365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Panggil Jika Ada Orang!


__ADS_3

Kami melewati kuburan dan tiba di hutan. Di dalam hutan ada sebuah pohon persik, pohon tersebut penuh dengan buah persik yang besar.


Melihat buah persik ini, aku sedikit haus. Sejak kemarin malam hingga saat ini tidak makan apapun, jadi sekarang sedikit lapar.


Aku memetik beberapa buah persik, namun baru satu gigit tapi langsung kumuntahkan, “Cuihh…! Rasa apa ini!”


Jelas-jelas buah persik ini terlihat sangat segar, tetapi begitu dimakan rasanya sangat menjijikan. Baunya juga seperti bau buah busuk.


Aku membuang air liur berkali-kali baru bisa menghilangkan rasa tersebut di mulut.


Kenapa bisa ada persik yang sangat tidak enak di makan?


“Apa ini?” Aku melihat pohon-pohon persik ini, sama sekali tidak mengerti kenapa rasa persiknya seperti itu.


Aku tidak percaya dan membuka beberapa persik lagi. Hasilnya sama, semua bau busuk.


Sayang sekali, padahal persik-persik ini terlihat lumayan. Tak disangka rasanya seperti itu.


Aku langsung membuang persiknya dan berpikir dalam hati bahwa ini mungkin bukan pohon persik. Atau mungkin pohon persik zaman kuno, jadi berbeda dengan pohon persik yang aku tahu.


Aku menggelengkan kepala dan tidak ingin memedulikan masalah persik lagi. Setelahnya, aku lanjut berjalan ke dalam hutan untuk kembali melakukan pencarian.


Ada daun bekas diinjak, ada jalan berkelok-kelok yang baru muncul jejak jika sudah dilewati banyak kali.


Aku mengikuti jejak kaki yang ada di atas tanah dan berjalan kurang lebih belasan menit.


Akhirnya!


Di dalam hutan, ada sebuah pohon yang super besar di depan. Satu cabang pohon ini saja sama besarnya dengan batang pohon yang biasa!


Jika dilihat dari kekokohannya, pohon ini setidaknya berusia ribuan tahun!


Jauh lebih tebal dari pohon mana pun yang pernah aku lihat!

__ADS_1


Di batang pohon, ada lubang pohon setinggi satu orang!


Tampaknya ada ruang besar di dalam lubang pohon!


Yang utama adalah ada beberapa sosok manusia kayu yang tergantung di atas pohon besar!


Pohon besar yang sangat aneh!


Manusia kayu yang sangat menyeramkan!


Apakah mau masuk ke dalam untuk lihat? Pikirku dalam hati.


“Tunggu, sepertiya ada orang keluar!” Bell menepuk aku dan berkata sambil menunjuk ke arah lubang pohon.


Aku segera bersembunyi di belakang rumput dan melihat lubang pohon tersebut.


Dari dalam lubang pohon muncul seseorang, rambutnya sangat berantakan, panjang dan kusut. Dia adalah orang tua aneh itu!


“Benar, itu dia!” ujarku dengan suara kecil.


Bahkan aku bisa melihat di rambutnya ada banyak sekali serangga!


Beberapa burung beo menjambak rambut dan jenggotnya untuk memakan serangga!


Gila!


Benar-benar sangat menjijikan.


Setelah orang tua itu berjalan keluar, dia membawa turun manusia kayu dari atas sana, kemudian membuka topeng wajah manusia kayu.


Aku melihat lebih seksama dan menyadari orang tua itu mengeluarkan beberapa batu berwarna merah dari tubuh manusia kayu. Kemudian, meletakkan batu tersebut di cabang pohon.


Tak lama kemudian, cahaya matahari masuk dan menyinari beberapa batu merah itu.

__ADS_1


Batu merah itu bersinar terang, mengeluarkan cahaya yang sangat silau. Penglihatan itu tiba-tiba menjadi gelap.


Semua cahaya seperti tertarik ke dalam batu tersebut dan pencahayaan di sekitar menjadi redup!


Seketika, pencahayaan sekitar pohon besar menjadi redup seperti cuaca mendung.


Aku merasa sangat terkejut. Aku tidak pernah melihat hal-hal aneh seperti ini.


Sebenarnya batu tersebut termasuk benda apa?


Bisa menarik sinar cahaya?


Hatiku merasa tercengang.


Tiba-tiba.


Orang tua berbalik badan. Aku segera menunduk dan bersembunyi di balik rerumputan.


Melalui celah di rerumputan, aku melihat lelaki tua itu berjalan menuju desa.


Desa itu berjarak sepuluh menit dari sini, kebetulan aku bisa masuk untuk melihat apakah dia yang menangkap Patricia!


“Tunggu sebentar. Aku masuk untuk melihat-lihat. Kamu tunggu di luar untuk memberi aku isyarat. Jika ada orang yang datang, kamu tiru suara burung.” Ujarku padanya.


“Apa itu isyarat?”


“Jadi kamu tunggu aku di luar. Jika ada orang yang mendekat, kamu bersuara tiga kali.” Kataku padanya.


“Oh iya. Jangan sentuh batu itu. Aku khawatir itu ada masalah.”


“Baik.” Bell menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian, orang tua itu sudah pergi jauh.

__ADS_1


Aku membungkuk dan perlahan-lahan menyelinap ke dalam lubang pohon.


__ADS_2