlalu tampan, jadi kalian suka padaku,” kataku setengah bercanda.
“Tentu saja bukan.” Elizabeth memukulku sambil tertawa.
“Duh, sakit, sakit, sakit, pelan, pelan.” Aku langsung menarik napas.
Kepalaku dipukul dan hampir membuatku geger otak.
Itu berarti fisikku bagus, kalau tidak sejak awal aku pasti sudah pingsan.
__ADS_1
“Aduh, maaf.” Elizabeth meminta maaf kepadaku dengan merangkapkan kedua tangan.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, lain kali ingat pelan-pelan, pelan-pelan baru nyaman…” kataku.
Elizabeth menjulurkan lidahnya dengan manis.
“Makanlah, kalau tidak nanti dingin.” Elizabeth meletakkan sup ikan rebung di sebelahnya.
"Aku… aku sakit kepala, tidak bisa bergerak.” Kataku sambil melihat mereka, “Bagaimana kalau, kamu bantu suapin aku.”
“Bagaimana suapinnya? Tidak ada sendok. Kamu minum sendiri saja.” Elizabeth menatapku dengan waspada.
Naomi mengambil sup rebung ikannya, meniupnya, lalu menyesapnya sedikit. Kemudian berkata bahwa suhunya bagus, rasanya enak, dan menyuruhku untuk segera memakannya.
Aku bersikeras mengatakan kepalaku sakit dan tidak bisa bergerak, ingin mereka menyuapiku.
“Tidak bisa, kepalaku sakit..” Aku tidak berbohong pada mereka. Kepalaku benar-benar sakit, tapi memang bukannya sampai tidak bisa bangun.
Tapi aku ingin mereka menyuapiku makan. Aku belum pernah dilayani oleh dua wanita cantik untuk makan. Bagaimanapun, aku ingin merasakannya.
“Kalau begitu, kamu mau makan seperti apa?” tanya Elizabeth.
“Tidur terlentang tidak nyaman, biarkan aku berbaring di pangkuanmu.” Kataku.
“Kamu mau cari kesempatan.” Elizabeth langsung sadar dan mencubitku, "Kamu makan saja sendiri, bodo amat mau makan atau tidak.”
__ADS_1
“Eh, eh, jangan pergi, bantu angkat aku, kepalaku benar-benar sakit, tidak bisa bangun.” Aku segera menariknya.
Elizabeth hanya bisa dengan enggan membantuku berdiri, kemudian membiarkanku berbaring di atas kakinya yang lembut dan elastis. Kemudian, Naomi membawa sup ikan dan bersiap menyuapiku.
Aku berbaring di atas pangkuan kaki Elizabeth, kemudian menatap ke atas, hatiku bergumam, melihat dari sudut bawah memang berbeda, tapi mau lihat dari sudut mana pun, tetap terlihat tegap, besar dan bulat.
“Cus!! Aku…”
“AH! Mampus, kenapa tumpah supnya!”
Tidak terlalu panas, tetapi tetaplah sup rebung ikan yang panas. Tumpah di celana, dan parahnya pada bagian yang paling penting.
Seketika aku jadi kepanasan, mataku sampai terbelalak, rasanya seluruh tubuhku hancur dan kepalaku berdengung.
“Aku…”
Aku menahan napas di tenggorokan dan mencoba untuk tidak berteriak.
Bagian yang rapuh, kenapa yang terluka selalu kamu!
Hatiku sangat sedih.
Elizabeth lebih panik. Dia ketakutan hingga menyusut, dan tangannya sembarangan memegang, “Naomi, kamu gimana sih sampai membuat supnya tumpah, panas tahu!”
Tangannya tersiram sup yang panas, kemudian dia mengelap tangannya padaku.
__ADS_1
“Jangan sentuh, jangan sentuh, biarkan aku bernapas dulu.” Aku segera meraih tangannya.
Dia bahkan meletakkan tangannya di lukaku dan menekannya dengan keras.