
Aku melihat ada noda darah di tanah, kemudian melihat pria berbadan besar tersebut membawa dua ekor kelinci ditangannya. Pria tersebut ternyata mampu menangkap kelinci!
Tunggu, apakah itu busur panah?
Aku mengerutkan kening, menatap pria besar itu dengan busur di punggungnya!
Busur yang sangat tebal, dapat menyebabkan kematian yang sangat mengerikan!
Kedua orang ini pasti pernah mengikuti pelatihan professional. Mereka mampu membuat busur dengan tangan kosong! Lalu menggunakan batu sebagai pisau untuk memotong kelinci.
Bahaya, dua orang ini sangat berbahaya.
"Agung dari mana kamu menangkap kelinci! Kamu tahu saja aku sangat lapar.” Kata Zhafira dengan wajah penuh kegembiaraan.
"Bu Direktur Zhafira." Pria bernama Agung Prakasa ini berdiri dan memberi hormat kepada Zhafira. “Bu Zhafira, untung Anda baik-baik saja.”
"Agung, apakah kamu sudah menghubungi suamiku?! Kapan dia akan mengirim tim penyelamat untuk menyelamatkanku!" Zhafira bertanya.
Ekspresi wajah Agung bingung: "Bu Zhafira, telepon satelit sudah tidak dapat digunakan."
"Apa ..." Zhafira jatuh ke tanah dengan putus asa.
“Bu Zhafira, kamu pasti lapar, aku akan menyalakan api dan memanggang kelinci.” Agung tersenyum, tatapan matanya penuh dengan nafsu. Kemudian pandangannya beralih kepada Patricia, dan semakin membara, “Ini……Nona Patricia!”
“Aku adalah penggemarmu.” Agung memandang Patricia dengan terkejut.
Patricia dengan sopan tersenyum, "Terima kasih."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, di pulau ini kita semua adalah teman. Nanti ketika api sudah menyala, Anda dan Bu Zhafira sudah dapat memakan kelinci ini. “ Agung menunjuk ke arah kelinci yang kulitnya sudah dilepas.
Mata Patricia membelalak ketika mendengar bahwa dia bisa memakan daging.
"Eh... kamu cepat pergi bikin api.” Zhafira berbalik badan dan melirikku.
"Aku punya nama." Aku menantapnya. Begitu dia sudah menemukan orang lain yang dapat diandalkan, dia mulai mencari masalah denganku.
"Siapa yang peduli siapa namamu." Zhafira mengerutkan kening, "Cepat nyalakan api."
Aku tidak mempedulikannya. Aku berjalan menuju tempat api unggun dan menyalakannya.
Segera, aroma daging kelinci mulai tercium.
Di pulau terpencil, kelinci adalah santapan mewah!
Patricia tidak tega melihatku terlihat seperti orang yang kelaparan, lalu membagikan sepotong daging kecil untukku, “Makanlah.”
Aku mengangguk, baru saja aku akan memakannya.
Zhafira menyambar daging itu, "Pat, tidak perlu peduli pada bajingan ini!”
"Agung, jangan biarkan pria ini mendekatiku!"
Aku dengan bingung memandang Zhafira, sama sekali tidak mengerti masalah apa yang telah aku perbuat padanya.
Meskipun aku mencoba mencari kesempatan padanya, tapi bagaimana pun juga aku yang telah menyelamatkan hidupnya.
__ADS_1
Tidak masalah jika tidak tahu berbalas budi, tetapi kenapa dia terus-terusan mencari masalah padaku?
“Bu Zhafira, bagaimana pun dia yang telah menyelamatkan kita. Meskipun orang ini tidak ada apa-apanya, kita tetap harus berbagi makanan padanya.” Patricia masih membela aku.
Tapi apa maksud dia dengan mengatakan bahwa aku tidak ada apa-apanya?
Aku memang suka mencari kesempatan, tapi aku tidak memaksa mereka, bukan?
“Kita semua adalah orang yang berhasil selamat, jadi alangkah baiknya jika kita bisa saling membantu.” Patricia berkata lagi.
"Iya. Kamu benar. " Zhafira mengangguk dan melirikku, lalu melemparkan kaki kelinci yang baru disantapnya kepadaku.
Dia melempar sisa daging kaki kelinci yang tak banyak itu ke tanah, membuat daging tersebut penuh dengan tanah.
Nada suaranya seperti sedang memberi makan anjing.
"Nih hadiah untukmu, makanlah."
Bagaimana pun aku adalah seorang pria, apakah aku harus mengambil sisa makanan orang lain yang dibuang ke tanah untuk dimakan? Mati kelaparan pun tidak akan aku makan!
Aku meliriknya, "Seharusnya aku membiarkan monyet-monyet itu menangkapmu!"
"Kamu, coba ulangi kembali perkataanmu!" Zhafira segera meledak.
"Kalian makanlah pelan-pelan, aku makan pisang saja!" Aku melemparkan kembali tulang sisaan tadi, dan memakan pisang.
Aroma wangi daging membuatku susah untuk menelan pisang ini, sungguh, sama sekali tidak ada rasa apapun.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian mengambil sebatang pohon kecil, berjalan ke pintu masuk goa, mencari arah, dan menggambar sesuatu di tanah.