
"Uhuk, menurutku namanya goa peri saja." Aku meletakkan tanganku ke belakang.
"Yang disebut, tercipta sebuah gua peri, dengan pemandangan indah yang tak terbatas ada di… depan mata." Aku menatap Patricia dengan menyeringai.
“Kubunuh kau kalau pakai nama goa peri.” Patricia tersipu malu dan mengeluarkan tinjunya.
"Ku, kubunuh kau! Diam, jangan bicara lagi, setiap hari hanya tahu membicarakan hal yang aneh-aneh!”
“Jangan marah, jangan marah, aku hanya bercanda saja.” Aku segera mengangkat tanganku untuk memohon belas kasihan, dan tersenyum menatap Patricia yang sedang kesal.
“Mesum, bajingan!” Patricia menatapku dengan sinis.
"Haha, aku tidak mengatakan apa-apa, kamu sendiri yang pikirannya melenceng." Aku mengolok-oloknya.
“Bisakah kamu membuat nama yang bagus dengan serius!” Patricia menatapku dengan wajah memerah karena tersipu malu.
“Kandang ayam besar keluarga Gilang sudah bagus, aku sangat menyukainya.” Sambil berbicara aku mengambil sebuah batu, bersiap untuk mengukir namanya di depan gua.
“Apa yang kamu lakukan?” Patricia bertanya padaku.
"Aku mau mengukir namanya." Kataku.
"Tidak bisa, kandang ayam besar keluarga Gilang tidak terdengar bagus, mending kita namakan goa peri… tidak, goa bidadari saja.” Patricia menatapku.
__ADS_1
"Goa bidadari? Itu nama yang bagus. Nanti ketika sudah menyelamatkan Sherly, maka di goa ini aka nada 7 bidadari.” Aku tertawa dan mengukir nama goa bidadari di batu besar yang ada di luar.
"Bagaimana, tulisanku bagus, kan?" Aku menatapnya.
"Tulisanmu sama dengan kamu."
"Sama tampannya denganku, kan?"
“Sama-sama jelek!” Patricia mencibir.
"Tidak baik berbohong." Aku menatapnya, "Betapa indahnya tulisan ini."
“Kamu sama seperti monyet mesum, tulisanmu juga jelek.” Patricia menatapku dan berkata.
Patricia sama sekali tidak sadar. Ketika dia sadar, dia tersipu malu, kemudian mengangkat kakinya dan menendangku. Aku menangkap pergelangan kakinya.
“Duh, sakit, untuk apa kamu begitu memakai tenaga.” Teriak Patricia, “Cepat lepaskan aku.”
"Begitu saja aku sudah pakai tenaga? Aku bahkan belum bergerak.” Aku melonggarkan tangan, “Aku saja tidak bergerak, kamu sakit apa.”
“Kamu begitu pakai tenaga, tentu saja aku merasa sakit, belum ada orang yang berani meraih pergelangan kakiku.” Patricia melototiku.
"Oh, pertama kali, wajar saja kalau pertama kali sakit, aku mengerti” Aku menyeringai.
__ADS_1
“Bisakah kamu berbicara sesuatu hal dengan serius.” Patricia menghela nafas dan menatapku.
"Aku berbicara dengan sangat serius, kamu yang pikirannya melenceng." Kataku.
Aku menatapnya, aku suka melihat dia yang kesal karenaku dan tak berdaya.
“Aku tidak peduli, aku malas menggubrismu kamu.” Patricia menoleh dan berjalan pergi.
Dia selalu berkata malas ladenin aku, tapi ketika aku berbicara dengannya, dia selalu menjawabnya. Wanita memang sangat aneh.
Elizabeth dan Rose datang dan melihat kata-kata yang aku tulis. Rose tidak mengerti, Elizabeth tahu tapi tidak tahu artinya.
"Apa itu goa bidadari?" Elizabeth bertanya padaku.
Aku dengan sabar menceritakan kisah Tujuh Bidadari kepada mereka. Setelah mendengarkannya, mata kedua wanita cantik ini bersinar.
"Mau apa kalian berdua?" Aku bertanya kepada mereka ketika aku melihat mereka memegang pisau di tangan mereka.
"Pergi memotong bunga, kami ingin menggunakan cabang dan daun dari bunga untuk membuat kosmetik, kalau waktu berkepanjangan, takutnya kulit akan menjadi kusam." Elizabeth menjelaskanya dengan ekspresi tak berdaya.
"Kosmetik?" Aku baru sadar. Kulit mereka sangat bagus, "Siapa yang membuatnya?"
"Anna, dia bisa melakukan segalanya." Elizabeth meraih tangan Rose, "Tenang, kita tidak akan pergi terlalu jauh kok, ada bunga di mana-mana."
__ADS_1
"Aku ikut kalian pergi." Aku berkata, "Aku juga ingin ikut kalian pergi."