365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Harta Karun di Dalam Kapal


__ADS_3

"Benar-benar sebuah kapal, kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?" Naomi melihat ke arah kapal, "Bagian samping rusak parah hingga ada sebuah lubang besar. Apakah terkena bola meriam? Atau apakah itu kapal bajak laut?"


"Sepertinya begitu." Elizabeth meraih teropong, "Coba aku lihat."


Beberapa wanita tampak bersemangat, dan ketika kapal mendekati pantai tujuh puluh atau delapan puluh meter, aku tahu sudah waktunya untuk bertindak.


"Ayo, pergi naik dan lihat-lihat, di kapal ada banyak barang yang bisa diambil, bahkan bisa jadi dapat menemukan benih atau sesuatu yang lain.” Kataku.


Beberapa orang mengangguk, merasa bahwa apa yang aku usulkan adalah ide yang bagus. Kemudian segera mengikuti aku di belakang dan berenang menuju kapal.


Patricia, Zhafira, dan Anna tetap tinggal di pantai untuk menunggu kami, sekalian melepaskan angin untuk mencegah hiu mendekat.


Aku membawa tiga wanita cantik lainnya berenang ke arah kapal.


"Naik dari bawah." Aku menarik rantai besar, berpikir seandainya barang ini bisa dibawa pulang.


Tapi ide ini tidak realistis. Rantainya terlalu tebal dan panjang, sama sekali tidak ada cara untuk membawanya pulang.


Naomi memanjat lebih dulu, kemudian diikuti Rose dari belakang, lanjut Elizabeth juga mengikuti dari belakang. Ketiga wanita cantik ini berpegangan pada rantai untuk memanjat, aku mengikuti dari bawah. Begitu aku melihat ke atas, aku melihat bokong indah Elizabeth yang bergoyang.


Duk!


Elizabeth tiba-tiba berhenti dan bokongnya duduk tepat di atas wajahku.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan." Aku mengulurkan tangan menepuk bokongnya dan mengangkat bokongnya.


Elizabeth tersipu malu, "Aku sudah sampai."


Kami merangkak masuk dari lubang besar di samping dan melihat bagian dalam kapal yang hancur, kali ini langitnya cerah, jadi aku baru dapat melihat bahwa ruangan di seberang lubang besar sudah rusak oleh ledakan.


Kapal itu benar-benar beruntung, bisa-bisanya tidak tenggelam.


"Coba cari barang-barang yang berguna untuk dibawa pulang." Aku berkata, "Mari kita berpencar.”


Mereka mengangguk, lalu segera berpisah, dan mulai mencari barang yang ada di dalam kapal.


Panci, wajan, pisau dapur, talenan, bahkan meja dan kursi, ketiga wanita cantik ini menyeret keluar semua barang yang berguna.


"Untuk apa membawa barang ini." Aku menghela nafas.


"Dibawa pulang untuk dijadikan meja makan, tidak mungkin kita selalu makan di lantai ‘kan, masih ada kursi juga, kita harus pindahkan berkali-kali, bawa pulang semuanya.” Wajah kecil Naomi yang merah sangat imut.


“Kenapa kamu membawa botol kosong?” Naomi mengerutkan kening dan menatapku.


"Siapa tahu ada benih di dalamnya, bisa digunakan untuk bertani.” kataku.


"Bertani?" Beberapa wanita cantik ini menatapku dengan ragu.

__ADS_1


"Bagaimana caranya kamu mau bertani?" Naomi bertanya padaku.


“Apa itu bertani?” Rose menatapku curiga.


“Apa yang kalian bicarakan?” Elizabeth semakin bingung.


“Bertani itu artinya mengubur benih di dalam tanah dan menunggu setengah tahun, lalu panen hasilnya.” kataku, “Seharusnya ada benih di dalam botol-botol ini, jika benar-benar ada barang yang bisa digunakan untuk makan, kita tidak perlu memusingkan makanan lagi."


"Oh, tidak mengerti." Mereka menggelengkan kepala, "Lupakan saja, kita turun dulu, beresin barangnya dan lempar ke bawah."


Ketiga wanita itu melemparkan meja ke laut, Naomi melompat dan berdiri di atas meja. Mereka memindahkan barang ke bawah, barang tersebut ada panci dan wajan.


Kemudian menyeret barang-barang ini ke pantai. Mereka bertiga merasa belum cukup dan mengajukan kembali ke kapal untuk mencari-cari lagi.


Aku membawa mereka bertiga kembali ke kapal. Kapal itu sangat besar, tetapi karena sudah terlalu lama hanyut di laut, barang yang dapat digunakan sangatlah sedikit. Selain panci, wajan, meja dan kursi, semuanya sudah rusak termasuk kasur.


Tap yang terpenting itu karena kasurnya terlalu berat, kalau tidak, mungkin mereka bertiga pasti akan membawa kasur dan pintu pulang.


Rose dan aku sedang mempelajari cara merobohkan geladak kapal, tiba-tiba naomi berlari datang menghampiri kami dan berkata bahwa dia menemukan pintu yang terkunci, ingin memintaku pergi untuk melihatnya.


Aku pergi melihatnya, di dalam gudang tempat menyimpan barang, ada sebuah pintu kecil yang terkunci.


Gemboknya sudah berkarat dan sulit untuk dilepaskan.

__ADS_1


"Mungkinkah di dalam sini ada harta karun?" Wajah kecil Naomi berseri-seri, dia yang seperti itu terlihat sangat menggemaskan.


__ADS_2