365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Apakah Meyukaimu?


__ADS_3

“Cantik, jangan gegabah. Apa yang kamu katakan? Apakah kamu bisa berkata lebih jelas?” Aku menatap wanita cantik yang mengenakan gaun putih dan siap untuk bertarung dengannya.


Setelah membujuknya, kedua binatang tersebut tidak berani menghantam aku.


Dia menatapku dengan tatapan yang dingin dan bertanya dengan curiga, “Di tubuhmu ada aroma orang-orang suku aku, katakanlah, orang suku ku ada di mana?!”


Dia tiba-tiba menendangku hingga membuatku tersandung, kemudian mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas tubuhku.


Aku mendongakkan kepala. Lalu aku melihat dia yang mengenakan pakaian compang-camping, tubuhnya penuh dengan luka dan sayatan.


Di balik stocking hitam yang halus, ada sepasang kaki yang ramping. Tenaganya sangat kuat sehingga membuat bahuku yang diinjak terasa sakit.


Rose dan Naomi sangat terkejut dan sempat bersembunyi. Mereka ingin menyelamatkan aku, tetapi aku segera menjulurkan tangan memberi isyarat kepada mereka agar tidak gegabah.


Aku mendongakkan kepala melihat sepasang kaki yang cantik di balik stocking hitam…sayangnya, dia memakai celana boxer (khusus wanita).


Mataku berkedip sebentar, lalu aku memeluk erat betisnya ketika dia sedikit lengah!


Breeet!


Aku segera menyobek stocking hitam wanita cantik, lalu memeluk erat kakinya untuk menahan dia.


Dia memelototiku dan memberontak dengan sekuat tenaga. Lalu, sebuah tangan melayang untuk memukul, tapi aku menahannya. Kemudian, untuk menahannya, aku menggunakan kaki untuk menahan kaki cantiknya dan kedua tangan menahan lengannya.

__ADS_1


“Kamu tenang dulu. Kalau ada masalah katakan saja, jangan gegabah!” Aku berkata padanya.


“Lepaskan aku!” Dia menggunakan kepalanya untuk menabrak kepalaku.


Pow!


Dahiku sangat sakit, bahkan air mataku hampir mengalir.


“Apa yang kamu bicarakan? Apa itu suku lain?” tanyaku padanya, “Katakan lebih jelas.”


“Aroma tubuh kamu, ada aroma orang suku ku.” Dia menatapku sambil bersenandung lembut.


Aroma? Aku mencium aroma di tubuhnya, lalu tiba-tiba menyadari, dia tidak memiliki detak jantung…


Bagaimana mungkin orang yang hidup tidak memiliki detak jantung?


Kecuali dia bukan manusia, tapi tanaman…tubuhnya benar-benar sangat harum, ada aroma bunga yang sangat soft.


Aromanya sangat familiar.


Tiba-tiba aku paham akan sesuatu, aroma ini, “boneka” unik yang tidak memiliki detak jantung!


“Ka, kamu kenapa tidak memiliki detak jantung?” Aku ketakutan hingga melepaskannya dan menatapnya dengan terkejut.

__ADS_1


Begitu wanita cantik itu bebas, dia langsung menahanku ke tanah.


Ditahan olehnya ternyata cukup nikmat. Postur tubuhnya sangat bagus dan seksi, tubuhnya juga memiliki aroma yang harum.


“Kamu jangan kasar gitu. Apa yang kamu maksud wanita yang memiliki kulit putih cantik dan memakai penutup mata? Lalu di ujung bibirnya ada sebuah tahi lalat?” tanyaku langsung padanya.


Wanita cantik itu tercengang, lalu melepaskanku dengan terkejut dan berkata sambil menatapku, “Orang yang kamu katakan ada di mana?”


“Apakah dia masih hidup?” Kedua tangannya mencengkram bahuku dan menatapku dengan cemas.


Aku menatapnya, “Tidak ada detak jantung. Bagaimana aku tahu dia masih hidup atau tidak?”


“Siapa kalian? Kenapa tidak punya detak jantung?” Aku benar-benar sulit percaya makhluk yang hidup bisa tidak memiliki detak jantung.


“Kami bukan manusia, suku kami adalah tanaman. Tentu saja tidak punya detak jantung.” Wanita tersebut menatapku, “Orang yang kamu bicarakan, ada di mana?”


Melihatnya begitu panik, aku pun langsung memberikan penjelasan.


“Jangan panik. Apakah kamu bisa memberitahuku, sebenarnya siapa kalian?” Aku menatapnya, rupanya sama persis seperti manusia. Apakah mungkin dia adalah ras manusia yang berevolusi dari tanaman?


“Aku paham sekarang. Dia masih hidup dan dalam keadaan mati suri, dia hanya meninggalkan beberapa respon sederhana,” ujarnya padaku dan tak lagi menganggap kami bertiga sebagai musuh.


Kedua binatang buas tersebut juga menjadi lebih tenang dan berbaring di tanah sambil menjulurkan lidah dan menatap kami.

__ADS_1


Sedangkan dua wanita lainnya masih sedikit takut dan bersembunyi di belakangku tanpa berani bersuara.


Aku melihat wanita cantik yang memakai gaun putih dan stocking hitam tersebut dan berkata, “Cantik, siapa namamu?”


__ADS_2