365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Apakah Semua Pria Begitu Bebas?


__ADS_3

"Oke, minumlah air." Aku menatapnya dan memberikan tabung bambu yang berisi air.


"Terima kasih kak." Satria mengucapkan terima kasih, "Terima kasih juga… untuk dokter cantik ini."


Dia menatap Anna, matanya berbinar, lalu dia melihat Patricia dan yang lainnya, matanya seperti serigala.


"Jangan lihat lagi." Aku mengingatkannya.


"Oh, maafkan aku." Satria menatap Anna, "Kamu sangat cantik."


"Memang sangat cantik." Aku menatapnya dan tersenyum, "Perkemahan ini milik kami, dan mereka adalah… teman-temanku."


Seketika Satria mengerti apa yang aku maksud, dan langsung tersenyum, "Maaf, maaf."


Lukanya sangat sakit, sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali, hanya bisa bersandar ke dinding untuk beristirahat.


"Dia memakan semua daging rusa kering kita." Naomi berjalan mendekat dan berbisik padaku.


"Aku mengerti." Aku mengangguk, "Kalian pergi ke sana dulu dan pindahkan barang-barangnya ke sini."


“Apakah Anda Nona Patricia?” Satria melihat Patricia, “Aku adalah penggemar Anda, semua karya Anda aku sudah melihatnya.“

__ADS_1


“Terima kasih.” Patricia tersenyum sopan, “Apakah benar Sherly baik-baik saja?”


"Bu Sherly? Dia seharusnya baik-baik saja, ketika aku melarikan diri, aku melihat sekelompok manusia primitif membawanya pergi, aku tidak tahu dibawa ke mana," kata Satria.


Kata-katanya langsung membuat Patricia pucat dan hampir pingsan!


Aku segera memeluk Patricia untuk menahannya, sambil memeluk Patricia aku melihat Satria, “Kamu beristirahatlah, jangan sembarangan berbicara, dan juga jangan sembarangan melihat.”


Satria menatapku dengan sedikit iri, kemudian mengangguk, memejamkan mata dan beristirahat.


Tidak tahu kenapa, ketika aku melihat pramugara ini, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tatapan matanya saat melihat kami juga sangat aneh, seperti melihat mangsa di klub malam.


Tentu saja, aku juga pria normal, aku juga menyukai wanita cantik. Biasanya aku juga sering mencari keuntungan dari mereka, tetapi aku tetap menghormati mereka.


Sedangkan Satria, jelas bukan orang seperti itu.


Dari cara dia memandang Patricia, aku bisa melihat bahwa dia adalah tipe pria dengan niat tidak baik pada wanita.


Aku membawa Patricia ke samping tenda, kebetulan Elizabeth dan yang lainnya sudah memindahkan meja kursi masuk ke dalam dan kami pun duduk.


“Tidak apa-apa, Sherly pasti baik-baik saja.” Aku menghiburnya.

__ADS_1


“Bagaimana bisa baik-baik saja? Apakah kamu tidak mendengar perkataannya? Sherly ditangkap oleh para manusia primitif, habislah, jika terjadi sesuatu pada Sherly, aku juga tidak ingin hidup lagi.” Patricia menangis sambil menutup wajahnya, “Lebih baik hari itu biarkan aku mati tenggelam, untuk apa kamu menyelamatkanku!”


Sambil berbicara, dia memukulku.


"Cukup!" Aku menatapnya dan berkata, "Apa yang kamu tangisi? Sudah aku katakan tidak apa-apa ya berarti tidak apa-apa. Tunggu beberapa hari, jika luka dia sudah membaik, minta dia bawa kita ke sana untuk menyelamatkan orang.”


"Sherly kalau dalam bahaya pasti sudah di mati dibunuh oleh para manusia primitif, selama dia masih hidup itu berarti dia baik-baik saja.”


Setelah mendengar perkataanku, Patricia berhenti menangis.


"Apakah kamu benar-benar ingin dia tinggal di perkemahan ini?" Elizabeth menatapku, "Tidak boleh, kami belum setuju. Membiarkanmu tinggal di sini saja sudah merupakan perlakuan khusus. Kamu tidak boleh membiarkan orang lain bergabung."


"Betul." Beberapa gadis cantik yang lainnya juga mengangguk.


“Coba kamu pikirkan kembali, akan lebih baik jika hanya ada satu pria di perkemahan ini.” Anna menatapku, “Dengan begini kamu aman, kami juga aman, dan tidak perlu repot karena banyak hal.” Aku mengerti apa yang dia maksud.


Jika dia tidak berbohong padaku mengenai serbuk sari beracun yang ada di pulau ini hingga bisa meningkatkan hasrat ***** wanita. Maka, memang sebuah hal yang baik jika di perkemahan hanya ada aku satu-satunya seorang pria.


Tapi aku juga tidak boleh menelantarkannya begitu saja, apalagi dia berasal dari satu negara yang sama denganku. Hati nuraniku merasa tidak enak jika aku tidak mengulurkan tangan untuk membantu orang-orang yang dalam bahaya.


“Kita biarkan dia sembuhkan luka yang ada pada tubuhnya dulu, baru nanti kita bicarakan kembali.” Setelah aku berpikir sejenak, “Di pulau ini seharusnya masih ada orang lain yang masih hidup. Kelak jika menemukan mereka, kita bisa menyuruh mereka untuk membentuk sebuah perkemahan baru, lalu kita bergabung untuk melawan para manusia primitif itu.”

__ADS_1


__ADS_2