
Aku pikir dia akan menyalahkanku, lalu mengatakan 'jangan mendekat...' atau sesuatu yang menyalahkanku seperti itu.
Atau memarahiku, 'Kamu bajingan', kemudian mencari kebenaran, entah dia akan memukulku atau langsung melarikan diri.
Aku sudah siap dipukuli olehnya.
Meskipun itu tidak disengaja, tapi bagaimanapun...
Lalu, aku berpikir dalam hati, jika dia akan memukul saya, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau.
"Ka...kamu mengenalku?"
"Siapa aku?"
"Ini tempat apa?"
Dia menatapku dengan tatapan bingung, ekspresinya kosong dan tidak terlihat seperti sedang berpura-pura.
...
"Amnesia?"
Patricia menatapku dengan bingung, "Bagaimana mungkin? Apakah dia berbohong kepada kita?"
“Ssst, kecilkan suaramu.” Aku menunjuk wanita cantik yang kehilangan ingatannya dan meminta Patricia untuk berbicara lebih pelan.
"Dia sepertinya mengerti apa yang kamu katakan, kecilkan suaramu," kataku.
__ADS_1
"Apakah dia benar-benar amnesia?” Sherly juga datang dan berbisik, "Hati-hati, bisa jadi dia berbohong padamu. Bagaimanapun, kamu yang sudah melecehkannya, mungkin dia terlalu takut jadi wajar saja jika dia membohongimu.”
“Maksudmu apa melecehkan?” kataku sambil menatap mereka berdua.
Keduanya memasang ekspresi 'siapa yang percaya padamu?'.
“Jika itu bukan karena tidak sengaja, sejak awal aku pasti akan melecehkan kalian.” Aku menatap mereka sambil menunjuk ke arah mereka.
Kedua gadis itu memalingkan wajah sinis mereka kepadaku. Lalu menatapku dengan sikap ‘jika kamu punya nyali, maka cobalah, lihat bagaimana aku akan menghabisimu.’
Bagaimanapun, tidak bisa membiarkan wanita cantik yang berhubungan intim denganku begitu saja.
"Kamu masih ingat apa?" tanyaku padanya, "Apakah kamu ingat namamu?"
Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya, matanya terlihat oleng, "Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apa-apa."
"Aku tertidur sangat lama. Begitu terbangun aku menyadari diriku berbaring di tanah. Aku tidak mengenal kalian semua. Aku sangat takut, jadi aku kabur ke pantai,” ujarnya begitu dia berpikir sejenak.
Wanita cantik itu menatapku dan tiba-tiba berkata, "Kenapa ditubuhmu ada aromaku... Apakah kamu mengenaliku?"
Aromamu... Tiba-tiba aku merasa bersalah. Setelah berhubungan intim, aroma tubuhnya menempel ditubuhku...
Kalau begitu, seharusnya di tubuhku juga ada aroma Bell...
“Kenapa kamu diam saja? Dia sedang bertanya padamu.” Ekspresi wajah Patricia terlihat seperti ingin menonton dan mencubitku beberapa kali, “Kamu yang membawanya ke sini, jadi kamu harus mengurusnya.”
Aku melihat wanita cantik ini dan berpikir apakah aku harus mengarang cerita untuknya? Tiba-tiba, aku melihat sepotong batu giok tergantung di lehernya.
__ADS_1
Aku mengulurkan tangan dan mengamati sepotong batu giok tersebut. Ada tulisan 'I' terukir di atasnya.
“Apakah ini milikku? Kenapa ada di aku?” wanita cantik ini memiringkan kepalanya dan menatapku.
Aku mengenali kata 'I', lalu menatapnya dan berkata, "Ini namamu. Mamamu ada huruf I nya'."
"Tubuhmu seputih dan selembut awan, sebut saja nama kamu Iriata!"
"I… Iriata..." Iriata menatapku, lalu mengangguk sambil tersenyum, "Aku sangat menyukai nama ini."
“Eh…bagaimana kamu tahu bahwa tubuh orang ini putih dan lembut seperti awan.” Patricia menendangku, “Kamu bahkan memberikan dia nama.”
"Aku sangat menyukai nama ini. Iriata, mulai sekarang namaku Iriata,” Iriata menatapku dan tersenyum, "Aku bisa merasakan bahwa kamu dan aku memiliki hubungan yang dalam..."
Tentu saja ada hubungan yang mendalam ...
Aku bergumam pelan, kemudian menatap Iriata dan tersenyum, "Jangan terlalu banyak berpikir, aku akan menjagamu. Kamu lapar tidak? Aku akan mencarikanmu sesuatu untuk dimakan."
“Um!” Iriata mengangguk sambil tersenyum.
Patricia menatapku dengan mata terbelalak dan meraih lenganku dengan kesal, "Aku lapar, tapi kamu tidak mencarikan makanan untukku. Kenapa kamu mencari makanan untuknya?”
"Heh! Kalian laki-laki semua sama saja, begitu ketemu yang baru yang lama dibuang!"
"Cemburu?" Aku menatapnya dan tertawa, "Kamu lihat dulu hubungan dia denganku. Kamu punya hubungan apa denganku?”
"Dia pernah tidur denganku, memangnya kamu pernah?"
__ADS_1
“Kenapa tidak… kamu dan aku partner!” Patricia menatapku dengan kesal.
“Sudah, ayo pergi, di dalam hutan baru ada buah-buahan. Di pinggir pantai aku mana bisa mencari makanan untuk kalian. Tadi aku hanya basa-basi saja.” Aku tersenyum sambil mengusap kepala Patricia.