
Orang tua aneh di luar pintu itu benar-benar tertipu. Dia berpikir bahwa kondisi panas di dalam kamar itu masih terjadi. Tapi, yang paling menyedihkan adalah dia tidak tahu bahwa cucunya adalah seorang perempuan dan sudah ditiduri olehku…
Kebetulan, ini semua kebetulan.
Jika memikirkan kembali kekacauan barusan, aku benar-benar tidak dapat mengingatnya dengan jelas seperti orang yang minum terlalu banyak di bar. Semuanya lupa keesokan harinya.
Tapi kenyataannya, sesuatu memang terjadi barusan.
"Cepat, cari cara untuk keluar dari sini," ujarku sambil memandang mereka.
“Apa yang kamu lakukan pada cucu orang tua itu? Kamu membunuhnya?” tanya Sherly sambil menatapku.
"Persetan, apa kamu tidak melihat ada satu wanita lain di antara kita?" Aku menunjuk wanita cantik yang tidur di sudut, "Dia seorang wanita, bukan cucu laki-laki, tapi cucu perempuan."
“Dia seorang wanita?” Sherly melebarkan matanya, melirik sekilas wanita cantik tersebut, kemudian menatapku, "Kamu, kamu seharusnya tidak... aku benar-benar tidak menyangka. Wanita primitif pun kamu juga tertarik!"
“Aku lebih tertarik padamu.” Aku menatap Sherly dan tersenyum.
Sherly menatapku dan menendangku. Aku menahan kakinya dan mengelitiki telapak kakinya beberapa kali.
Dia terkikik dan tidak bisa menahan tawa.
Patricia meliriknya. Sherly pun berhenti tertawa, lalu menatapku dan berkata, "Pengawal, aku memerintahkanmu untuk mencari cara agar kami bisa kabur dari sini!"
“Tidak perlu kamu katakan, aku juga tidak ingin tinggal di sini.” Aku menatap Sherly. Dia berpose dengan sikap seorang wanita muda kaya yang belagu, membuatku merasa tidak nyaman.
Lalu berpikir dalam hati, seharusnya tadi aku tiduri saja!
"Gawat, gawat. Jika orang tua aneh itu tahu bahwa cucu laki-lakinya berubah menjadi cucu perempuan pasti tidak akan percaya. Pasti dia akan menjadi gila, lalu curiga pada kita bahwa kita yang sudah membunuh cucunya dan dia akan membunuh kita!” ujar Patricia.
__ADS_1
"Bu Zhafira, kita duduk saja di sebelah sana. Tunggu nanti hujan es berhenti dan langit sudah gelap, kita kabur dari belakang.” Aku melihat sekilas dinding di bagian belakang, di sana ada sebuah jendela kecil. Jika ada cela di bagian itu, bisa langsung manjat keluar.
Kebetulan ada peti mati di sini. Dengan menggunakan peti mati sebagai pijakan, kami dapat memanjat jendela dan melarikan diri.
"Umm, itu nanti ketika hujan berhenti dan hari sudah gelap, kita bersiap untuk pergi."
"Orang tua itu seharusnya tidak akan mengejar di malam hari. Nanti kita berjalan kembali di sepanjang gua dan ketika kita sampai di pantai akan lebih aman."
“Oh.” Patricia memberikan respon.
Menunggu hujan berhenti memang sangat membosankan dan aku merasa lapar.
Melihat sekeliling, kamar ini cukup bersih, tapi tidak ada makanan.
Gadis aneh itu dengan tubuh merah muda tergeletak di tanah dan tertidur. Aku tidak tahu apakah karena dia lelah atau karena tertidur di peti mati terlalu lama, jadi tubuhnya tidak bisa beradaptasi ...
“Eh…Bu Zhafira, bagaimana kalian berdua bisa tertangkap?” tanyaku sambil berbaring di pangkuan Zhafira.
"Oh," aku mengangguk.
Masih sedikit canggung.
Bell juga sudah membuka matanya dan terbangun.
Suasana menjadi lebih canggung.
Setelah beberapa saat.
Bell menyentuh tubuhnya beberapa kali, dia memiringkan kepalanya dan menatapku, "Tubuhku sudah berubah, apakah kamu melakukannya?"
__ADS_1
"Umm... dengarkan penjelasanku, aku... aku..." Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
“Tidak masalah, tidak apa-apa. Kamu bisa melakukannya kapan saja kamu suka.” Bell menatapku dengan ekspresi yang sangat tenang.
Begitu kata-kata ini keluar, para wanita itu tercengang dan menatap Bell dengan aneh.
Aku juga sedikit speechless, nadanya terlalu tenang, seperti orang yang digigit nyamuk...
"Mulai sekarang ..." Bell mengedipkan mata padaku dan berkata, "Kamu adalah raja suku kami."
“Ra…Raja?” Aku kaget, “Jangan bercanda!”
“Ini serius.” Bell menatapku, “Hanya raja yang boleh berhubungan intim dengan Bell, kalau tidak aku akan membunuhmu”
Membunuhku?
Ketika aku mendengar ini, aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
Aku menutupi wajahku. Perasaanku campur aduk...
"Apakah kalian berdua masih kuat?"
Setelah beberapa saat, aku menenangkan hatiku dan melihat peri tersebut sambil bertanya.
"Nanti malam, kita cari cara untuk kabur keluar. Aku berencana menginjak peti mati dan memanjat keluar melalui jendela kecil itu. Aku tidak bisa mendorong peti mati sendirian."
Aku menunjuk ke jendela kecil di dinding belakang.
Selanjutnya, kami membuat rencana. Lalu, memberi tahu Sherly dan lainnya harus terus mengikuti kami, jangan sampai ketinggalan.
__ADS_1
Tak lama, hari sudah gelap, dan di luar kembali berkabut.