
Elizabeth berjalan dengan panik sambil berteriak memanggil temannya.
Aku melihat sekeliling, secara tidak terduga aku melihat beberapa kotak minuman di sebelah batu!
Tidak hanya itu, tetapi juga ada makanan kaleng!
Aku menghitung secara kasar, minuman dan makanan kaleng ini kurang lebih cukup untuk sepuluh orang selama sebulan!
Bagaimana mungkin!
Di tenda ini kenapa bisa ada begitu banyak makanan dan minuman!
Aku sudah tidak peduli dengan Elizabeth. Aku sudah kelaparan seharian, begitu melihat banyak makanan dan minuman, perutku mulai keroncongan.
Aku membuka sebotol minuman dan langsung meneguknya. Kemudian aku membuka satu kaleng makanan untuk dimakan.
"Jangan bergerak! Jika kamu bergerak, aku akan membunuhmu!"
Sebuah peringatan tiba-tiba terdengar.
Aku menundukkan kepalaku dan melihat sebuah pisau belati ada di tenggorokanku.
Sebuah aroma tercium di hidungku, seorang wanita, gerakannya sangat cepat, aku bahkan tak sadar akan kehadirannya!
“Tenang, aku bukan orang jahat.” Aku mengangkat tanganku yang memegang kaleng.
"Ikat dia." Kata wanita itu, kemudian seseorang segera mengambil tali dan mengikatku di kursi.
__ADS_1
"Elizabeth, siapa pria ini? Di mana kamu bertemu dengannya?" Aku merasakan tali itu diikat begitu kencang hingga aku tidak bisa melepaskannya.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di tengah jalan saat melarikan diri dari manusia primitif itu." kata Elizabeth.
Aku melihat ketiga wanita ini. Wanita yang memegang pisau belati itu sepertinya Amerika Spanyol, dia memiliki warna kulit yang sehat, tubuh yang seksi, mengenakan pakaian dalam hitam, dan kaki panjang yang indah berkilau.
Dan yang satu lagi sepertinya dari Jepang, mungil, tidak terlalu tinggi, sekitar 160 cm, kelihatannya sangat lembut.
Sembilan poin untuk penampilan, ditambah dua belas poin untuk kelembutan.
Seketika aku tahu nama kedua orang ini.
“Kamu adalah Rose, kan? Dan kamu adalah Naomi?” Aku bertanya dan melihat ketiga wanita cantik yang mempunyai gaya berbeda.
“Diam, siapa yang menyuruhmu bicara.” Naomi menendangku.
Rose terkejut hingga menutup mulutnya, "Dia bisa mengerti bahasa yang kita bicarakan!"
Setelah dia mengatakan itu, Rose dan Elizabeth tercengang. Mereka bertiga berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri, tapi aku bisa mengerti pembicaraan mereka. Tentu saja mereka terkejut.
"Elizabeth, aku menyelamatkan hidupmu. Begitukah caramu berterima kasih padaku? Bisakah kamu melepaskanku dulu?" kataku.
"Melepaskanmu?" Naomi mencibir, kemudian mengambil pedangku, meletakkannya di tubuh bagian bawahku dan tersenyum: "Cepat katakan, apakah kamu mata-mata yang dikirim oleh perkemahan sibolangit! Dan juga, apakah kamu yang menculik Anna!"
"Bukan aku..." Aku baru saja akan menjelaskan.
Pisau yang dipegang Naomi semakin mendekat, seperti akan memotongku!
__ADS_1
"Cepat katakan yang sebenarnya, atau aku akan mengundulkanmu!" kata Naomi memperingatkan.
“Jangan, tenang, tenang.” Aku langsung mengangkat tangan dan menyerah.
Aku tidak menyangka gadis ras campuran ini begitu emosional.
"Aku tanya, kamu jawab." Naomi memelototiku.
Aku mengangguk, menyatakan kesediaan untuk bekerja sama.
"Cepat katakan, apakah kamu dikirim oleh sekelompok orang itu!" Naomi menginterogasiku.
"Siapa? Aku bahkan tidak tahu apa yang kalian bicarakan." Aku berusaha menjelaskan, "Elizabeth, bantu aku menjelaskannya, aku sudah menyelamatkan hidupmu."
“Diam, siapa yang menyuruhmu bicara.” Naomi yang melihatku memotong pembicaraan langsung meninju perutku.
Aku terbatuk-batuk dan menatap gadis-gadis seksi ini dengan aneh.
Ketiga gadis ini memiliki ciri khas masing-masing. Elizabeth memiliki tubuh putih dan sepasang kaki putih jenjang. Rose memiliki warna kulit sawo matang yang sehat dan sangat aktif.
Meskipun Naomi terlihat lebih mungil, tetapi bokongnya sangat besar dengan proporsi yang baik, dan sepasang kaki merah muda yang menjuntai.
Jika dapat mengubah kondisi kejadian saat ini, aku pasti akan menikmati keindahan yang ada di depanku.
Tapi saat ini, aku tidak ada mood.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Kita semua penyintas, kenapa harus seperti ini? Beberapa hari lalu pesawat baru saja terjatuh, kita semua berada pada satu penerbangan yang sama.” kataku sambil tersenyum masam.
__ADS_1