365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Tidak Tahu Malu!


__ADS_3

"Apa yang salah dengan berbaring sebentar? Apakah kamu ingin menyuruhku pergi bekerja?" Zhafira menjawab ku dengan tidak sabaran: "Parasut ini masih milik aku, jadi tenda ini seharusnya juga milik aku, semua barang disini milik aku!”


Aku mengangkat alisku, orang ini benar-benar menganggap dirinya sebagai direktur dan memperlakukan kita sebagai bawahannya?


"Tatapan macam apa itu?” Wajah Zhafira berubah drastis dan kecut, "Kamu ingat ya, aku dan kamu adalah dua orang dari kalangan yang berbeda, kalangan rendah seperti kamu lebih baik melayaniku dengan baik.”


"Cepat pergi cari kayu, bukannya membawa makanan laut saat kembali, kamu malah membawa pulang beberapa kelapa ini! Tidak berguna!” Zhafira melototiku.


"Keberadaanmu sangat menyusahkan, seharusnya kamu pergi dan bertahan hidup sendiri saja!”


Aku melihat Agung ada di dalam goa, tersenyum dingin, lalu menundukkan kepala dan menatap Zhafira: "Percaya atau tidak, malam ini aku akan membuat kamu telanjang dan melemparmu pada sekelompok monyet itu!”


"Beraninya kamu!" Wajah Zhafira berubah drastis, wajahnya menjadi pucat ketika melihat sorot mata aku.


Aku tersenyum, lalu berbalik badan dan berjalan ke hutan untuk mengambil ranting-ranting kering.


Patricia berusaha keras untuk membuka kelapa dan meletakkannya di tanah.


Aku melemparkan ranting-ranting yang sudah terkumpul ke tanah. Kemudian mengambil kelapa berniat untuk menambah cairan dalam tubuh.


"Apakah aku menyuruhmu untuk minum?” Zhafira merebut kelapa dan memelototiku: “Kamu ingin minum dengan hanya mengambil sedikit ranting saja, benar-benar tidak tahu malu!”


Aku benar-benar muak, bukankah aku hanya mencuri kesempatan padanya sekali saja, tapi kenapa dia terus menerus mencari masalah denganku?

__ADS_1


Jika bukan karena mereka mempunyai busur panah, apakah aku akan membiarkan mereka menghinaku seenak jidat?


Sialan, aku harus bertahan!


"Apa kamu lihat-lihat! Kamu makan kelapa dan pisang saja, tidak ada daging untukmu!" Zhafira memelototi dan menendangku: "Keluar, kamu dilarang masuk ke dalam goa lagi.”


Dia menendangku, aku kesal dan tidak dapat menahan diri. Lalu aku mengulurkan tangan dan meraih pergelangan kakinya.


Zhafira berteriak: "Aku memerintahmu, lepaskan aku!"


Agung segera mengangkat kepalanya, dia sedang memegang potongan krikil di tangannya untuk mengupas kulit kadal.


Aku mengendurkan pergelangan kakinya, lalu mengambil kelapa dan pisang, dan pergi meninggalkan goa.


"Gilang, ketika kamu pergi ke pantai apakah kamu hanya mengambil beberapa sampah ini saja, apakah tidak ada makanan laut sedikit pun? Ini tidak mungkin, seharusnya ada banyak ikan yang terdampar di pantai," kata Agung santai.


Sembari berbicara, dia menatapku dengan tatapan yang tidak bersahabat, dibalik senyumannya seperti ada makna lain.


"Kamu seorang laki-laki, kamu harus bisa menjadi sosok yang bertanggung jawab." Agung tersenyum. "Jika kamu hanya membawa kelapa kembali, maaf, aku tidak bisa berbagi daging dengan kamu."


Perkataannya, membuatku seolah-olah orang luar.


Aku mengerti, dia sengaja ingin meremehkanku untuk mendapatkan kepercayaan Patricia!

__ADS_1


"Dengar tidak? Kamu tidak melakukan apa-apa dan masih berharap untuk makan!" Zhafira mengejek.


"Makanan di pulau terpencil ini sangat sedikit, aku tidak bisa berbagi makanan yang terbatas ini dengan orang luar.” Agung menatapku.


Ketika aku mendengar ini, sejak kapan aku menjadi orang luar?


Aku yang menemukan goa ini terlebih dahulu, tetapi kenapa aku yang menjadi orang luar? Aku yang menemukan goa, aku pula yang menyelamatkan orang-orang ini.


Jika aku tidak menyelamatkan dia, Zhafira sejak awal pasti sudah menjadi monyet betina di dalam kelompok monyet itu, dan sekarang kenapa malah aku yang menjadi orang luar.


Bukankah kalian yang orang luar?


Apa karena mereka lebih dominan? Apakah mereka tidak terlalu menindas orang?


Aku menahan amarahku. Tetapi aku bisa mati jika tidak segera melampiaskan amarah ini.


Ini sangat keterlaluan!


Aku menyipitkan mataku dan menatap Agung, "Aku yang menemukan goa ini duluan."


Aku merasa sangat kesal saat ini. Jika bertarung satu lawan satu dengan Agung, dia bukanlah lawanku. Sekalipun aku berhasil mengalahkannya, yang ada aku akan menjadi korban selanjutnya karena tidak dapat mengalahkan pria berbadan besar itu.


"Ini sudah menjadi milikku sekarang. Aku ingin mendirikan perkemahan di sini dan menunggu tim penyelamat. Jika kamu ingin bergabung dengan kami, diamlah, jika tidak, kamu dapat pergi kapan saja. "Agung menatapku dan berbicara dengan nada tegas.

__ADS_1


Suasananya berubah menjadi sangat tegang.


__ADS_2