365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Minum Darah Siapa?


__ADS_3

Langit pada malam hari sangat gelap. Kedua wanita itu bersandar di pelukanku karena ketakutan. Mereka melihat sekitar yang sangat gelap dan bertanya padaku, “Tempat apa ini?”


Aku mengamati sekelilingku secara sekilas. Bentuk cabang-cabang di depan sangat aneh dan ada aroma bau busuk di udara. Di atas pohon seperti ada sosok orang yang bergelantungan…


Sepertinya ini adalah rawa-rawa?


“Ah! Di bawah pohon ada orang yang sedang melihatku!” teriak Naomi lalu berbalik badan memelukku.


Parahnya karena tenaga dia yang sangat kuat, pelukannya ini hampir saja membuatku terjatuh dari punggung harimau.


Aku segera mengulurkan tangan untuk menangkap pinggangnya dan memeluknya untuk menyeimbangkan tubuhnya, ”Itu bukan orang, itu pohon.”


“Ini sepertinya rawa-rawa, bentuk pohon memang seperti ini.” Aku menepuk-nepuknya dengan maksud untuk menenangkan dirinya. Namun, karena aku memeluk dia dari belakang, jadi begitu aku menepuk dia, tak sengaja menepuk bagian bola…


Tubuh wanita itu sedikit gemetaran namun, dia tidak enak untuk mendepak tanganku.


Aku juga sangat menikmati dan membiarkan tanganku tetap di sana.


“Ini adalah bagian pinggir rawa-rawa. Sampai di sini sudah aman.” Kata Bell.


Dia menatapku dan berkata, “Istirahatlah sebentar.”


“Ahh, oke.” Aku melepaskan tanganku dan menepuk mereka berdua. Kemudian, melompat turun dan menggendong mereka.


“Bagian dalam rawa adalah perkemahan kami. Tapi suku lain tidak boleh masuk. Jadi, kita berpisah di sini saja.” Bell berbicara sambil menatapku, “Nanti aku akan mengantar kalian ke tempat perkemahan suku lain. Kalian bisa melewati malam di sana.”

__ADS_1


Sepertinya yang dia maksud adalah perkemahan tim Anna.


“Oke, terima kasih.” Aku berterima kasih padanya.


“Kalian berdua berbicara apa?” Rose bertanya padaku.


Aku baru saja kepikiran bahwa mereka berdua sama sekali tidak mengerti perkataan Bell.


“Apakah kamu masih ada makanan yang bisa membuat manusia mengerti bahasamu?” Tanyaku pada Bell.


Bell menggelengkan kepala, “Itu sangat berharga. Aku sudah tidak ada.”


“Baiklah.” Aku menganggukkan kepala. Kemudian, melihat kembali peri wanita cantik ini, “Bisakah kamu menceritakan kepadaku tentang kalian? Orang yang kamu bicarakan…dia kurang lebih sama tinggi dengan kamu. Postur tubuhnya juga sangat bagus. Dia memakai penutup mata dan ujung matanya ada tahi lalat…”


“Sekarang dia ada di mana?” Bell bertanya balik padaku, “Dia sangat penting bagiku, aku yang tidak menjaganya dengan baik.”


“Iya. Kondisi ini adalah mati suri. Dengan begitu, dia baru bisa menghindari pencarian mereka.” Kata Bell sambil menatapku.


“Apakah kamu bisa…” Bell ragu-ragu dan menatapku, “Kamu kelihatannya masih bisa dipercaya.”


“Kamu bawa ini pulang dan beri dia makan. Seharusnya dia akan segera sadar.” Ujar Bell sambil menatapku.


“Nanti aku akan mencari kalian.” Katanya sambil menyerahkan sebuah Mutiara kepadaku.


Aku melihat mutiara ini, warnanya hijau, seperti berlian hijau. Tetapi jika dipegang tidak terlalu keras, sedikit mirip dengan buah suatu tanaman.

__ADS_1


“Lalu aku harus memanggilnya apa? Dia juga belum tentu percaya padaku.” Aku menatapnya.


Wajah dan postur tubuh Bell adalah tipikal yang aku suka. Jika bisa berhubungan dengan dia, aku akan sangat senang.


Tapi mengingat kemampuan peri di cerita legenda…misal, mengendalikan tanaman, binatang dan memanah handal, aku sedikit takut.


Intinya karena aku tidak bisa menang dari mereka…


“Tidak apa-apa, kamu harus menggunakan darah untuk mengaktifkan kemampuan buah kehidupan. Kamu hanya bisa menggunakan buah kehidupan dengan meneteskan darah.” Bell menatapku.


“Darah?” Aku menatapnya.


“Iya.” Ujarnya.


“Darah siapa?” tanyaku.


“Darah siapa saja boleh.” Bell menatapku, sepertinya ada sesuatu yang masih ingin dia katakan.


Belum selesai dia berbicara, tiba-tiba ada beberapa suara burung gagak berteriak.


Burung gagak?


Sudah begitu lama, pertama kalinya aku mendengar suara burung gagak.


Raut wajah Bell berubah, “Gawat, mereka menemukan aku. Kalian cepat lari!”

__ADS_1


Dia menatapku, lalu tiba-tiba maju dan mencium bibirku.


__ADS_2