
Bibir Bell sangat lembut dan harum.
Aku benar-benat sangat terkejut. Bagaimanapun aku tidak menyangka dia akan menciumku.
Apa maksudnya?
Dia menyukaiku?
Tepat ketika aku sedang berasumsi, tiba-tiba aku merasakan ada rasa manis wangi yang mengalir ke dalam tenggorokanku. Kemudian, aku merasa lebih berenergi dan seluruh rasa sakit ditubuhku menghilang.
Ketika Bell melepaskan aku, dia membasuh bibirnya, “Aku sudah membantu kamu mengembalikan energi kamu. Cepat bawa wanita kamu pergi. Para burung gagak ini sepertinya datang mencariku.”
“Jaga baik-baik orang suku aku.” Bell menatapku.
Bell menarik tumbuhan merambat dan menjadikannya sebagai cambuk. Begitu suara cambuk terdengar, seekor burung gagak terjatuh di tanah.
Lalu dia naik ke atas punggung badak dan berlari menuju luar rawa-rawa.
Sekelompok burung gagak terbang dari bawah dan sangat berisik.
Burung gagak berputar di atas kepala kami dan menyatu dengan malam yang gelap. Membuat kami tidak dapat melihat apapun.
Terkadang ada bulu yang lepas dan terjatuh di tubuh kami. Membuat kami ketakutan hingga berteriak.
__ADS_1
“Aaaahhh, kenapa begitu banyak burung gagak!” Rose ketakutan kemudian memeluk leher aku.
Aku segera menyalakan api. Setelah menyalakan api, para burung gagak itu juga langsung menyadari keberadaan kami.
Rata-rata burung gagak sudah pergi mengejar Bell, tetapi masih ada beberapa burung gagak yang menatap kami.
Kaakaakaa…burung gagak terbang turun ke bawah dan mencakar kita dengan cakarannya.
“AAHHH!”
Kedua wanita itu bersembunyi di belakangku sambil berteriak kencang. Aku memegang api sambil mengayunkannya ke depan dan ke belakang. Tetapi gagak tersebut berhasil meraih lenganku, membuatku tercakar dan berdarah.
“Cepat lari!” Aku menarik kedua tangan mereka dan berlari ke arah perkemahan yang rusak dan lama.
Burung gagak terus berusaha mengejar kami.
“Kenapa burung gagak masih terus mengejar kita?” teriak Naomi.
Aku juga tidak tahu mengapa burung gagak terus mengejarku.
Satu dua burung gagak masih sangat mudah untuk dibunuh, tetapi jika jumlahnya semakin banyak, itu akan sangat merepotkan.
Saat ini sudah ada belasan burung gagak yang mengejar kami, menggunakan cakaran mereka untuk menarik rambut kami dan mencakar kulit kepala…
__ADS_1
“Rambutku!” teriak Rose. Rambutnya menjadi berantakan karena ditarik oleh burung gagak.
Aku membawa mereka berlari ke depan pohon besar dan punggung membelakangi pohon besar. Aku berdiri di depan untuk mengayunkan api.
Para burung gagak ini takut api. Ada beberapa burung yang tidak sempat menghindar langsung tergeletak di tanah dan tidak bisa bangkit kembali karena tubuhnya terbakar.
Kami bertiga bersembunyi dari burung gagak yang ada di langit dan berjalan menuju tenda.
Aku juga kesulitan untuk mengenali jalan di malam hari. Aku hanya bisa mengingat arahnya secara kasar, tetapi perkemahannya ada di sebelah, jadi cukup ikuti saja.
“Sepertinya burung gagak sudah pergi.” Teriak Naomi.
Aku mendongakkan kepala untuk melihat.
Burung gagal di atas kepala kami telah menuju ke arah rawa-rawa.
Di bawah langit malam, sekelompok bayangan hitam berkumpul di udara ke arah rawa, lalu melompat turun dan terbang lagi.
Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
“Nyalakan api dulu untuk melihat luka.” Ujarku.
“Bahuku sangat sakit. Kamu coba bantu aku lihat apakah ada luka.” Naomi berjalan mendekat sambil berbicara dan melihatku.
__ADS_1