365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Menyelinap!


__ADS_3

Kapal terdampar di pantai air dangkal, pintu kapal ditutup dengan sangat rapat. Tangga gantung disimpan kembali, jadi sama sekali tidak perlu takut binatang buas, manusia primitif, atau orang lain akan masuk, karena mereka sama sekali tidak dapat memanjat.


Tapi meski orang lain tidak bisa memanjatnya, tapi aku dapat memanjatnya.


Aku menghabiskan sisa setengah makanan kaleng. Setelah energi terpenuhi, aku menyelam dari dalam air dalam gelapnya malam, ketika melihat ke atas, ada sebuah tangga gantung yang terikat di sana. Aku mengeluarkan belati obsidian dan menjentikkannya dengan keras.


Ting, tali yang menggantung tangga sudah berhasil aku buka dan jatuh ke bawah.


Dengan mudah, aku memanjat tangga gantung.


Aku menyelinap masuk dari geladak dan mencoba berkonsentrasi, kemudian perlahan mengulurkan tanganku untuk membukanya.


Tiba-tiba, tanganku berhenti.


Di malam yang gelap, aku melihat seutas tali melilit pegangan pintu.


Melalui jendela, aku dapat melihat deretan lonceng tergantung di belakang pintu. Begitu pintu dibuka, lonceng akan berdenting dan membangunkan orang-orang di dalamnya.


Tampaknya orang-orang ini cukup waspada.


Tapi jebakan ini tidak bisa menghentikanku begitu saja, aku memotong talinya, lalu menjepitnya dengan tanganku. Setelah pintu terbuka, aku melepaskan tali itu.


Total di kapal ini ada lima orang jika dihitung dengan Agung.


Aku berjalan ke area tempat beristirahat staf kapal untuk mencari keberadaan Anna.

__ADS_1


Koridor yang gelap tanpa cahaya membuatku lebih mudah untuk menyelinap.


"Nona Pat, kamu pasti sudah tahu, si Gilang itu sudah mati dan kita terjebak di pulau ini. Jika kamu masih ingin hidup, lebih baik kamu bekerja sama lah dengan baik. Lagipula bagi kalian para artis, menemani tidur satu malam bukanlah masalah besar.”


"Kurasa kamu juga sering menggoda sutradara, kan?”


Aku mendengar suara Agung, dan pelan-pelan berjalan mendekat.


Di sebuah ruangan, Patricia terlihat tidak senang menghadapi Agung.


Agung mengulurkan tangannya mencubit dagu Patricia, "Benar-benar wajah yang sangat cantik, Sibolangit itu terlalu beruntung!"


Setelah mengucapkan kalimat ini, Agung meninggalkan ruangan.


Siapa sangka begitu pintu dibuka, bayangan hitam datang menghampiri!


Aku segera bereaksi, mengulurkan tanganku untuk menahannya, dan berteriak: "Patricia, ini aku."


Patricia langsung tercengang ketika mendengar suaraku, kemudian meletakkan kursi yang ada di tangannya.


Ternyata dia berhasil melepaskan diri dari tali dan hendak memukul orang dengan kursi.


Mendengar suaraku, Patricia jelas terkejut, "Kamu, bukankah kamu sudah mati!"


"Kata Agung kamu tidak sengaja jatuh dari tebing. Dia ingin menyelamatkanmu, tetapi dia terlambat."

__ADS_1


Aku menatap Patricia dan bertanya, "Kamu percaya?"


"Aku... awalnya aku tidak percaya, tapi kamu tidak kembali sepanjang malam." Patricia duduk di atas kasur dan berkata dengan sedih, "Aku benar-benar mengira kamu sudah mati."


Aku juga berjalan ke sana dan duduk.


Dalam kegelapan, aku duduk berdampingan dengan Patricia, dengan mencium aroma tubuhnya, suasana hatiku tiba-tiba menjadi tenang.


“Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanyaku.


Ruangannya terlalu gelap, jadi aku tidak bisa melihat wajah Patricia, tapi aku bisa merasakan kalau dia gugup.


“Tadi malam, ketika kami sedang tidur, tiba-tiba kami melihat ada sekelompok manusia primitif menyerang perkemahan, Agung dan pria besar itu bekerja sama membunuh satu manusia primitif, setelah itu kami berpisah.” Patricia berbisik, “Agung menarikku pergi, sedangkan Bu Zhafira mengikuti pria besar itu.”


“Kemudian, Aku dan Agung bertemu dengan pria Jepang itu. Pria jepang itu ingin… ingin meniduriku, jadi Agung mencari kesempatan dengan menyerahkan aku kepadanya, lalu membuka syarat untuk bisa bergabung dengan perkemahan mereka.” Patricia mendekatiku dan menceritakan seluruh keluhannya.


“Aku sangat takut, aku sampai ingin bunuh diri.” Patricia menatapku dengan sedih.


"Lalu kamu... apakah kamu... oleh mereka..." tanyaku.


"Tidak, aku berkata bahwa jika mereka berani menyentuhku, aku akan bunuh diri, maka dari itu mereka mengurungku di kamar dan tidak memberiku makanan, mereka mencoba memaksaku untuk menyerah." Patricia berkata.


Aku menarik napas lega, melingkarkan tanganku di bahu Patricia, dan menepuk lembut, "Jangan khawatir, aku akan menyelamatkanmu."


Um? Sentuhan ini enak juga, aku meletakkan tanganku di bahunya, terasa lembut dan lentur.

__ADS_1


__ADS_2