365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Burung Besi Yang Bisa Terbang


__ADS_3

Dia membuka mata, lalu mengulurkan tangan dan mencengkram leherku.


Aku mengangkat kepalaku untuk menghindar.


Jarak antara aku dan dia sangat dekat, muka bertatap muka. Aroma wangi tubuhnya sangat kuat dan begitu dicium sangat wangi.


Dia menatapku, sepertinya sedikit marah.


Ketika wanita tersebut menyadari pakaian bagian atasnya robek, dia mengerutkan keningnya dan berucap sambil menatapku, “Aku tidak tertarik pada manusia. Cepat lepaskan aku!”


Aku sangat speechless…karena aku bukan ingin memerkosa dia.


“Cantik, aku sedang menyelamatkan kamu. Aku sedang membersihkan lukamu.” Ujarku sambil menatapnya. “Bagian punggungmu terluka. Bahkan lukanya sudah bernanah.”


Dia memberikan respon dan mencoba untuk menggerakkan bagian bahunya. Kemudian, dia sedikit merintih kesakitan.


Dia menarik pergelangan tangannya agar aku melepaskan dia.


“Tempat apa ini?” Dia mendongakkan kepala dan melihat sekitar. “Pegunungan salju? Apakah ini danau merah di pegunungan?”


“Air di sini bisa membersihkan luka kamu,” jawabku sambil menganggukkan kepala. “Kamu jangan bergerak. Biarkan aku balut dulu lukamu. Luka tembak harus diberikan obat.”


Aku mengunyah obat herbal dan menggunakan daun untuk membungkusnya.


“Tidak perlu. Luka ini tidak perlu waktu lama untuk sembuh.” Dia mengamati sekelilingnya dan bergumam, “Mereka bisa kelihatan danau merah. Jangan sampai mereka menemukan aku.”


Dia sedikit panik begitu melihat sekilas pegunungan salju, “Tidak, kenapa aku dapat mencium bau kematian?”

__ADS_1


Dia kembali mengamati sekelilingnya dan menyadari beberapa kuburan.


“Orang yang terkubur di sini adalah orang suku aku.” Ucapnya sambil melihat ke arah kuburan tersebut.


Wanita cantik itu terdiam sebentar, “Kilat dan api adalah hal yang paling kami takuti.”


“Mereka masih menjaga puncak gunung dan mencoba membuka pintu yang disegel.” Ujar wanita cantik, “Harus dicegat!”


“Hah? Hmph, maksudmu apa? Apakah kamu bisa menjelaskannya?” tanyaku padanya.


Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan, satu kata pun aku tidak mengerti.


“Kalian para manusia tidak seharusnya muncul di sini.” Dia menatapku.


“Oh ya? Kalau begitu, apa boleh buat. Kami juga tidak bisa keluar.” Aku mengangkat bahu, “Pesawat kami hilang dan kami terdampar di sini. Aku juga tidak dapat berbuat apa-apa.”


Burung besi yang bisa terbang?


Penjelasan ini sangat aneh tapi juga benar.


“Iya. Burung besi yang bisa terbang. Kepala burungnya masuk ke dalam rawa. Apakah kamu melihatnya?” tanyaku padanya.


“Aku pernah melihatnya. Tapi aku terlalu takut, jadi aku tidak berani mendekat.” Dia melihat kami semua, tidak begitu menghindari kami lagi.


“Nama kamu siapa? Bisakah kamu memberitahu kami?” tanyaku padanya. Kemudian, aku juga memperkenalkan.


“Nama dia Naomi, nama dia Rose.”

__ADS_1


Kedua wanita yang sedang menyalakan api, bergegas maju ke sini sambil menganggukkan kepala.


“Namaku Bell.” Bell melihat ke arah kami, “Seperti yang kalian lihat, aku adalah peri.”


Blaar! Api menyala. Dari ranting pohon mengeluarkan suara ‘blaar’.


Setelah Bell melihat api, dia ketakutan hingga raut wajahnya berubah dan segera bersembunyi di belakang aku.


“API!” teriak dia.


Aku segera menenangkan dia, “Jangan panik. Itu adalah api yang kami nyalakan. Digunakan untuk memasak air panas dan membuat ikan bakar.”


“Air panas? Ikan bakar?” tanyanya bingung sambil menatapku.


Aku merasa lucu melihatnya yang begitu takut pada api.


Sangat menakjubkan, ternyata makhluk legendaris seperti ini akan takut pada api.


“Apakah kamu tidak pernah melihat api?” Aku berbicara sambil menatapnya. Pantas saja kulit dia begitu putih.


“Api? Api bisa merenggut nyawa kita.” Ujar Bell.


Aku menarik tangan dia untuk mendekati api, “Ini adalah api, sangat hangat. Jika tidak ada api, manusia tidak bisa membentuk masyarakat.”


“Tidak mengerti sejarah manusia.” Kata Bell. Tetapi dia sangat tertarik pada api, lalu mengulurkan tangan dan menyentuhnya pelan-pelan.


AH! Dia merintih.

__ADS_1


__ADS_2